Orang bilang mimpi adalah bunga tidur. Jika memang demikian, mimpi buruk yang sering mendatanginya akhir-akhir ini pasti bunga yang mengerikan. Entah dari mana benih bunga itu berasal hingga bisa mekar tiap malam. Jika datangnya dari makhluk halus, berarti doa yang Ayla baca sebelum tidur belum mempan.
Namun jika dilihat dari sisi psikologi, boleh jadi mimpi buruk itu terkait dengan kondisi psikologisnya atau representasi dari alam bawah sadarnya. Menurut Sigmund Freud—bapak psikoanalisis dunia misalnya, mimpi adalah pintu gerbang menuju keinginan, ketakutan, dan konflik terdalam yang sering dikaburkan kesadaran. Di sisi lain menurut Carl Jung, mimpi bukanlah manifestasi acak dari alam bawah sadar, melainkan ekspresi yang bermakna dari pencarian jiwa akan keutuhan.
Masalahnya Ayla sama sekali tidak mengingat mimpi buruknya. Jadi, bagaimana ia bisa tahu apa yang berusaha disampaikan mimpinya? Ia hanya selalu ingat sensasi menakutkan atau menyedihkan yang membuatnya selalu terbangun sampai berkeringat dingin. Akibatnya ia tak bisa tidur lebih dari empat jam sehari. Padahal tidur yang cukup penting baginya, apalagi energinya lumayan terkuras di sekolah.
Ia membuang napas panjang. Untuk sementara, ia mau berhenti memikirkan hal itu. Sepeda yang dikendarainya sudah sampai di depan gerbang sekolah.
"Pagi, Neng. Seperti biasa ya selalu paling nyubuh."
Seorang penjaga sekolah menyapanya. Ia mengenal Ayla karena kebiasaannya yang selalu datang paling pagi saat gerbang baru dibuka.
Ayla balas tersenyum sambil memarkir sepedanya. "Pagi juga, Pak. Iya nih soalnya rumahnya dekat."
Sekolahnya masih sangat sepi. Baru ada beberapa kendaraan yang terparkir, itu pun sepertinya milik petugas kantin. Ia pun melangkah dengan tenang.
Lalu tiba-tiba udara sekitarnya berubah lebih berat. Sebuah denyut-denyut tak beraturan mulai berdetak di pelipisnya, seperti alarm yang memekakkan telinga di dalam kepalanya. Pandangannya berkunang-kunang. Dunia di sekelilingnya seperti diliputi kabut tipis yang keruh.
Ayla mengerjap-ngerjap. Ia bergeming sampai suasana aneh itu mereda. Akhirnya ia memaksakan kakinya berjalan lagi. Ia tak mau terlihat mencolok karena terus diam tanpa alasan.
Bruk.
Ia meringis. Pandangannya masih belum fokus dan itu membuat kakinya tersandung batu. Lututnya berdenyut perih. Kulitnya yang tipis tergores dan menguarkan darah.
Ia membuka sarung tangannya yang kotor lalu menoleh ke sekitar. Pandangannya terhenti di halaman samping yang tertutupi gedung tempat kelasnya berada. Ia ingat di sana ada bangunan kakus.
Dengan tertatih, ia perlahan melangkah ke sana. Ia berencana membersihkan lukanya lalu memasanginya plester. Lagi pula UKS belum buka. Jadi, ia akan mengobati lukanya sendiri.
Setibanya di sana, dahinya langsung mengernyit. Ada bau aneh yang menusuk. Seperti bau khas bangkai—busuk dan membuat mual, tetapi bau pembersih lantai yang sama menyengatnya membuatnya jadi kontradiktif. Ayla menutup mulutnya tak tahan. Ia mundur dari pintu demi menghirup udara segar.
"Apa ada bangkai tikus ya?" gumamnya sambil menoleh ke sekitarnya yang sangat sepi.
Setelah berpikir sejenak, ia memutuskan masuk lagi dan memeriksa asal bau busuk tersebut. Jika memang bangkai tikus, ia akan membuangnya agar orang-orang yang datang ke sini nanti tak terganggu. Lagi pula, pikirnya, tak ada salahnya melakukan hal itu karena bel masuk pun masih lama berbunyi.
Dengan lengan yang menutupi hidung, ia membuka bilik pertama. Kosong. Bilik kedua. Kosong. Setiap kali gagang pintu berbunyi "krik" dan pintu terbuka, matanya bergerak cepat memindai tiap sudut yang ada di sana. Namun, tidak ada yang aneh dan itu membuat jantungnya bertalu kencang tanpa alasan.
Bau itu semakin menusuk saat ia mendekati deretan bilik terakhir. Bilik ketujuh juga kosong. Napasnya tertahan. Kini hanya tersisa satu bilik, dengan plang "Rusak" yang menggantung miring. Dari celah pintunya, bau busuk itu seakan menyembur keluar. Ia tak punya pilihan lain untuk tidak membukanya.
Pintu bilik itu agak sulit dibuka seakan macet, tetapi gadis itu tak kehabisan akal. Ia mengutak-atik gagangnya sebelum mendorong pintunya dengan kuat.
Ayla membeku seketika. Di sana ada seorang perempuan yang duduk terkulai di pojok bilik. Rambut ikalnya berantakan dan menempel di pipinya yang membiru. Dua tangan yang kaku itu mencengkeram erat bagian leher seragamnya, seolah berusaha menahan rasa sakit yang tak tertahankan.
Sepasang matanya membelalak kosong—menatap tanpa jiwa. Mulutnya terbuka lebar dalam jeritan terakhir yang bisu, dikelilingi kerak hijau pekat yang memualkan. Di sekelilingnya bergenang cairan hijau dan botol-botol pembersih yang berserakan.
Ayla mengerjap. Kakinya mundur dengan gemetar. Pandangannya memburam; dunia seakan mengeruh lalu runtuh. Telinganya mendenging, menenggelamkan semua suara kecuali deru jantungnya sendiri yang bertalu kencang seperti mau meledak.
Kakinya lunglai, nyaris tak mampu menahan tubuhnya yang tremor tak terkendali. Aroma menyengat pembersih lantai dan bau busuk itu menusuk dadanya hingga sesak. Kemudian rasa mual yang hebat mendesak dari perutnya, memaksanya menelan ludah berkali-kali.
Ia menggeleng. Ia tidak bisa berpikir. Tidak bisa bernapas. Satu-satunya hal yang tersisa adalah naluri purba untuk: lari.
Ia pun berlari. Kakaknya sering menyebutnya ceroboh, itu memang benar. Ia tersandung dan terjatuh lagi saat melewati halaman yang masih juga sepi. Luka di lututnya semakin melebar dan menguarkan lebih banyak darah. Ia berusaha mengabaikan itu dan bangun dengan gemetar. Ia selalu benci dirinya yang lemah seperti ini.
"Ya ampun!"
Gadis itu mendongak. Pandangannya masih buram, tetapi ia merasa lebih ringan. Sosok yang tidak begitu jelas itu berlari ke arahnya.
"Kamu gak apa-apa?"
Suara lembut itu, Ayla mengenalnya. Seroja Ratimaya. Guru yang jadi favorit kebanyakan siswa. Ia menggeleng menjawab pertanyaannya.