Lakon-Lakon Persona

Zya Zura
Chapter #7

05:「Mekanisme Penyesuaian」

Kanigara 01. Tulisan itu terpampang di belakang baju futsal pemuda yang sedang berdiri di lantai dua itu. Sepasang matanya memandang tak berkedip ke arah parkiran, pada dua orang yang menaiki motor. Si gadis memakai helm, menggelung dan menyembunyikan rambut panjangnya yang memesona di dalamnya. Sejurus kemudian mereka pun lenyap meninggalkan wilayah sekolah.

Pemuda itu tidak bisa menahan seringaiannya saat teringat pertemuan mereka tadi. Wajah manisnya, rambut panjangnya, suara lembutnya, gerakannya yang kikuk, juga aroma yang membuatnya gemas itu. Selama ini, ia hanya bisa melihatnya dari kejauhan karena gadis itu selalu dikelilingi batu-batu penghalang.

Ia menggigit bibir. Adrenalinnya kembali berkobar setelah sekian lama. Gadis itu benar-benar seperti misteri atau teka-teki yang membuatnya penasaran. Meski untuk memecahkan dan mengungkapnya tak akan mudah, terutama dengan adanya batu-batu yang merintangi jalannya.

Sayangnya, itu membuatnya makin bergairah. Lagi pula Dipta Kanigara bukan orang yang akan menyerah dengan mudah. Ia menyukai angka satu bukan tanpa alasan. Ia nyaris selalu memenangkan apa pun yang diinginkannya, entah dengan cara benar entah sebaliknya.

Kegagalan adalah aib baginya, seperti Zoe Hazelynn yang tidak bisa digenggamnya. Namun, ia masih bisa membalikkan kegagalan itu dengan menghancurkannya lewat sahabatnya sendiri. Hanya saja, ia tak menyangka gadis itu masih bertahan hingga sekarang. Padahal ia pikir pembalasan itu akan membuatnya jatuh sejatuh-jatuhnya.

Ya, harus diakui kalau Zoe Hazelynn cukup tangguh dan tidak bisa diremehkan. Meskipun begitu, ia tak akan bisa menghentikannya dengan gertakan seperti tadi. Dipta sudah menyetel targetnya dan ia tidak akan melepaskannya. Bahkan ia sudah selangkah di depan—menyelinap saat Hazel dan anak buahnya lengah. Mereka tak akan menyangka dan ia akan menunggu waktu yang tepat untuk memberikan serangan kejutan.

Pemuda itu lalu mengambil gadget di saku celananya. Ia menghidupkan gadget itu lantas menelepon sebuah nama di daftar kontaknya. Sudut bibirnya otomatis tertarik. Panggilan itu dijawab.

"Hai, lagi apa?"

Seringaiannya melebar. Suara madu itu mengalun merdu dari panggilan teleponnya.


____


Petang mulai membentang saat sebuah mini bus berhenti di halaman rumah Ayla. Gadis yang baru bangun setengah jam lalu itu berkasak-kusuk panik mendengar suara teman-temannya turun. Semua barang bawaannya sudah siap, tetapi ia sendiri baru akan berganti baju setelah beres mandi dan salat.

Rayn yang mendengar keributan adiknya dari ruang tengah hanya berkacak pinggang. Ia mematikan kompor lalu berjalan ke arah pintu karena teman-teman Ayla sudah memanggil.

Saat ia membuka pintu, sudah ada empat orang yang berdiri di teras rumah. Wajah-wajah tak asing karena Ayla pernah mengenalkan mereka lewat foto. Meskipun begitu, ini adalah pertama kalinya ia bertemu mereka secara langsung.

"Silakan masuk dulu, Aylanya masih siap-siap."

Rayn berusaha tersenyum ramah—sesuatu yang langka dilakukannya. Namun untuk beberapa detik yang terasa lama, empat orang di depannya hanya bergeming. Mata elangnya berkedip cepat, berusaha menganalisis arti ekspresi mereka.

"Eh iya, Bang."

Jawaban telat itu berasal dari si pemuda jangkung berpakaian rapi. Ia menoyor kepala teman laki-lakinya dan mendorong dua gadis di depannya agar maju. Mereka semua tersenyum canggung lalu masuk ke dalam rumah dengan gerakan kaku.

Rayn kembali mengerjap, berusaha memproses apa yang terjadi. Mereka kenapa? Pemikirannya terputus karena sudut matanya menangkap seorang gadis berambut pendek yang berlari ke arahnya. Berbeda dengan empat tamunya barusan, gadis itu sangat acuh tak acuh.

"Ada Ayla?" tanyanya lurus.

"Silakan masuk dulu."

Gadis itu mengangguk lalu masuk dengan santai. Meskipun begitu, matanya menyapu tiap sudut ruangan dengan awas.

"Galen mana?" tanya Azran saat Rhea menundukkan diri di sofa samping mereka.

"Baru bangun."

"Euleuh, silaing mah kabiasaan," komentar Saka sambil menggelengkan kepala.

"Dia itu manusia atau lukisan hidup?"

Eh, mereka tidak salah dengar, 'kan? Namun, celetukan barusan sungguhan keluar dari Hazel. Gadis yang terkenal dingin itu kini menatap kagum si tuan rumah yang sedang mempersiapkan sesuatu untuk mereka. Pipinya tampak sedikit bersemu merah. Di sampingnya, Isvari bahkan sudah menangkup kedua pipinya, seakan ia sedang menonton aktor favoritnya secara langsung.

Azran menepuk dahi, nyaris tak percaya. Dua gadis yang dijuluki primadona sekolah mereka itu kini bertingkah tak jauh beda dengan remaja gadis lainnya. Ia bahkan yakin tak pernah melihat Hazel seperti ini sebelumnya, sedangkan Isvari hanya bersikap begini saat menonton idolanya lewat gadget.

Di sisi lain, Saka tidak bisa menahan tawa. Ia bahkan sempat-sempatnya merekam kejadian itu dengan gadgetnya. Galen harus melihatnya nanti.

Rhea hanya menipiskan bibir melihat kelakuan teman-temannya. Ia memilih kembali menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Seperti bagian luarnya, bagian dalam rumah itu sangat rapi dan minimalis. Beberapa ornamen dan lukisan abstrak menghiasi dinding, tetapi ia tak menemukan satu pun bingkai foto di sana. Kalau tak tertolong warna catnya yang lembut dan beberapa pot bunga, sejujurnya ruangan itu tampak sangat dingin.

Ia menghentikan analisisnya saat sang tuan rumah mendekat. Pemuda yang mungkin hanya terpaut beberapa tahun di atas mereka itu meletakkan dua piring makanan ringan, poci bening berisi jus, dan gelas-gelas ke meja depan mereka.

"Jangan sungkan."

"Gak usah repot-repot, Bang," jawab Saka sambil mencomot salah satu makanan itu ke mulutnya.

Azran mendelik lalu menendang kaki temannya pelan. "Maaf, Bang. Dia emang suka malu-maluin."

Rayn menarik sudut bibirnya tipis. "Gak apa-apa, saya memang sengaja siapin ini buat kalian."

"Tuh gak boleh nolak rezeki," kilah Saka sambil mencomot lagi.

"Kalian juga jangan diam terus," tegur Rayn pada dua gadis yang sedari tadi memperhatikannya. Mata elangnya menyorot tenang, berusaha tidak terlalu mengintimidasi.

Azran meringis melihat Hazel dan Isvari yang tampak malu-malu. Beruntung Ayla datang mengalihkan suasana aneh nan konyol di antara mereka.

"Maaf, aku lama ya?"

"Enggak kok, Galen bahkan baru bangun tidur," jawab Azran mewakili sebagian teman-temannya yang masih eror.

"Kita tinggalin aja gak sih?" usul Rhea karena ingat muka bantal tanpa dosa Galen tadi.

"Lima menit kalau dia belum beres, kita tinggalin." Hazel akhirnya bersuara. Sepertinya ia sudah bisa menguasai diri.

Sementara itu, Ayla tiba-tiba mengernyit. Ia merasakan keanehan karena melihat dua tas kamping yang diletakan di dekat pintu. Seingatnya ia hanya membawa satu tas. Ia lalu menoleh pada kakaknya yang sudah kelihatan sangat rapi.

Firasatnya tidak enak. Rayn memang sudah mengizinkannya ikut berkemah dengan syarat ia tidak boleh melepas liontinnya. Meski merasa aneh karena syaratnya seperti terlalu mudah, saat itu ia memutuskan tidak terlalu memikirkannya. Namun, kali ini ia merasa harus memastikan sesuatu.

"Kakak mau ke mana?" tanyanya setelah berhasil menyusul Rayn yang baru berjalan beberapa langkah.

"Tidak akan ke mana-mana."

"Lalu itu tas siapa?" tunjuk Ayla pada salah satu tas dekat pintu.

"Aku akan mendaki sendiri besok."

"Wahai rakyatku!"

Kedatangan Galen dengan rambutnya yang masih basah mengalihkan fokus mereka sebentar. Namun, Ayla kembali menatap kakaknya.

"Mendaki ke mana?"

"Gunung Putri, Lembang."

Ayla mengerjap-ngerjap, tetapi keterkejutannya tidak sampai di sana. Hazel tiba-tiba menghampiri.

"Maaf kalau boleh mengusulkan, Kakak bareng kami saja. Kami juga akan mendaki ke tempat itu sekarang, apalagi mini bus yang membawa kami juga masih punya banyak kursi kosong."

Lihat selengkapnya