Ayah selalu se-prepare ini.
Kita akan piknik. Aku, Ayah, Ibu dan Ka kelana. Dengan kain lebar bermotif kotak-kotak merah serta keranjang rotan khas tools piknik, ibu menyiapkan semuanya atas rencana-rencana ayah. Ibu menatanya secantik mungkin sehingga bisa memenuhi kebutuhannya untuk posting instagram. Ibu sedang ketagihan social media, berusaha uptodate katanya.
Ayah sengaja merencanakan ini untuk merayakan kepulangan Ka Kelana. Dengan Jeep Wrangler Rubicon hitam kesayangan nya, kami sekeluarga di boyong ke sebuah bukit yang tak jauh dari Bandung, masih di area Jawa Barat. Dia stir mobilnya sendiri. Ka Kelana duduk di depan dan aku Bersama ibu di belakang. Langit sangat cerah dikala itu.
Ini kegiatan rutin yang sering kami lakukan. Aku bersyukur atas keluarga yang seperti ini. Pa Dandi dan Bu Alina, mereka sangat berharga. Dan ayah, bagiku merupakan sebuah inspirasi, semacam target yang setidaknya bisa aku samai. Walaupun aku yakin ayah pasti ingin aku bisa melebihinya. Ayah memang tidak memiliki waktu yang banyak untuk keluarga, ia memiliki mobilitas yang tinggi, pagi hari ada di satu kota, sorenya bisa di kota yang lain, bahkan sesekali bisa ada di negara lain. Tapi yang tetap membuatku kagum padanya, dia selalu berusaha memberikan kualitas pertemuan yang tinggi walaupun dengan waktu yang singkat. Entah hanya sekedar mengantarku ke kampus atau pergi berpiknik sekeluarga seperti yang kita lakukan hari ini.
Kita sudah sampai ditempat tujuan. Langitnya cerah, tapi anginnya dingin, membuat segar. Banyak pohon rindang dengan hamparan rumput hijau yang begitu luas, pemandangan indah yang membuat suasana semakin sejuk. Ibu menggelar tikar di bantu Ka Kelana, aku sibuk memotret momen dan Ayah sudah bersiap-siap untuk bersantai. Aku ingat cerita Ka Kelana ketika dia di Jerman, dia sangat rindu katanya. Rindu momen bersama seperti ini.
Kegiatan kita sebenarnya sederhana, hanya bincang-bincang, makan, foto-foto, tiduran, atau kadang bernyanyi yang semuanya itu di lakukan bersama.
“Kalau nanti kalian bertemu jodoh, pastikan kalau dia memang benar-benar berjuang untuk kalian ya.. “ tiba-tiba saja ayah membahas tentang jodoh.
Maklum, baik ka Kelana ataupun aku sudah tidak pernah lagi membawa siapapun ke rumah dan dikenalkan pada ayah ibu sebagai kekasih. Tampaknya kami juga sepakat kalau hal seperti itu bukan jadi prioritas.
Cerita tentang hubungan ayah dan ibu selalu menarik untuk didengar berulang-ulang. Perjuangan ayah untuk mendapatkan ibu begitu menginspirasi. Aku sering berfikir kalau aku ingin mendapatkan jodoh yang seperti ayah, seorang pejuang yang selalu berkorban untuk orang-orang yang disayanginya. Yang jadi keren adalah pengorbanannya itu tidak berarti mengorbankan cita-citanya juga, tetap dia perjuangkan sampai semua terealisasi. Berkorban untuk memberikan 100% upayanya disetiap situasi apapun, bukan lantas membagi fokusnya sehingga berakhir dengan tak ada sama sekali yang optimal.
Aku dan ibu mulai beranjak dari tempat piknik kita. Aku harus menemani ibu hunting foto. Untuk social media. Biar followersnya makin banyak katanya. Kebetulan aku juga suka foto, baik itu sebagai fotografernya ataupun modelnya. Tempat kami piknik ini berada di sebuah bukit dengan pohon-pohon rimbun di sekitarnya. Bukan hanya kami yang piknik di sini, ada beberapa yang lain. Ada pasangan, sekelompok orang bersama teman-temannya atau keluarga-keluarga kecil seperti kami.
Aku melihat ada sekeluarga yang nuansanya mirip dengan keluargaku. Ada seorang bapak yang terlihat tegas, ibu dengan kamera di tangannya, seorang adik perempuan yang manis dan kakak laki-lakinya yang agak tampak lebih jauh karena sedang membawa barang. Kebahagiaan mereka begitu terasa hangat, pasti semuanya saling menyayangi. Aku bersyukur ada keluarga lain juga yang bisa sebahagia aku di keluargaku sendiri. Aku tau rasanya itu, pasti sangat menyenangkan juga.
Momennya menarik, harus aku potret tampaknya momen itu.
"hei, lagi liatin apa kamu?"Baru saja hendak akan ku potret ibu malah menarik ku dan meminta untuk pergi ke tempat lain.
"nikmatin pemandangan aja bu"
"pemandangan nya dalam bentuk alam atau dalam bentuk orang?" aku sering bingung sebenarnya dengan pertanyaan ibu yang arahnya kemana.