Makassar, Desember 1994
Lorong Rajawali seolah mentasbihkan dirinya sebagai wilayah yang memiliki hukum dan kuasanya sendiri. Di sudut-sudut gang, bau kecut arak murah dan kepulan asap rokok lintingan berbaur pekat dengan udara malam yang lembap. Bagai paradoks; meski bagi orang luar tempat itu tampak menjijikkan layaknya sarang maksiat, bagi warga sekitar, keberadaan kelompok pemuda itu adalah "polisi bayangan" yang jauh lebih disegani ketimbang aparat berseragam.
Berbekal dalih menjaga keamanan kampung dari ancaman luar, para pemuda ini betah berkumpul hingga fajar pecah. Deretan botol minuman keras di atas meja kayu yang mulai lapuk dianggap sebagai bumbu wajib, sarana jitu pengusir kantuk selama berjaga. Warga setempat pun terjebak dalam ironi; mereka memilih menutup mata rapat-rapat atas aktivitas tersebut. Bagaimanapun, mereka merasa jauh lebih aman terlelap di bawah perlindungan para pemabuk ini, ketimbang harus bertaruh nyawa menghadapi bajingan jalanan yang kerap mengincar harta benda mereka.
Kepercayaan itu mengakar kuat sejak insiden dramatis yang menimpa anak Daeng Baba. Kini, suara tawa yang pecah akibat mabuk dan denting botol yang beradu justru menjadi pertanda bagi warga bahwa malam mereka akan tetap aman. Di sudut lorong yang gelap itu, para pemabuk telah menjelma menjadi "penjaga" yang tetap terjaga.
“Ada acara kah malam ini?” tanya Din sembari menepuk ringan pundak pemuda yang sedang asyik mengocok kartu di hadapannya.
Sul menoleh, memorak-porandakan konsentrasinya pada permainan. “Eh, rupanya kau, Din. Sini, bergabung ka’,” sambutnya sembari menggeser duduk dan memberi ruang bagi Din.
“Pastilah ada!” Sebuah suara familier menyahut lantang dari arah belakang. Pemuda itu muncul dari kegelapan lorong sambil menjinjing jeriken beraroma kecut berisi tuak murahan.
Pemuda itu bernama Romli, anak kepala desa yang cukup disegani di lingkungan sana. Bukan semata-mata karena pengaruh jabatan ayahnya, melainkan lantaran tabiat Romli yang terkenal royal. Dialah yang hampir selalu menjamin ketersediaan "amunisi" agar tongkrongan tetap hidup hingga pagi buta. Namun, malam ini ia tak datang sendirian.
"Kenalkan dulu sepupuku, si Bunyani ini," ujar Romli, memecah lingkaran sembari memperkenalkan lelaki gagah yang berdiri di sebelahnya.
Sontak, semua mata tertuju pada pria itu. Penampilannya tampak teramat parlente untuk ukuran pemuda di wilayah tersebut—sebuah pemandangan yang ganjil sekaligus asing di tengah pekat dan kumuhnya lorong. Siapa pula yang tak kenal Bunyani? Lelaki yang hampir sepuluh tahun lamanya tak pernah lagi menginjakkan kaki di kampung halaman. Desas-desus soal kesuksesannya di tanah rantau seketika terbukti nyata, sahih terpancar dari setelan bermerek yang melekat necis di tubuhnya.
“Aih, Saudara Bunyani! Lama betul tidak kelihatan. Makin sukses besar mako ini, eh!” seru salah satu pemuda, memecah kecanggungan.