Perbatasan Indonesia-Malaysia, Kalimantan Utara – 1995
Hujan mengguyur rerimbunan pohon, membasahi tubuh-tubuh ringkih yang telah lama didera letih. Dingin yang menyergap perlahan mengendurkan otot-otot mereka yang sempat menegang kaku sepanjang pelarian. Sesekali mereka menengadah, membiarkan derasnya air hujan membasahi kerongkongan yang kering—sebuah upaya sederhana demi mengikis dahaga sekaligus menghanyutkan rasa gundah yang kian sesak menggelayuti dada.
Din bersyukur karena Tobur bukan tipe orang yang suka menguliti privasi orang lain. Sepanjang perjalanan di atas bak truk, ia sempat waswas jika pria Melayu itu akan mengorek latar belakang pelarian mereka. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sebenarnya sangat wajar bagi orang asing yang tiba-tiba muncul meminta suaka. Namun untungnya, sikap interogatif yang mencurigakan itu sama sekali tidak ia temukan pada sosok Tobur.
“Aku memang tidak suka urusanku dicampuri. Aku pergi sejauh ini meninggalkan keluarga juga atas kehendakku sendiri. Aku tidak mengusik hidup orang lain, dan aku harap mereka pun memperlakukanku dengan cara yang sama,” batin Nazarudin menegaskan prinsipnya.
Demi mengusir kecanggungan, ia mulai mengulurkan tangan, membantu Tobur menata kembali barang-barang yang bergeser berantakan akibat guncangan hebat truk yang menghantam lubang jalanan.
Sesekali, netra mereka saling beradu dalam diam—sebaris tatapan datar yang sebenarnya sarat akan batas-batas tak kasat mata. Pesan dingin dari Din tampaknya tertangkap dengan baik. Tobur hanya mengangguk tipis, lalu kembali menekuni parang panjang di pangkuannya. Pemuda Melayu itu membiarkan deru mesin truk dan debur hujan kembali mendominasi bentang malam.
Tak terasa, hampir dua jam roda truk bergulat dengan lumpur. Di kejauhan, mulailah menyembul siluet deretan rumah panggung kayu yang berjejer ringkih di tepian petak perkebunan. Beberapa truk muatan usang terparkir tak jauh dari sana. Di bawah temaram lampu minyak, tampak aktivitas para pekerja yang sibuk mengisi jeriken-jeriken besar; aroma pekat bahan bakar yang sangat familier di hidung Din seketika menusuk kuat begitu mereka melintas.
"Kita masih belum sampai!" seru Tobur, suaranya membelah gemuruh mesin.
Pemuda Melayu itu seolah mampu membaca gelagat Din dan kawan-kawannya. Wajah-wajah legam itu dipenuhi tanda tanya besar, meski lidah mereka mendadak kelu untuk sekadar bertanya.
"Masih butuh sekitar tiga puluh menit lagi untuk menembus kebun. Kalau awak heran melihat tempat ini, ini bekas lokasi pengolahan minyak mentah dari kilang tua di ujung sana. Sudah telantar sejak sepuluh tahun lalu," papar Tobur panjang lebar. "Sisa minyaknya memang sudah tiris, tapi masih cukuplah buat menghidupi genset dan kebutuhan harian orang-orang di barak sini."