LAMPA'

A. F Rianti
Chapter #3

Bab 3

Dalam Perjalanan Menuju Pelabuhan Tawau, 2003


Dering nyaring ponsel Din mendadak pecah, mengoyak kesunyian di sepanjang perjalanan. Beberapa orang di sekitarnya refleks menoleh, memandang dengan raut takjub yang kentara—maklum, pada masa itu, benda bernama telepon genggam masih menjadi barang mewah yang langka.

Di usianya yang terbilang hijau, Din memang beruntung karena sudah mencicipi hidup mapan. Ia punya simpanan uang yang lebih dari cukup, beberapa unit sepeda motor, bahkan tempat tinggal atas namanya sendiri. Semua itu adalah buah manis dari keringatnya bertaruh nyali sebagai juru tagih alias debt collector pada sebuah perusahaan leasing di Kota Kinabalu.

Lantaran dering ponsel yang terus melengking tanpa kunjung diangkat, riuh rendah di dalam kabin perlahan menyurut. Beberapa penumpang menoleh terganggu ke arah Din, lalu memberi isyarat lewat kedipan mata kepada wanita di samping pemuda itu agar bersedia membangunkannya.

Namun, belum sempat wanita itu mengulurkan tangan, Din sudah lebih dulu bergerak merogoh saku jaketnya. Ia rupanya sama sekali tidak terlelap; ia hanya sengaja memejamkan mata, membiarkan pikirannya mengembara sepanjang perjalanan.

"Sudah sampai mana kau, Din?" Sebuah suara familier langsung menyergap begitu tombol hijau ditekan.

Suara di seberang sana rupanya milik Tobur, sahabat karib Din semasa mereka luntang-lantung di Malaysia. Tobur pula yang dulu menjembatani Din hingga bisa diterima bekerja di perusahaan leasing lokal. Ikatan darah sesama perantau asal Makassar membuat hubungan keduanya sudah seperti saudara kandung.

"Masih di Kinabatangan," sahut Din, pandangannya terlempar ke luar jendela bus. "Mungkin sekitar delapan jam lagi baru sampai Tawau."

Lihat selengkapnya