Mimpi buruknya seakan menguar oleh pendar jingga yang menanjak di ufuk sana. Kini segala yang sulit terlihat saat malam tampak jelas seperti pegunungan yang menjulang jauh dari tempatnya berada. Hamparan kabut pagi yang menutupi pemukiman penduduk membuat pegunungan itu seperti ditadah awan.
Ia menutup mata. Sejuk berembus menyapanya yang duduk menyaksikan pagi. Dari semua tempat di muka bumi, ia paling menyukai daerah pengunungan. Sebab, di sanalah masa kecilnya yang singkat bersama orang tuanya dihabiskan. Lima tahun yang berharga sampai mereka tiba-tiba pergi meninggalkannya dan kakaknya untuk selamanya.
"Cukup mengesankan. Teman-temanmu para pemeran yang lihai, sayang sekali permainannya tidak selesai."
Ayla terperanjat. Entah sejak kapan Rayn berdiri di sampingnya tanpa terdengar suara langkah sedikit pun. Ia tahu seharusnya ia tak perlu heran karena mereka pernah dilatih seperti militer oleh pengawal kepercayaan Huri agar mereka bisa melawan, menyelinap, atau melarikan diri jika terjadi sesuatu yang berbahaya. Namun, tetap saja level kakaknya jauh di atasnya yang ceroboh dan tidak berminat apalagi berbakat dalam hal demikian.
"Itu pujian atau sindiran?"
Sudut bibir pemuda itu tertarik sedikit. "Tergantung dari mana kau melihatnya."
"Kakak pasti sengaja ya? Kamping ini juga permainan semalam. Apa maksudnya coba?"
"Kau bisa menyebutnya ... keberuntungan."
Ayla memejamkan mata gemas. "Keberuntungan yang Kakak maksud itu perhitungan cermat dari berbagai rencana beserta peluang keberhasilan dan risikonya. Dan jangan lupa, selalu ada rencana cadangan."
Tarikan di sudut bibirnya makin tinggi, Ayla sangat mengenalnya dengan baik. "Jangan kesal, aku melakukannya untukmu juga. Bukankah persona tiap orang bisa berubah jika dihadapkan pada situasi atau lingkungan yang berbeda?"
"Iya, itu karena persona adalah jembatan yang terletak antara ego dan masyarakat."
"Kemudian?"
Ayla mengerjap-ngerjap. Rayn mengangkat kedua alisnya seolah bilang ia harus menjelaskan lebih lanjut pernyataannya barusan.
Ia menarik napas sebelum melanjutkan, "Dalam peta jiwa Carl Jung, ego adalah pusat kesadaran yang bertanggung jawab atas rasa identitas kita, sedangkan persona adalah topeng sosial yang kita kenakan. Singkatnya, persona itu jembatan antara ego dan dunia luar. Kita memakai persona yang berbeda dalam lingkungan berbeda karena itulah cara kita beradaptasi dengan orang lain dan tuntutan masyarakat. Dan karena persona itu jembatan, agak mustahil melepasnya karena hubungan dengan orang lain bisa rusak atau kacau."
"Nah, kau lebih hafal teorinya daripada aku."
Pipinya menggembung. Ia banyak membaca buku, termasuk tentang psikologi dan psikoanalisis karena sewaktu masih sekolah privat, ia punya banyak waktu sendiri.
"Jadi, yang harus dilakukan adalah ..."
"Memakai topeng yang baik dan sesuai dengan situasi dan lingkungan. Selain itu, penting untuk mengutamakan penemuan jati diri dan pertumbuhan pribadi. Sebab, meski persona bisa jadi alat berguna untuk kesuksesan sosial, persona gak boleh mengorbankan kesehatan mental dan kesejahteraan pribadi."
"Gadis pintar. Hal penting lainnya jangan sampai terlalu menyembunyikan atau menekan kebenaran tentang diri. Sisi bayangan bisa terbentuk dan itu bisa jadi konflik abadi dalam diri. Nah, anggap saja aku sedikit menguji coba teman-temanmu agar kau bisa melihat sisi lain mereka."
Bibir Ayla yang semula merekah karena kalimat pertama seketika luntur karena kalimat terakhir. Meski ia sudah menduganya kemarin, ia tetap kesal dengan frasa uji coba yang dikatakan kakaknya. Mereka seperti tidak ada bedanya dengan kelinci percobaan dalam penelitian yang sering dilakukannya.
"Kenapa menatapku seperti itu? Aku bukan memakan teman-temanmu. Kalau keberatan, anggap saja riset sosial."
Ia tetap mengerucutkan bibir dengan pipi yang menggembung. Rayn lalu menjatuhkan handuk yang dibawanya ke atas kepala adiknya yang kian merengut. Mata elangnya melunak saat ia menggerak-gerakan kepala gadis itu dengan ringan.
"Pokoknya hati-hati saja," pungkasnya lalu melangkah pergi.
Ayla menarik handuk itu lalu memperhatikan punggung Rayn yang menjauh. Bibir mungilnya masih mengerucut. "Aku kan bukan anak kecil."
___
Pagi itu sebenarnya cukup menyenangkan. Usai teman-temannya bangun dan membersihkan diri, mereka sarapan bersama sambil bercengkerama. Setelah membereskan tenda dan barang-barang yang mereka bawa, mereka sepakat menjelajahi sekitar sebelum pulang.
Tidak ada yang aneh sampai Ayla tak sengaja mendengar percakapan Saka dan Hazel saat mereka mulai menjelajah. Ia dan teman-temannya yang lain memang agak memencar saat itu. Kakaknya juga sibuk mengamati sesuatu sendiri.
"Padahal aku mau update Instagram, Bun."
Suara Saka terdengar lesu. Ayla menoleh. Hazel tampak serius, kedua tangannya bahkan terlipat di depan.
"Nanti pas pulang aku kembaliin."
"Terus kalau mau foto-foto gimana?"