Wayang-wayang di atas panggung bergerak seperti pantulan realitas dalam dimensi lain. Gerakannya adalah tarian tentang kehidupan, sedangkan suara dalang, sinden, dan gamelan adalah melodi yang menyertainya. Maka mereka tampak seperti harmoni yang menyajikan kisah: sebuah sastra yang dilakonkan.
Di luar pertunjukan itu, ada lakon lain yang lebih sunyi dan nyata sedang berlangsung: lakon manusia. Seperti wayang, manusia juga digerakkan dalang di balik layar. Entah itu Tuhan, sistem, Diri mereka sendiri, atau sesuatu yang tidak mereka sadari.
Sebagaimana wayang tak tahu ke mana ia akan digerakkan, manusia pun jarang benar-benar mengenali siapa yang mengatur arah hidup mereka. Yang jelas, mereka memainkan lakonnya dengan baik. Tidak bisa dibilang sepenuhnya bersandiwara, mereka hanya menyeleksi apa yang sebaiknya ditampilkan dan tidak dari diri mereka. Itulah persona, meski bisa jadi mereka terlalu berlebihan memodifikasinya.
Sementara orang-orang bersorak untuk pertunjukan barusan, salah satu yang turun panggung menerima sambutan lebih dari yang lain. Si dalang mungil itu kembali ke pangkuan teman-temannya disambut dengan tepukan dan pelukan. Mereka ramai, lincah, penuh tawa. Namun dari tempat yang sedikit lebih sunyi, sepasang mata memperhatikan mereka tanpa berkata-kata.
Guru muda itu duduk agak menjauh dari kerumunan. Batiknya hampir menyatu dengan warna dinding. Ia diam, tetapi napasnya terasa berat. Yang dilihatnya bukan sekadar sekelompok siswa-siswi populer dan teladan, melainkan gema masa lalu yang belum selesai. Ada sesuatu dari mereka yang mengingatkannya pada dirinya dan teman-temannya dulu.
Tidak bisa dipungkiri sejak mengajar di sini dua tahun lalu, ia jadi sering bernostalgia, meskipun nostalgia baginya tak selalu menyenangkan. Sebab sesaat setelah kelulusannya, terjadi sebuah tragedi yang membuat teman-temannya meninggal.
"Bu Seroja?"
Wanita itu menoleh. "Iya?"
Seorang pemuda bertubuh tegap berdiri di sampingnya. Ia mengikuti arah pandang Seroja barusan. Sejenak mereka sama-sama diam, memandangi kelompok kecil itu dari kejauhan.
"Mereka memang menarik, ya?" tanyanya nyaris seperti gumaman.
Seroja tersenyum samar. "Saya hanya teringat masa lalu."
"Kalau begitu, semoga bukan kenangan yang buruk."
"Kamu datang bukan tanpa alasan, 'kan, Dipta?"
Yang ditanya tersenyum simpul kemudian menyampaikan maksudnya: soal pertukaran jadwal tampil kelasnya. Nada suaranya sopan, terukur, dan nyaris terlalu sempurna untuk remaja. Setelah mendapatkan persetujuan dari Seroja yang jadi pengawas pentas, ia pun pamit dengan sopan.
Seroja memandangi punggungnya yang menjauh—tampak terlalu rapi dan sempurna. Namun, sebagai guru, entah kenapa pemandangan itu membuatnya sedikit gelisah.
Dipta Kanigara hampir selalu bisa memikat orang lain dengan permukaannya. Ia bahkan sangat menonjol dalam banyak bidang untuk anak seusianya. Namun, siapa yang menjamin bahwa permukaan seindah itu tak menyimpan bayangan kelam di baliknya?
___
Beberapa langkah meninggalkan gurunya, Dipta dicegat seorang siswa. Ia dibisiki sesuatu yang membuat langkah tenangnya luntur. Wajahnya mengeras dan ia melangkah lebar ke koridor di pojok sekolah.
Di sana sudah ada pria berkacamata yang sedang duduk membaca buku kecil. Ia memasukkan bukunya ke saku setelah menyadari kedatangan si pemuda Kanigara.
"Lo mulai lagi," tuduhnya sambil berkacak pinggang.
Dipta melengos lalu segera berbalik untuk melangkah pergi.
"Gue ngomong sama lo, Adik Sepupu. Jangan pikir gue gak tahu soal target dan permainan lo kali ini."
Pemuda Kanigara itu memutar bola mata malas. Ia berbalik lagi, meski sambil melipat tangannya di dada. Terkadang ia tidak habis pikir bisa bersepupuan dengan orang seperti Hatar Yuswara. Mahasiswa semester akhir jurusan hukum itu sangat cerewet dan suka ikut campur—kontras dengan penampilannya yang sangat necis bahkan terkesan culun.
Ia bahkan yakin sepupunya itu langsung memacu mobil ke sini untuk menceramahinya setelah mengetahui hal itu. Entah alasan apa yang ia katakan pada satpam sekolah sampai ia pun bisa diizinkan masuk.
"Terus kenapa? Itu bukan tindak pidana atau perdata, 'kan?"
Hatar menghela napas, jawabannya jelas bukan. Namun yang jadi permasalahannya adalah moralitas. Di matanya, mempermainkan orang jelas bukan hal yang baik. Ia memang orang yang selalu peduli pada aturan juga hukum sosial lainnya, sebaliknya Dipta adalah orang yang sangat bebas. Sepupunya itu tak segan melakukan apa pun demi mendapat apa yang diinginkannya.
"Tolong berhenti."
Hatar kali ini bicara dengan lebih lembut, berharap pemuda bermata rusa itu akan mendengarkan. Jujur, ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada sepupanya akibat perilakunya itu. Mungkin alasan lainnya karena ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan juga memintanya menjaga Dipta. Ibunya mungkin masih dihantui rasa bersalah karena tidak mengurus sepupunya dengan baik usai kematian adiknya yakni ibunya Dipta.
Hatar pikir mungkin itulah kenapa Dipta selalu penasaran dengan segala jenis perempuan yang menarik baginya, karena ia tidak pernah mengenal sosok seorang ibu. Rasa dahaganya seolah tak pernah habis dan itulah permasalahannya. Masalah lainnya, pemuda Kanigara itu juga tumbuh dengan didikan keras ayahnya. Ia tidak dimanjakan, tetapi ia dididik untuk selalu menang.
"Jangan halangi gue, Bang. Lo masih gue toleransi karena lo masih keluarga gue, tapi kalau lebih dari ini," Dipta menyeringai, "... there's no more tolerance."
Ia mendekat lalu menepuk bahu Hatar. Senyumnya setipis ujung pisau, tajam dan nyaris tak terlihat. Bahkan tepukan hangatnya menyimpan ancaman dingin tersembunyi.
"Oke, gue nyerah."
Dipta menghentikan langkahnya.