Lakon-Lakon Persona

Zya Zura
Chapter #13

11:「Selentingan Teori」

Kabar itu seperti embusan angin yang bertiup kencang. Nyaris semua penghuni sekolah membicarakannya hingga berteori tentang apa penyebabnya. Manusia secara naluri memang sensitif dengan berita negatif. Karena penyebabnya pun belum diketahui, imajinasi mereka jadi tak terkendali. Apalagi gadis yang meninggal dalam keadaan mengenaskan itu dikenal sebagai pengelola akun gosip di sebuah platform media sosial.

Ada saja yang mengaitkannya dengan hal mistis dan klenik, karma, konspirasi, dendam seseorang, hingga pembunuhan berantai. Elias Madava tersenyum simpul mendengar teori dan spekulasi yang berseliweran di kalangan para siswa. Harus ia akui kalau imajinasi mereka patut diapresiasi. Namun, siapa tahu kalau salah satu teori itu mungkin benar?

Pemuda jangkung itu melangkah pelan di koridor. Layaknya etnografer yang tengah melakukan observasi, mata dan telinganya selalu siaga. Earphone yang dipakainya hanya kamuflase, sementara telinganya selalu aktif menangkap setiap frekuensi percakapan.

Di balik poni yang nyaris menutupi pandangan, matanya juga aktif memindai sekeliling. Ekspresi mikro, gestur, hingga dinamika kelompok tak luput dari pandangannya. Bahkan tiap percakapan yang ia pancing adalah eksperimen untuk melihat reaksi dan mengumpulkan informasi. Ia kian menyukai negeri ini dan orang-orangnya, mereka subjek yang kelewat menarik untuk diteliti.

"Kalian ingat gak sekitar seminggu yang lalu Hazel labrak Tanisha? Gue bukan mau suuzan ya, cuman tahu 'kan mereka musuhan lama gara-gara masalah waktu itu."

"Ah, gue inget! Dulu sempat ada yang bilang kalau Hazel playing victim, dia khianati Tanisha dan rebut cowoknya. Makanya dia gak pernah apa-apain mantan temennya itu sampai minggu kemarin, meski dia sering digibahin di beropiniuntuxxx."

Elias menaikkan sebelah alis. Ia baru mendengar yang satu ini. Pilihannya mengajak pemuda tambun dan gadis berkuncir pendek itu berbincang tidak salah. Mereka banyak bicara dan itu menguntungkan.

"Jadi, menurut kalian, Hazel tiba-tiba labrak Tanisha padahal sebelumnya selalu diam itu karena dia udah muak atau gimana?" tanya Elias memancing.

"Gue yakin sih dia udah muak digibahin terus," jawab si pemuda tambun.

Si gadis berkuncir menggeleng. "Menurut gue ada hubungannya sama teman-temannya Hazel, soalnya beberapa postingan terakhir Tanisha bahas tentang mereka." Ia mendesah lalu melanjutkan, "Dan terlalu kebetulan seminggu kemudian ... Tanisha meninggal secara gak wajar karena pembersih lantai. Kebetulan lainnya pas Hazel labrak Tanisha waktu itu, dia bilang sesuatu tentang hama ... gitu. Gue yang persis di dekat TKP masih ingat omongan dia sampai sekarang."

"Teori yang menarik, meski belum terverifikasi," gumam Elias dalam hati.

Ya, menurutnya kebenaran memang sering sulit dibuktikan, apalagi dengan banyaknya simpang siur kejadian sampai asumsi yang bersifat bias berseliweran. Namun, ia tahu dalam kebohongan sekalipun selalu terselip butir kebenaran. Ia hanya perlu menyaringnya untuk sampai pada kesimpulan.

Peribahasa manusia mati meninggalkan nama; harimau mati meninggalkan belang; gajah mati meninggalkan gading memang tidak salah. Haruskah ia menyebutnya ironis atau justru karma? Sang penggiring opini kini jadi objek opini itu sendiri setelah kematiannya.

Meskipun begitu, harus Elias akui kalau gadis berambut ikal itu cukup berani. Berdasarkan pengamatannya, Tanisha sepertinya tidak sembarang menyebarkan 'berita'. Ia tampaknya punya target yang kebanyakan anak-anak konglomerat, populer, dan semacamnya. Gadis itu juga rupanya cukup lihai dan piawai bermain api di antara orang-orang yang punya kuasa, padahal ia sendiri bukanlah orang berada.

Kerusuhan di ujung koridor membuat kepalanya tertarik. Ia bergegas menghampiri, begitu pun dua orang yang berbincang dengannya. Di saat begini, peristiwa menghebohkan semacam itu bisa jadi penambah informasi atau petunjuk sesuatu.

"Lo pasti tahu sesuatu soal kematian Tanisha! Lo yang temuin mayat dia! Bahkan minggu kemarin lo juga sempat temuin dia sebelum bestie lo yang labrak teman gue. Pasti kalian rencanain sesuatu, 'kan?"

Tubuhnya yang tinggi memudahkan Elias melihat sumber kerusuhan yang dikerumuni para siswa. Tampak dua orang gadis sedang berselisih. Lebih tepatnya hanya si gadis berponi yang mengamuk karena gadis yang satunya lagi terus diam.

"Ayo jawab! Punya mulut gak sih?"

"Aku ... gak tahu."

Suara gadis itu sangat lirih. Elias bahkan tak akan menyadarinya kalau tak membaca gerak bibirnya. Reaksi itu membuat si gadis berponi kian mengamuk. Ia bahkan hampir menjambaknya kalau dua temannya tidak menahan tangannya.

Lagi pula apa yang dilakukan Ayla Amarys di gedung ini? Ia harusnya tahu dirinya adalah sasaran empuk para pembenci Hazel yang kebanyakan berasal dari sini, apalagi setelah peristiwa kemarin. Omong-omong, di mana teman-temannya? Ia tampak makin tertekan. Wajahnya pucat dan tangannya terus meremas ujung jas seragamnya gelisah.

Haruskah Elias melakukan sesuatu? Sebuah impuls kecil mendesaknya turun tangan. Mungkin karena Ayla Amarys adalah variabel penting dalam semua ini. Namun, seorang penonton sepertinya tidak boleh mendistraksi pertunjukan. Itu bisa mengacaukan banyak hal. Lagi pula, di sini ia tidak mau mencolok.

"Friska, cukup. Ayla memang saksi, tapi belum tentu dia ada hubungannya sama kematian Tanisha. Kita cuma bisa tunggu hasil penyelidikan polisi. Mereka pasti ungkap kebenarannya sampai tuntas."

Satu pemain baru masuk ke dalam panggung. Elias bersedekap melihat kedatangannya, pertunjukkan jadi kian menarik dan dramatik. Sepertinya nyaris semua siswa tahu siapa dia.

"Banu, tolong ya ajak teman-teman kamu cari udara segar. Peristiwa kemarin terlalu mengguncang, kita semua masih terkejut dan berduka terutama Friska."

Pemuda tinggi besar yang awalnya hanya menonton teman-temannya itu memutar bola mata karena dimintai tolong seenaknya. Meskipun begitu, ia tetap menarik si gadis berponi mundur.

"Gue belum beres!"

Gadis itu menepis tangan temannya. Wajahnya merah, tampaknya ia akan meledak lagi.

"Friska, kita bicarain ini nanti ya?"

Wah, Elias sampai mengangkat kedua alisnya lebar. Satu kalimat itu entah bagaimana membuat Friska mengalah lalu mundur bersama tiga teman laki-lakinya.

"Menarik," gumamnya ringan.

Jari-jarinya tanpa sadar mengetuk paha mengikuti irama pikiran. Dipta Kanigara. Bakat politiknya alami. Kemampuannya mengendalikan kerumunan adalah senjata yang berbahaya. Entah murni karena wibawanya atau justru ia punya semacam kartu as yang bisa menundukkan mereka.

Dipta kemudian menarik Ayla menjauhi kerumunan yang bubar. Elias tertarik mengikuti mereka diam-diam, mungkin ia bisa melihat hal menarik lainnya.

Sepanjang mereka berjalan, Elias bisa melihat kalau gadis itu tidak nyaman. Ayla terus menatap lengannya yang—meskipun tertutupi seragam—ditarik oleh pemuda di depannya. Elias pernah mendengar kalau gadis itu mengidap alodinia. Kalau memang benar, seharusnya ia bisa menyatakan ketidaknyamanannya. Namun, gadis itu sepertinya hanya akan diam menangis seandainya Dipta berbuat lebih dari itu.

"Ayla!"

Lihat selengkapnya