Perbatasan Indonesia-Malaysia, Kalimantan Utara – 1995
Hutan begitu gelap dan lembap. Di antara kerapatan pohon, suara serangga malam bersahutan, beradu dengan helasan napas yang memburu.
Di balik sebatang pohon besar, Din (18), Hadi (17), dan Sul (22) tampak meringkuk dalam kondisi berantakan. Darah kering menempel di pelipis Din dan lengan Hadi. Sementara itu, Sul tergeletak lemas dengan kaki robek—sebuah luka terbuka yang mengerikan. Hadi terus menekan luka itu menggunakan secarik kain yang kini telah basah kuyup oleh darah.
"Aku sudah tidak kuat, Din..." rintih Sul kesakitan. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mencengkeram erat lengan Din.
"Tahan sebentar lagi, Sul," pinta Din, mencoba menenangkan. Ia kemudian menatap Hadi dengan tegas, lalu berbisik, "Kau jaga dia. Aku ke depan sebentar melihat keadaan."
Sebelum bersiap merayap membelah kegelapan hutan, Din membalas genggaman tangan Sul sejenak, seolah ingin menyalurkan sedikit kekuatan yang tersisa di tubuhnya. Harusnya kita sudah dekat jalan raya, batin Din, mencoba meyakinkan diri sendiri. Sebentar lagi mestinya ada kendaraan yang lewat.
"Tahan sekejap lagi, Sul," bisik Hadi lirih. Ia menatap lekat wajah sahabatnya yang kian pucat dan melemas.
Mendadak, dari kejauhan, seberkas cahaya samar muncul membelah rimbunnya pepohonan. Itu sorot lampu kendaraan. Cahayanya kian terang, menyapu batang-batang pohon di sekitar tempat mereka bersembunyi. Melihat cahaya itu, Din memantapkan hatinya. Jika memang ini akhir dari kami, akan kujemput tanpa keraguan!
Din berdiri tegak. Tanpa ragu, ia menghunus parangnya, memotong sebatang dahan pohon dengan cepat sebagai penanda posisi mereka. Ia lalu berlari kencang ke tengah jalan, nekat menghadang sorot lampu yang kian dekat dan menyilaukan mata.
"Tolooongg!!" teriak Din lantang sembari sekuat tenaga melambaikan dahan pohon di tangannya. Ia terus melempar sinyal, berdiri kokoh di tengah jalan demi memaksa kendaraan besar itu menghentikan laju.
Kendaraan itu rupanya sebuah truk pengangkut sawit yang sedang melintas membelah senyapnya malam. Di dalam kabin kemudi, dua pria duduk santai; sang sopir asyik menyesap rokoknya, sementara pemuda di sebelah mendendangkan lirik lagu slow rock yang populer masa itu. Ketenangan mereka koyak seketika saat bayangan Din mendadak menyembul di tengah jalan.
Terkejut setengah mati, sang sopir refleks menghantam pedal rem sedalam-dalamnya. Ban truk seketika terkunci, selip, dan berdecit nyaring memekakkan telinga—berjuang keras mencengkeram permukaan jalanan hutan yang licin akibat lumpur sisaan hujan.
"Anjing!!" umpat pemuda itu, emosinya seketika tersulut.
Jari-jarinya dengan cepat menyambar sebatang besi yang sengaja disimpan di bawah dasbor. "Kau ambil alih kemudi!" perintahnya ketat kepada pria di sebelah.
Tanpa gentar, pemuda itu mendorong pintu kabin dan membantingnya keras-keras. Bertahun-tahun hidup di belantara membuatnya kenyang menghadapi perampok hingga terkaman hewan liar. Ia mengambil langkah maju, memasang kuda-kuda menantang. "Apa maumu?!" gertaknya nyaring.