Lakon-Lakon Persona

Zya Zura
Chapter #5

03:「Dari Sebuah Kabar」

Tujuh puluh hari yang tenang juga menenggelamkan. Tidak ada masalah berarti, meski di awal Ayla sempat terkendala beradaptasi. Ia senang karena artinya sejauh ini semuanya baik-baik saja. Meski sering merasa lelah dan kewalahan, rasa penasaran dan antusiasmenya pada dunia yang dulu hanya bisa dilihat dari kejauhan itu tetap besar.

Hal terbaiknya tentu saja persahabatannya dengan Rhea, Hazel, Galen, Azran, Saka, dan Isvari. Mungkin karena ini adalah pertama kalinya ia memiliki teman sebaya, waktu yang dihabiskan bersama mereka terasa sangat berharga. Ia berharap kalau semuanya tetap baik-baik saja.

Namun, Rayn bilang kondisi tenang itu bisa jadi menyimpan bahaya tersembunyi seperti arus balik di pesisir pantai. Di balik permukaannya yang tenang dan tak memiliki ombak besar, wilayah arus balik sangat berbahaya dan mematikan. Fenomena itu terjadi karena pertemuan dua arus sejajar perairan yang surut dan menabrak dasar pantai, lalu berbalik dengan cepat ke tengah laut. Akibatnya, orang yang masuk ke sana bisa langsung tertarik ke tengah laut dan tenggelam.

Ayla memijit dahinya, kakaknya memang suka membuatnya memikirkan hal yang memusingkan. Namun seandainya peringatan kakaknya benar, ia harus melakukan apa untuk mengatasinya?

"La, kenapa melamun?"

"Eh, iya?"

Isvari tersenyum tipis. "Yang lain udah pada setuju, weekend ini kita jadi kamping ke Gunung Putri. Kamu ikut gak?"

Ayla menggigit bibir bawahnya. Ia tentu ingin ikut sebenarnya.

"Masa gak ikut sih, La? Kapan lagi bisa kamping dan jalan-jalan gratis ditraktir Nona Zoe Hazelynn yang lagi ultah," timbrung Saka dengan wajah semringah. "Apalagi kalau liburnya lama, mungkin kita bisa jalan-jalan ke luar pulau!"

"Dih, emang elu diajak?" timpal Galen tanpa mengalihkan pandangan dari gadgetnya. Ia dan Rhea sedang mabar gim setelah mereka sepakat memutuskan tempat liburan nanti.

"Ya, pastilah. Iya kan, Bun?"

Gadis berkacamata yang sedang membaca buku itu menoleh. Ia menyeringai kecil. "Enggak."

Mereka semua tertawa, kecuali Saka tentunya.

"Gak ada Dedek, gak bakal seru pokoknya," sungutnya sambil memasang wajah kesal yang dibuat-buat.

"Pokoknya yang telat atau lelet gak boleh ikut."

Hazel mengibaskan tangan lalu berjalan ke perpustakaan di belakang mereka untuk meminjam buku lain.

"Jadi ikut, 'kan, La?" tanya Isvari lagi.

"Eh, itu ..."

Ayla refleks menyentuh liontinnya. Ia memikirkan berbagai kemungkinan jika dirinya ikut bersama mereka.

"Kakakmu, ya?"

Ayla mengangguk. Itu salah satu alasannya sulit ikut, Rayn mungkin tidak mengizinkan.

"Itu mah gampang, ada Bang Azran Zaman," timpal Saka sambil menepuk-nepuk bahu pemuda di sampingnya.

Azran hampir tersedak teh yang diminumnya. "Eh, jangan gue. Rhea aja atau ... Galen. Iya Galen, kan mereka tetanggaan."

"Rere itu anaknya susah pisan diajak kerja sama, dia keknya lebih suka pergelutan daripada mewujudkan Pancasila keempat dalam kehidupan bermasyarakat. Kalau Galen, dia keknya bakal sawan duluan sebelum ngomong sama abangnya Ayla."

Rhea dan Galen kompak mendongak lalu mendelik. Si pembicara balas tersenyum tanpa dosa sambil mengangkat dua jarinya.

"Lo aja kalau gitu, Ka."

"Kagak bisa, gue punya banyak urusan sepulang sekolah. Lagian ya, lo kan bisa sekalian ngobrol akrab sama abangnya Ayla biar dapat restu."

Saka tertawa diikuti Galen yang menyeringai dan Isvari yang menutup mulutnya, hanya Rhea yang tidak bereaksi apa pun. Azran menipiskan bibir lalu mendesah lelah, sementara Ayla sepertinya tidak mendengarkan karena terlalu fokus dengan pemikirannya.


___


Tanisha Arzum memperhatikan gerombolan yang sedang berkumpul di taman dekat perpustakaan itu, secara diam-diam tentu saja. Ia melakukannya karena harga dirinya terlampau tinggi, meski sebagian besar siswa lain sengaja memperhatikan atau sekadar melirik mereka secara terang-terangan.

Lagi pula, mereka memang siswa yang populer: si ratu sekolah yang dikagumi sekaligus dibenci banyak orang, si atlet sekolah yang tampan, si vokalis idaman para gadis, si badut serba bisa, si bintang sekolah baru, si tomboi yang karismatik, dan si gadis manis yang misterius. Mereka komposisi yang sempurna untuk membuat siswa biasa berharap ikut dalam lingkaran pertemanan mereka.

Namun, gadis berambut ikal itu tahu apa yang ada di balik wajah sebagian dari mereka. Sebab, ia pernah ada di sana, tetapi ia tidak ingin mengingat lagi masa lalu itu. Meskipun ia selalu tertarik pada rahasia, berita, gosip, rumor, dan semacamnya, ia tidak menyebarkannya secara sembarangan. Tanisha punya target atau setidaknya orang lain yang punya dan ia hanya menjalankan tugasnya sebagai penyiar. Mungkin itulah kenapa tiba-tiba ada sebuah akun misterius memintanya untuk menyebarkan sesuatu lagi tentang Zoe Hazelynn.

Sebenarnya itu bukan hal yang aneh, tetapi orang itu menawarinya uang yang banyak—sangat banyak untuk desas-desus yang mungkin sudah diperbincangkan siswa lain. Namun, tentu saja kekuatannya tidak sebanding dengan mereka. Sekali ia mengungkitnya dalam akun khususnya, sebuah bom akan meledak dan menghancurkan si objek.

Sayangnya Zoe Hazelynn tidak serapuh itu, terlebih ia mempunyai tiga tameng baru yang berada di sisinya. Namun, Tanisha tidak bisa berhenti karena ia sedang membutuhkan uang. Segera dan secepatnya, meski sejujurnya ia tidak ingin berurusan dengan gadis itu lagi.


To: younknownme

Deal. Night will be right time to blow it, right?


Tanisha mengrimkan jawabannya pada akun tersebut.


___


beropiniuntuxxxxx

Tiga murid baru sekaligus dan tiga-tiganya langsung lengket sama (dia) kayak besi sama magnet. Semoga bukan konspirasi ya T.T


338 Suka

514 Komentar


○ userxxxxxx

Kinda sus :v

○ nothatwomen

Mau spill nama tapi udah pada tau

○ duitisdabest

The power of cuan lah :D

Lihat selengkapnya