Sandakan, Mei 2003
Terminal Sandakan kian berdenyut menjelang malam. Di bawah guyuran hujan yang makin deras, seorang pria berompi lusuh sibuk memberi isyarat—mengatur bus yang merayap keluar terminal, sekaligus membuka jalan bagi kendaraan dari arah berlawanan. Pekik klakson yang bersahutan perlahan menenggelamkan gema azan dari surau sayu di kejauhan.
Tempias hujan yang sama memaksa seorang penjaja minuman di sudut lain bergerak cepat. Ia bergegas memindahkan botol-botol dagangannya dari gerobak, dibantu sang istri yang dengan sigap membentangkan plastik bening agar jualan mereka tak kuyup. Di dekat kaki mereka, anak lelaki mereka justru asyik bermain genangan air, kontras dengan kesibukan orang tuanya. Tak jauh dari sana, seolah tak peduli dengan riuh dan basahnya terminal, seorang pria lain tampak khusyuk menghitung lembaran uang. Berkali-kali ia membasahi jempol dengan lidah, memastikan tak ada satu lembar pun yang terlewat.
Di dekat mereka, di dalam sebuah bus yang mulai dipenuhi asap knalpot, sang juru mudi menyulut kembali sisa rokoknya dan bersiap menarik tuas persneling.
Tak jauh dari bus itu, Nazarudin—yang kerap disapa Din—berdiri mematung di samping bocah penjaja minuman yang masih asyik dengan genangannya. Pemuda berusia dua puluh delapan tahun itu sedang menunggu celah aman untuk menyeberang menuju pelataran terminal, bersiap melebur bersama sekelompok orang yang memiliki satu tujuan serupa: meninggalkan tempat ini.
Ketika hujan jatuh semakin menderu, Din akhirnya melangkah tegas membelah air yang mulai menggenangi aspal. Hanya sebuah ransel lusuh yang melekat di punggungnya—pemandangan kontras di tengah kerumunan calon penumpang lain yang sibuk menyeret bertumpuk barang bawaan.
Baginya, hujan dan kenangan adalah dua hal berbeda. Namun, ketika keduanya bertaut seperti malam ini, entah mengapa selalu ada aroma perpisahan yang terbawa. Perpisahan atas apa yang sedang ia rasa, atau perpisahan yang bahkan belum sempat menemukan kata mulanya
Dibayangi pikiran yang berkecamuk, Din terus melangkah, menembus tirai air yang kian lebat menuju kegelapan perut terminal.
Din akhirnya memutuskan menepi, berlindung di bawah selasar kedai makan yang tutup. Ia berdiri diam di sana, menjadi titik sunyi yang kontras di tengah hilir mudik manusia yang melangkah penuh tujuan. Sambil mengibaskan rambut yang kuyup, matanya bergerak liar menyapu deretan bus yang terparkir—mencari arah, meraba tujuan. Langkah kakinya masih terasa mengambang, seolah bumi di bawahnya belum cukup kokoh untuk dipijak.