Peran umum dalam permainan mafia adalah: narator, mafia, dokter, polisi, dan warga. Narator mirip seperti dalang yang mahatahu. Ia mengatur jalannya permainan sekaligus memberi peran pada para pemain secara rahasia.
Adapun permainan berjalan dengan dua siklus: siang dan malam. Saat siklus malam tiba warga tertidur, sementara para mafia dibangunkan narator untuk memilih pemain yang akan dibunuh. Setelah mafia tidur, dokter bangun dan memilih pemain yang akan diselamatkannya. Jika pemain yang diselamatkan itu korban yang dipilih mafia, korban akan selamat. Jika bukan, korban akan mati yakni dieliminasi dalam permainan. Polisi pun bangun dan menanyakan satu identitas pemain yang ingin diketahuinya pada narator secara diam-diam.
Saat siklus siang, semua pemain bangun dan berdiskusi untuk melakukan pemungutan suara siapa mafianya. Para mafia akan menyamar dan menebar kebingungan di antara warga. Polisi harus meyakinkan warga siapa mafianya jika ia mengetahuinya. Kemudian pemain dengan suara terbanyak akan dieliminasi dan diungkap identitasnya oleh narator. Saat permainan kembali berlanjut, pemain yang tereliminasi hanya boleh diam dan menonton.
Siklus siang dan malam kembali diulang sampai ada pemenang, entah tim mafia yang berhasil membunuh tim warga termasuk polisi dan dokter; atau tim warga yang berhasil menyingkirkan semua mafia.
Kali ini dalam permainan mereka, peran polisi dihilangkan. Ayla menghela napas. Itu artinya, ia dan tim warga harus berusaha ekstra mencari para mafia jika ingin selamat dan memenangkan permainan.
"Kalian siap?" Rayn memastikan.
Mereka semua mengangguk, kecuali Ayla yang merasa darahnya berdesir dingin. Ia mendongak, berusaha mencari jawaban dalam wajah tanpa ekspresi itu sekali lagi.
"Oke, siklus malam dimulai. Semua pemain silakan menunduk dan menutup mata."
Angin berembus dingin, kobaran api unggun di depan mereka turut bergoyang pelan. Ayla ikut menunduk bersama yang lain setelah mendapat lirikan tajam dari narator. Dengan mata terpejam, ia berusaha membagi fokus: memikirkan situasinya sekarang sekaligus mendengar suara sekitar—mungkin ia bisa mendapat petunjuk atau sesuatu.
"Tim mafia silakan bangun dan membuka mata. Kalian dipersilakan berdiskusi dengan isyarat dan memilih satu korban. Setelah itu, kalian dipersilakan menunduk dan menutup mata lagi."
Mereka melakukannya dengan baik, bahkan tidak ada kasak-kusuk selama proses diskusi tersebut.
"Dokter silakan bangun dan memilih pemain yang ingin diselamatkan. Dia juga boleh menyelamatkan dirinya sendiri."
Ayla bangun. Ia masih belum punya ide, tetapi ia tahu harus bergerak cepat sekarang. Kepalanya tertoleh pada teman-temannya yang menunduk. Siapa yang harus ia selamatkan?
Rayn mengedikkan dagu, menyuruhnya segera menjawab. Ayla menggigit bibir makin bimbang. Meski namanya permainan, ia merasa kalau ini lebih seperti ujian mental. Ia akhirnya menghela napas pelan. Jarinya terangkat lalu menunjuk Saka mengikuti firasatnya.
"Silakan tidur lagi."
Rayn melangkah tanpa suara, berpindah posisi. Mata elangnya memindai semua yang ada di sana tanpa berkedip.
Ia menyatakan siklus siang dimulai lalu mengawali narasi, "Saat malam, tim mafia menargetkan salah satu pemain untuk dibunuh. Korban dimanipulasi naik ke atas menara agar menjatuhkan diri dari sana. Namun, dokter dengan kemampuannya berhasil menyelamatkan korban."
Dahi Ayla langsung berkerut. Ia merasa ganjil dengan narasi itu, tetapi sorakan Saka mengalihkan perhatiannya.
"Yuhuu! Dokterku pahlawanku, dia pantang menasehatiku bahwa bila gugur satu akan tumbuh sepuluh ribu ..."
Galen yang risih langsung membekap mulutnya. Pemuda sipit itu pun menuduh, "Biasanya kalau banyak cincong itu mafia."
Saka berontak lalu memegang jantungnya dramatis. "Teganya kamu, Mas."
Galen menganga, hampir menoyornya kalau Hazel tak menyuruh mereka diam.
Rayn lalu melanjutkan narasinya, "Para warga yang berpengaruh dikumpulkan malam ini untuk mencari mafia yang menyamar. Sebagai permulaan, kalian dipersilakan memperkenalkan diri dengan profesi masing-masing."
Mereka pun memperkenalkan diri secara bergantian. Sebagai narator, Rayn memang melakukan variasi dalam permainan. Selain peran sebagai mafia, warga, atau dokter, ia menambahkan profesi sampingan dalam kartu yang dibagikannya. Jika dijabarkan secara singkat, profesi mereka dalam cerita permainan ini sebagai berikut: Ayla seorang pengacara, Rhea seorang atlet, Isvari seorang selebritas, Hazel seorang polisi, Galen seorang pejabat, Saka seorang dosen, dan Azran seorang pebisnis.
Ayla memulai diskusi mereka dengan menyatakan keganjilannya pada narasi, "Menurut kalian, aneh gak sih para mafia manipulasi korban buat jatuhin diri dari menara, alih-alih dorong langsung aja dia dari sana?"
"Iya juga, padahal lebih mudah didorong," respon Galen.
"Didorong mungkin lebih mudah, tapi risikonya tinggi karena bisa ketahuan CCTV," timpal Rhea.
"Tapi memangnya korban dimanipulasi gimana?" Kali ini Isvari yang bertanya.
"Yang paling mungkin," Hazel berpikir sejenak lalu melanjutkan, "adalah dihipnotis karena gak akan ninggalin jejak apa pun."
Saka bertepuk tangan. "Miss Polwan the best."
"Kalau begitu mafianya pasti orang cerdas," celetuk Azran sambil menoleh ke arah Saka yang langsung diikuti yang lain.
Saka menggelengkan kepala cepat. "Eits, gak mungkin ya dosen itu mafia."
"Bisa aja dia itu dosen gadungan. Lagian gak mungkin dosen modelannya kek begini," tuduh Galen bersemangat.
"Atau bisa aja dia memang dosen, tapi dia punya eksperimen rahasia gitu jadi kerja sama sama mafia," timpal Isvari yang sepertinya kebanyakan menonton film.
Ayla berusaha mencari pembelaan yang tepat. Mustahil Saka mafia. Berdasarkan narasi Rayn tadi, korban yang akan dibunuh mafia berhasil diselamatkan dokter, sedangkan tadi ia memilih Saka sebagai pemain yang diselamatkan.
Setelah mempertimbangkan hal itu, ia akhirnya buka suara, "Setiap orang dengan profesi apapun berkemungkinan jadi mafia gak sih? Lagian kalau menyimpulkan dosen itu mafia karena dia orang cerdas yang bisa susun rencana apik, itu artinya kita terjebak dalam stereotipe profesi. Padahal orang yang pekerjaannya gak berhubungan sama akademi juga bisa susun rencana pembunuhan yang brilian, apalagi kalau keadaannya memungkinkan."
Saka bertepuk tangan heboh dengan wajah terharu, "Memang cuma Ayla yang baik."
"Pernyataan Ayla masuk akal sih, tapi gue tetep pilih Saka karena dia berisik," putus Galen sok serius.
Tak disangka Hazel mengamini, "Ayo eliminasi Saka biar suasananya lebih kondusif."
Saka membuat wajah nelangsa yang hiperbolis, apalagi Azran dan Isvari juga memilihnya. Sementara itu, Rhea malah memilih Galen karena menurutnya Galen juga mencurigakan.
"Kak, boleh gak milih gak?" tanya Ayla tiba-tiba.
Rayn yang tengah menambahkan kayu pada api unggun menjawab tanpa menoleh, "Setiap pemain dibolehkan tidak memilih satu kali."
Gadis berkuncir itu mendesah lega. Ia masih tidak punya ide siapa mafianya. Meskipun begitu, ia gagal menyelamatkan Saka.
"Berdasarkan hasil pemungutan suara, saudara Pusaka Jauhari dieliminasi karena mendapat suara terbanyak. Dengan demikian, ia bisa menunjukkan kartu identitasnya sebelum mundur dari permainan."
"Kalian sudah mengeroyok warga yang tidak bersalah," sungut Saka sambil menunjukkan kartu bertuliskan warga dengan profesi sebagai dosen di bawahnya.