Pintu bilik rumah panggung itu terbuka, tepat di depan tempat Nazarudin, Sul, dan Hadi sedang bercengkerama. Tobur muncul membawa seteko kopi yang masih mengepul panas. Aroma Robusta yang khas segera menyeruak; pahit dengan sentuhan aroma kacang yang menggoda selera. Malam itu terasa jauh lebih hangat saat mereka menuangkan kopi ke gelas masing-masing tanpa rasa sungkan.
"Korang cukup cekatan juga..." Tobur mulai membuka pembicaraan.
Ia mengambil sebatang rokok yang sedang dinikmati Nazarudin, menyesapnya dalam-dalam, lalu mengepulkannya ke udara. Ujung bibirnya membentuk senyum tipis yang penuh arti.
“Biasanya newcomer belum boleh mengimbangi kami, tapi korang lumayanlah,” ucap Tobur sedikit meledek, meski nada bicaranya jelas mengandung pujian untuk tiga sekawan itu.
Din mengambil kembali batang rokoknya dari tangan Tobur. Ia mulai membuka diri; rasa sungkan dan segan yang tadi menghimpit kini telah menguap. Rasanya seolah mereka sudah berkawan lama. Pertemanan itu mengalir begitu saja di antara kepulan asap rokok dan aroma kopi.
“Sebelum ini kami kerja di kebun sawit, jadi kerja macam ni sudah tak asing lagi bagi kami,” ucap Nazarudin mulai bercerita.
“Betul, dah biasalah kita kerja kasar macam ni,” timpal Hadi, mempertegas pengalaman mereka.
"Nasib baik rupanya," gumam Bur
“Kita kerja macam kerbau, setahun tak ada upah pun yang kita dapat!” umpat Hadi. Ia melengos, membuang muka ke arah kegelapan hutan dengan rahang yang mengatup rapat. Guratan urat di lehernya tampak menegang, menahan amarah yang nyaris meledak.
Sul dan Din pun tertawa getir, ingatannya mundur mengingat mereka diperlakukan bagai budak oleh orang yang mereka kenal di kampungnya. Bunyani adalah sosok yang terkenal mapan di kampung, lama tak pulang ia dikenal sukses diperantauan. Tak ayal mereka tergoda oleh iming iming Bunyani kala itu.
“Ada lah (bedanya). Kalau kerbau, macam kau tak dapat rumput saja di sana,” ejek Sul, mencoba memecah kekakuan Hadi.