Pernah ada masa di mana Saka takut bertemu orang-orang. Ia takut dengan tatapan, perkataan, tawa, komentar, dan penghakiman mereka terhadapnya. Ia merasa mereka mengejeknya setiap waktu karena ia selalu diam. Karena mereka selalu bisa menyakitinya, sedangkan ia hanya bisa memendam itu sendirian.
Ya, ia memang selemah dan sepengecut itu. Saka selalu diam saat orang-orang dengan mudah mencandai, mengejek, menertawakan, hingga melukainya secara fisik. Bahkan beberapa dari mereka menjadikannya boneka samsak favorit. Ia tak pernah melawan dan tak mampu melawan. Keluarganya bahkan mengira ia nakal dan sering berkelahi karena ia tak pernah menjelaskan apa pun tentang semua lukanya.
Dulu ia pikir, apa yang berubah jika aku menceritakan semua itu? Mereka juga tidak bisa melakukan apa pun karena orang-orang itu anak orang kaya dan berkuasa, 'kan?
Jadi, ia pun memilih selalu diam sampai ke titik di mana ia mulai takut bertemu orang-orang. Namun, keluarganya mengira ia jadi anti sosial. Lalu mereka mulai memaksanya untuk membaur agar dirinya kembali normal.
Titik terendah itu pun tiba. Titik di mana ia berharap kata-kata jahat mereka bisa menikam tubuhnya sekalian. Titik di mana ia berharap luka fisik yang diterimanya bisa membunuhnya sekaligus. Agar ia tak perlu merasakan sakit lagi. Agar ia bisa terbebas dari siksaan mereka dan tuntutan keluarganya untuk selamanya.
Bahkan sekolah baru tidak mengubah apa pun. Seragam putih abu-abu itu tak membuat para pemakainya berpikir lebih dewasa. Sebaliknya, Saka justru disambut lebih keji. Tak ada jeda untuk bernapas. Di tempat baru sekalipun ia tetap jadi sasaran.
Mereka yang seharusnya memberi contoh justru yang paling awal menindas. Lagi-lagi karena kekuasaan, manusia bisa berbuat semena-mena pada sesamanya. Lagi-lagi karena ia lemah dan tidak bisa melawan, mereka bisa berbuat sesukanya padanya. Lagi-lagi karena ia selalu diam dan hanya bisa berharap untuk meniada dalam keheningan.
Seperti hari itu, bola basket berulang kali menghantam perutnya. Tulang rusuknya terasa bergetar dan dunia seperti berguncang. Ia mulai kehilangan kesadaran, tetapi sebelum gelap menyergap, sebuah suara menginterupsi.
"Berhenti."
Gadis itu berdiri di antara mereka. Zoe Hazelynn Kiel. Manis, kecil, dan sama sekali tak terlihat berbahaya. Namun, sorot matanya tajam dan kukuh seperti karang.
"Atau saya laporkan peristiwa ini dan kalian akan menyesal seumur hidup."
Orang-orang yang mengerubunginya tertawa. Mereka berbisik-bisik lalu mendekat. Saat itu Saka terlalu tak berdaya untuk menyuruhnya pergi, sebelum mereka berganti mengganggunya.
Buk! Buk!
Argghh!
Matanya yang hampir tertutup tersentak. Dengan sisa kekuatannya, ia berusaha menoleh untuk melihat apa yang terjadi. Namun, pemandangan itu langsung membuatnya tertegun.
Hazel memelintir, menendang, dan menjatuhkan mereka satu per satu dengan mudah. Saat mereka bangkit untuk menyerang balik, tiba-tiba seorang guru killer datang. Gadis itu hanya tersenyum simpul, meski wajah manisnya terkena satu pukulan, seakan ia sudah memperkirakan situasi itu dengan presisi.
Mereka kalah karena gadis itu punya keberanian, bukan karena ia lebih berkuasa dari mereka. Padahal ia bisa membungkam siapa pun dengan mudah dengan menunjukkan nama keluarganya.
Saat itu ia skeptis. Ia pikir dirinya hanya akan jadi samsak lain dengan orang yang berbeda, apalagi setelah peristiwa itu Hazel membawanya ke ruang tinju. Namun, gadis itu tak seburuk prasangkanya.
"Tinju samsak itu. Bayangkan itu orang-orang yang menyakitimu. Teriaklah, menangislah, atau diam saja kalau itu yang kamu mau," katanya waktu itu sebelum pergi.
Saka ingat setelah itu ia hanya bergeming ragu. Namun, sendirian berhasil melepaskan jangkarnya. Ia menangis seperti anak kecil dan berteriak seperti binatang terluka. Hingga tubuhnya kelelahan dan ia pun ambruk.
Saat terbangun, ia berada di kamar rumah sakit. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia terbangun dengan dada yang lebih ringan, meski luka-luka di tubuhnya masih terasa sakit.
Hazel lalu menghampirinya dan melemparkan sebuah foto. Seorang gadis gemuk yang berkacamata di antara dua orang yang tersenyum kaku. "Itu saya dulu. Saat itu saya juga sering dirundung oleh teman-teman dan orang tua karena saya tidak sesempurna keinginan mereka."
Wajah dinginnya tak berubah, seakan ia tak lagi terpengaruh dengan kegetiran yang dikatakannya. Namun, Saka mengenal sorot itu. Sorot yang sama dengan miliknya saat ia bercermin sendirian.
Hazel mengambil lagi foto itu lalu membakarnya dengan korek yang dibawanya. "Tapi itu dulu. Sekarang saya adalah orang yang berbeda. Oleh karena itu, sebagai orang yang pernah sama-sama jadi korban, saya ingin kita bekerja sama dan membalas dendam dengan jadi versi terbaik dari diri kita."
Tangannya terulur. "Simbiosis mutualisme."
Saka terdiam lama, lalu meraih tangan itu. Kemudian Hazel memberinya pilihan untuk melaporkan orang-orang itu atau mendiamkannya saja. Saka memilih melaporkannya tanpa mengundang banyak keributan agar mereka jera dan agar tidak ada lagi korban sepertinya. Hazel mengabulkannya dalam sehari, orang-orang itu tak lagi terlihat di sekolah mereka.
Ketakutannya perlahan pudar. Sejak bertemu Hazel, ia bukan hanya mendapat teman-teman yang bisa menghargainya, tetapi juga keberanian dan kepercayaan diri. Ia tak menyangka hubungan simbiosis itu akan berkembang jadi hal yang lebih dari keuntungan semata. Karena kini Hazel bukan hanya orang yang sangat menginspirasinya, tetapi juga sahabat terbaiknya.
Ia yang mulanya pendiam dan menarik diri kini menjadi periang yang suka menghidupkan suasana. Tak perlu paksaan keluarga, ia mudah bergaul karena lingkungannya sudah berbeda. Dengan adanya ada sosok yang melindunginya, ia merasa bebas dan nyaman untuk berekspresi, meski terkadang ia mungkin terlalu memaksakan diri.
Mungkin karena sebagian perubahannya dipicu rasa minder. Hazel dan teman-teman barunya termasuk siswa populer yang disukai banyak orang, sedangkan Saka laksana sebuah bayangan bagi mereka. Ia juga ingin seperti mereka. Karena itulah ia memodifikasi personanya agar disukai orang-orang.
Namun, tak semua luka sembuh total. Saat ia nyaris melupakan dirinya yang lemah dan pengecut, sebuah postingan dari mantan temannya muncul. Kalimatnya sederhana, tetapi itu cukup untuk memantik lagi ketakutannya. Komentar orang-orang di bawahnya terasa seperti petir yang menghanguskan sinarnya.
Lagi-lagi ia hanya mampu diam. Karena ternyata dirinya yang kerdil dan pengecut itu belum berubah. Ia pun memilih berlari seperti hari ini. Ia menghindari sekolah. Dadanya sesak. Tubuhnya menggigil. Ia kembali takut bertemu orang-orang dan penghakiman mereka setelah sekian lama.
"A, ada temannya di luar."
Saka terlonjak, suara adiknya yang memanggil di luar menyadarkannya dengan keadaannya sekarang. Perutnya mulas mendadak dan tangannya makin tremor. Keringat dingin menguar saat ia membayangkan tatapan aneh orang-orang. Tidak, ia tidak mau menemui mereka dulu dengan keadaan seperti ini. Topengnya sedang rusak dan ia tak sanggup berpura-pura baik-baik saja.
"Bilangin Aa-nya lagi sakit terus gak bisa ketemu sama orang dulu."
Suaranya terdengar sangat lemah dan serak. Ia harap adiknya bisa mendengarnya.
"Maaf," lirihnya lalu segera masuk ke dalam lemari di kamarnya untuk bersembunyi. Dalam ruang pengap, gelap, dan sempit itu Saka berharap bisa menghilang sementara waktu, atau kalau perlu untuk selamanya.
___
Angin malam membelai pipinya saat ia membuka jendela. Langit tampak di puncak kegelapannya. Jalanan sunyi. Waktu ketika kebanyakan manusia tertidur dan lupa.
Dulu saat ketakutan itu jadi teman setianya, ia suka keluar rumah dan berjalan tanpa arah, tanpa suara; seolah hanya ingin memastikan bahwa dirinya masih ada. Tidak ada mata-mata manusia yang akan menghakiminya. Tidak ada kata-kata orang yang akan menyakitinya.
"Meong."
Seekor kucing berbulu abu tiba-tiba muncul di bawah jendela. Ia menunduk. Sepasang mata bulat itu mengerjap polos, memandangnya tanpa tuduhan atau penghakiman. Mong. Teman lamanya yang tahu kapan harus datang tanpa diminta. Kini saat ia kembali lagi ke fase itu, Mong kembali menemaninya. Ia merasa bersalah karena tak membiarkannya masuk siang tadi, padahal kucing itu berulang kali mengeong di dekat kamarnya seakan memanggil.