Seminggu berlalu dengan cara yang aneh. Seolah waktu melengkung, berpilin, tersendat, melesat, lalu mengulang fase yang sama. Sekolah terasa panjang, terputus-putus, dan melelahkan untuk diikuti. Namun, saat ia menengok tanggal kalender, ternyata ini sudah berlalu seminggu lamanya.
Saka merasa tertinggal sekaligus terpaut dengan cara yang sama anehnya. Mungkin karena banyak hal yang terjadi. Ia dipaksa hadir, meski tak sepenuhnya menghadirkan diri demi melindungi dirinya yang rapuh.
Namun, Saka mengenal bisikan-bisikan mereka. Di sudut kelas, koridor, kantin, perpustakaan, lapangan, halaman, kakus, sampai di tangga—suara itu selalu ada. Suara yang hilang saat ia lewat lalu muncul lagi saat ia yang hilang dari pandangan mereka. Tidak ada yang berani menyebut namanya dan nama teman-temannya secara langsung, tetapi ia tahu arah pandangan itu ke mana.
Sebenarnya sejak postingan Tanisha mencuat, baginya sekolah berubah jadi ruang yang sempit. Nyaris tidak ada lagi canda atau kehebohan yang biasanya keluar dari dirinya. Ia lebih sering menarik diri. Sebab, napas dan langkahnya bahkan sering terasa terlalu keras di telinganya. Ketakutan itu hampir meruntuhkannya.
Namun di rumah, ia bisa bernapas lebih lega. Bersama teman-temannya juga membuatnya merasa lebih ringan. Ketegangan itu perlahan mengendur. Ia sadar selama ini terbiasa menanggung semuanya sendirian. Dan betapa asing rasanya ketika ada orang-orang yang berkata dan bertindak: "Kamu gak sendirian, kita di sini."
Meskipun keadaannya membaik, keadaan di sekolah tidak demikian. Semenjak penemuan mayat Tanisha yang menggegerkan, banyak spekulasi yang berseliweran. Ia dan teman-temannya kembali jadi sasaran.
Polisi bahkan datang, bertanya, dan mencatat. Saka dan teman-temannya bergantian duduk di kursi dingin ruang BK, berulang kali menjawab pertanyaan berinti sama dengan variasi yang berbeda.
Mau bagaimana lagi, mereka boleh dibilang sempat berseteru dengan Tanisha—karena ulah gadis itu sendiri. Di mata orang luar, konflik selalu terlihat lebih menarik daripada penyelidikan kebenarannya. Apalagi kasus itu bukan hanya jadi topik hangat di lingkungan sekolah, melainkan juga jadi sorotan masyarakat luas.
Akhirnya hari ini, kesimpulan penyelidikan diberitakan: bunuh diri. Berdasarkan hasil autopsi, Tanisha meninggal akibat menelan pembersih lantai. Selain itu, tidak ada bekas luka atau apa pun yang mengindikasikan kalau ia mengalami kekerasan atau dibunuh. Ia pun disimpulkan mengakhiri hidupnya sendiri.
Polisi juga sudah menyelidiki beberapa siswa yang pernah punya masalah terkait Tanisha karena gosip yang disebarkannya. Namun, tidak ada bukti serius kalau orang-orang itu yang membunuhnya. Meski spekulasi yang menyebar sebelumnya sangat liar.
Saka mendengarnya bukan dari televisi, melainkan dari layar gadget yang bergetar di sakunya pagi-pagi tadi. Ia tidak tahu harus merasa apa. Lega terasa tidak pantas. Sedih terasa terlambat. Yang tersisa hanya kehampaan yang menggantung di dada—kosong sekaligus berat.
Kemudian di sekolah, upacara hari Senin tetap dilaksanakan bersamaan dengan ucapan belasungkawa kepala sekolah dan guru-guru. Kepala sekolah lalu bicara panjang lebar tentang hasil penyidikan, tentang kepedulian, tentang kesehatan mental. Kata-kata itu mengalir begitu saja di telinga Saka. Ia menahan kantuk, memikirkan betapa ironisnya sekolah baru peduli setelah seseorang mati.
"Jika ada masalah berat," katanya, "silakan datang ke guru konseling."
Saka mendengus pelan. Menarik, meski terlambat.
Setelah selesai dengan pidatonya yang panjang, kepala sekolah malah mempersilakan seorang tamu undangan untuk bicara. Sebagian siswa berkasak-kusuk karena harus berdiri lebih lama lagi. Saka sendiri hanya mendesah lelah dan berharap kalau orang itu tidak bicara terlalu lama.
Tamu undangan ternyata seorang ahli hukum sekaligus pengacara. Beberapa siswa mulai gelisah. Namun, kantuk Saka lenyap saat ia menangkap maksud tersirat pembahasan pria itu.
"Adik-adik sekalian, sekali lagi kedatangan saya ke sini tak lain adalah untuk mengingatkan bahwasannya pencemaran nama baik, fitnah, dan lain sebagainya itu bisa merugikan orang lain dan ada hukum pidananya. Walau sebagian dari adik-adik masih di bawah umur, tetapi sanksi tertentu akan tetap diterapkan. Saya sudah menjelaskan contoh-contohnya dengan rinci dan singkat tadi. Semoga penjelasan saya ini ..."
Kata-kata berikutnya tidak begitu jelas lagi di telinga Saka. Meski ia tidak mengingat pasal-pasalnya, ia paham betul maksud sekaligus tujuan tersirat orang itu kemari. Ia pun melirik Hazel yang kebetulan berdiri di barisan sebelah.
Di tengah gumaman siswa lain, ia justru menahan diri untuk tak menyeringai. Sang Ratu rupanya mulai serius menanggapi rumor yang bertebaran menyasarnya. Dia mulai menggerakkan bidaknya.
___
Perkiraan waktu kematian Tanisha sekitar pukul 14:30. Nilai probabilitas yang disebut Rayn dulu berarti sudah genap mencapai hasilnya—gadis itu bunuh diri. Atau disimpulkan bunuh diri. Namun, peluang di dunia nyata seringkali lebih rumit dan sulit dihitung daripada soal-soal dalam tugas matematikanya. Selalu ada kemungkinan lain dan itu membuat Ayla masih merasa gelisah.
Lagi pula bagaimana bisa ia tenang jika bersamaan dengan waktu kematian Tanisha, ada bayangan dirinya berjalan tanpa kesadaran?
Ia mengepalkan tangan. Kukunya menekan telapak tangan hingga berbekas. Ia tahu itu mungkin hanya pemikiran berlebihannya atau mungkin ia hanya terlalu sensitif. Namun, ia merasa perlu membuktikannya sendiri hari ini.
Saat bel pulang berbunyi, ia melangkah menuju perpustakaan sendirian, bukan ke gerbang. Teman-temannya sudah pulang dan ia sudah membuat alibi hingga mereka tak perlu menemaninya. Ia juga sudah mengirim pesan pada kakaknya kalau ia akan pulang lebih sore.
Perpustakaan belum sepenuhnya kosong, masih ada segelintir siswa lain yang menyimpang ke sana alih-alih pulang. Mereka mungkin mengerjakan tugas, sekadar membaca buku, atau justru menunggu sesuatu seperti dirinya.
Saat waktu yang ditentukannya tiba, Ayla berjalan ke gedung utama sekolah. Ia tahu Rayn sudah memperingatkannya agar tidak ikut campur. Mungkin karena itulah tiap langkahnya di koridor yang sepi terasa seperti pengkhianatan. Napasnya pendek-pendek dan ia harus terus membisiki diri sendiri: "Tenang, bersikap normal."
Gedung utama sekolahnya memiliki tiga lantai. Tujuannya ada di lantai terakhir di mana ruang monitor berada. Ruang itu berdampingan dengan ruang arsip, ruang kepala sekolah, dan ruang penting lainnya. Ia kembali mengingatkan diri untuk berhati-hati dan bersikap normal—sekalipun ia sudah menyiapkan alibi jika ditanya kenapa ke sana.
Sesampainya di depan pintu ruangan yang ditujunya, ia justru bimbang dan hanya bergeming. Lalu tiba-tiba pintu dibuka dari dalam. Ia termundur, jantungnya seperti mencelus.
"Wah, kebetulan. Pasti ada urusan juga, 'kan?"
Ayla refleks meremas bajunya. Entah siapa pemuda jangkung di depannya itu. Yang jelas ia bukan petugas pengawas karena ia memakai seragam yang sama sepertinya.
"Di mana petugasnya?" tanyanya berusaha tenang.
"Tidur."
Pemuda berwajah tirus itu menjawab enteng sambil membuka pintu lebih lebar. Di sana tampak seorang petugas yang tidur menelungkup di pojok meja.
Ayla merasa napasnya tercekat. Remasan di bajunya kian erat. Kenapa–