Lakon-Lakon Persona

Zya Zura
Chapter #6

04:「Rona Interferensi」

Ada dua orang siswi dan tiga orang siswa di sana. Tiga di antara mereka sedang merokok sementara sisanya tampak merekam video bersama. Ayla pikir jika tindakan mereka cukup berani karena meski mereka ada di salah satu bagian sekolah yang terpencil dan sempit, tetapi sesekali ada guru piket berkeliaran dan memeriksa sudut sekolah yang tak terjangkau kamera pengawas.

Sekolahnya memang cukup ketat soal aturan dan itu membuatnya heran saat ada yang masih nekat melanggarnya. Namun, ia datang ke sana bukan untuk menjadi penegak aturan semacamnya. Ia datang mencari Tanisha. Di sanalah gadis ikal itu sekarang—salah satu orang yang sedang merokok.

Tidak sulit bagi Ayla untuk memprediksi tempat mana saja kira-kira gadis itu berada saat jam istirahat. Bagaimana pun, ia merasa harus segera bicara dengan Tanisha setelah gosip yang disebarkannya semalam. Ia berniat menghentikannya karena khawatir dengan kondisi Hazel. Namun, pembicaraan mereka tak mungkin berjalan baik jika ada pihak lain yang terlibat. Ia pun memutuskan untuk mundur dan mencari waktu lain yang lebih tepat.

"Girl, sendiri aja."

Sepasang matanya sontak melebar, napasnya tertahan, dan tubuhnya kaku. Baru saja ia berbalik dan hendak melangkah sebelum sebuah suara mendadak mendahuluinya. Di belakang, terdengar beberapa langkah kaki yang mendekat beserta bisik-bisik mereka.

Ia membuang napas, mencoba tetap tenang. Pikirannya sudah penuh dengan segala macam kemungkinan yang akan terjadi beserta keuntungan dan kerugiannya. Ia pun berusaha fokus pada situasinya sekarang. Ia berdiri di balik penyangga salah satu tangki air yang berada di belakang dapur kantin sekolah. Kurang dari dua meter di samping, ada tembok tinggi yang berfungsi sebagai pagar.

Sementara itu, beberapa langkah di depannya terdapat pohon besar yang menutupi tangki-tangki yang menjajar. Jika ia melewati pohon itu, ia akan berada di area halaman belakang sekolah. Namun, jika ia berbalik dan menghadapi mereka, tidak ada jalan keluar karena ujung bangunan ini merapat ke pagar tembok di sampingnya.

Ayla mengembuskan napas, ia memang terlalu banyak berpikir. Seharusnya ia lari saja dan mengabaikan mereka. Namun, kehadiran mereka terasa tinggal beberapa langkah lagi. Ia bahkan sudah bisa mencium bau rokok bercampur parfum dan bau menyengat lain yang tidak dikenalnya.

"So, what are you doing here, Sweetie?"

Masih suara bariton serak yang tadi, pasti orang yang sama, pikirnya.

"Dia bisa bahasa Indonesia, Bego."

Suara perempuan, apakah itu Tanisha?

Si pemilik suara bariton yang serak itu terkekeh. "C'mon, gue kan cuma mau tes bahasa Inggris gue."

"Dih, mentang-mentang nilai Inggris lo paling gede di antara kita."

Ayla tidak bisa terus membelakangi mereka seperti ini. Kakaknya akan memarahinya jika ia terintimidasi hanya karena hal seperti ini. Akhirnya ia memberanikan diri untuk berbalik dengan memasang wajah yang tenang.

Seorang siswa bertubuh tinggi besar dengan seragam dan rambut berantakan bersiul. Tampaknya ia pemilik suara bariton serak tadi.

"Wih, ternyata kalau dari deket makin cakep."

Siswa lain yang bertubuh pendek menyerobot dari belakang lalu mengulurkan tangan. "Hei, kenalin gue Sandi."

"Gue Devon," seru temannya yang bertubuh gemuk tak mau kalah.

"Please, diam dulu!"

Siswi berponi yang berada di antara mereka berseru marah. Ia mengibaskan rambut lalu melangkah dengan anggun mendekati Ayla.

"Anak buah Zoe Hazelynn ngapain ke sini?"

"Aku mau bicara sama Tanisha."

Gadis dengan riasan wajah cukup tebal itu mengangkat alis. "Tan, dia mau ngomong sama lo katanya."

Si gadis ikal yang sedang bersandar sambil memainkan asap rokoknya itu tidak bereaksi sedikit pun. Ia menatap malas ke arah Ayla lalu kembali mengisap rokoknya.

"Ngomong sekarang," ujarnya tak acuh.

"Bisa berdua?"

"Sayangnya gue sibuk. Lo bisa bicara sama mereka, nanti mereka yang sampein ke gue."

Tanisha menginjak puntung rokoknya lalu menjauh. Ia memakai earphone dan mulai sibuk dengan gadgetnya.

Ayla menghela napas, ia tahu ini tidak akan mudah apalagi dengan adanya teman-teman gadis itu. Tatapan mereka bahkan menunjukkan seakan dirinya adalah mangsa yang masuk ke sarang predator. Ia perlu memilih alternatif aman: pergi.

"Kalau begitu, permisi."

"Waktu istirahat masih ada, bisalah kita main dulu."

Si pemilik suara bariton serak itu tiba-tiba menarik lengan Ayla. Ia menyeringai saat gadis itu langsung menarik tangannya lalu menatap mereka dengan gentar. Ia menyukai itu, ia ingin melihatnya menangis.

"Dengar-dengar dia punya semacam fobia sentuhan. Apa ya namanya?" seringai si gadis berponi sambil memainkan rambutnya.

Siswa bertubuh gemuk yang mengaku bernama Devon tampak terkejut. "Wah, pantesan pakai sarung tangan terus. Gak gerah apa?"

"Eh, terus kalau dia disentuh atau menyentuh orang lain bakalan apa?" tanya yang mengaku bernama Sandi tadi.

"Cari tahulah kalau mau tahu."

Si gadis berponi menyeringai lebih lebar, apalagi saat temannya yang bertubuh tinggi besar melangkah mendekati Ayla diikuti dua temannya yang lain. Ayla refleks mundur sambil meremas baju seragamnya. Tangannya mulai gemetar, ia cemas karena belum pernah berada dalam posisi seperti ini sebelumnya.

"Eits, bercanda," seru Devon setelah berpura-pura akan memegang tangan Ayla dengan menggenggam udara di sampingnya.

Gerakan tipuan itu membuat Ayla terperanjat dan refleks menjauhkan tubuhnya. Mereka bertiga tertawa puas. Ia menggigit bibirnya dan terus berjalan mundur pelan.

Cemas berlebihan selalu membuat tubuhnya malafungsi, padahal ia bisa menendang atau memukul mereka. Mungkin alasan lainnya karena ia tak mau menyakiti siapa pun. Ia tidak suka membuat orang lain terluka. Namun, posisinya sedang terdesak sekarang. Mereka tidak akan berhenti mengganggunya sampai puas. Ia harus melakukan sesuatu, tetapi apa?

KRAK.

"Argghh!"

"Sori, gak sengaja, itu refleks."

Ayla masih menahan napas. Kejadian barusan berlangsung sangat cepat, hanya sekian detik. Ia mengerjap berkali-kali karena takut penglihatannya salah, tetapi Rhea benar-benar di sampingnya. Wajah gadis berambut pendek itu terangkat tinggi. Ia menatap mereka dengan tajam sambil melipat tangan di dada.

Lihat selengkapnya