Langit Biru

Faldhy Dwi B.
Chapter #7

#7

Kuliah selesai lebih cepat, katanya ada semacam persiapan hari jadi kampus sehingga dosen menyudahi proses kuliah dengan lebih cepat. Hari ini semua kegiatanku telah selesai, tidak ada apa-apa lagi setelah kuliah ini. Selly sedang sibuk karena terlibat dalam festival musik di kampus yang tidak akan lama lagi bakal di selenggarakan. Ka gino juga sudah beberapa hari ini tidak mengontak, tampaknya sedang ada pada masa tarik ulur setelah kata-katanya waktu itu kepadaku, biasalah skillnya memang begitu kan. Restu dan teman-teman sekelas mengajakku untuk main dan nongkrong di cafe, tapi kalau hanya begitu-begitu saja aku terkadang malas dan enggan bergabung. Aku jadi bingung sekarang mau apa.

Aku bawa mobil sendiri kala itu. Sore ini begitu panas, mataharinya begitu menyilaukan. AC mobil kunyalakan cukup kencang dan penghalang silau ku turunkan. Jalan sudah terlihat padat, bisa dipastikan kalau jalan ke rumah pasti akan macet, bukan jam biasa aku pulang, sekarang bertepatan dengan jam bubar sekolah juga. Jalan ke rumahku melewati beberapa sekolah.

Ada WA yang masuk, dari Selly.

“Ra, buka web nya Festival Musik Kampus yaa.. Cek juga lagu-lagunya.. hihi”

Ini suatu kegiatan yang menarik banget bagiku. Inovatif. Selly dan teman-temannya di Fakultas Seni Musik ga main-main buat ngadain itu. Selly ketua pelaksananya. Jadi mereka memperbolehkan semua mahasiswa di kampus untuk ikut berpartisipasi, menunjukan kemampuannya dalam membuat sebuah lagu. Sebuah karya. Semacam pencarian bakat lah.

Bagus sekali Selly menginformasikan ini padaku, aku jadi tau sekarang harus apa. Bisa menemaniku melewati macetnya jalanan.

Aku membuka web nya di handphone, sudah cukup banyak yang mengupload lagu-lagunya. Akan kudengarkan semua.

Lagu-lagunya cukup enak di dengar difikirku, aku menikmatinya sampai sebuah lagu sedikit menghentakku. Bukan hanya karena lagunya enak didengar, tetapi rasanya aku sangat hafal setiap kata di liriknya. Aku pernah membaca itu, ‘apakah kita bisa tenggelam hingga akhir jaman’ merupakan satu bait lirik yang masih sangat jelas aku ingat. Judul nya “Berteduhlah”, langsung ku cari siapa penciptanya dan tanpa disangka itu adalah Langit. Pantas saja aku tidak asing dengan lirik-liriknya, aku pernah membacanya langsung dari buku catatan sang pencipta lagunya.

Sebuah jawaban atas rasa penasaranku tentang seberapa hebat seorang Langit bisa bermusik. Semua lirik dan musik yang dia sajikan aku rasa begitu dalam, ada pesan yang seolah-olah keluar dari dirinya, membuatku seakan-akan lebih paham tentang apa yang sebenarnya dirasakan Langit. Dia punya kemampuan untuk mengolah kata-kata menjadi lirik yang begitu dalam serta nada-nada yang begitu merasuk.

Kudengarkan semua lagunya. Seperti di detik ini dia duduk di jok mobil sebelahku dan menyanyikannya secara langsung.

Aku jadi ingin bertemu dengannya. Aku harus mengapresiasi Langit. Dia musisi yang hebat, Seniman sih lebih tepatnya. Pelukis yang pandai menulis dan membuat lagu, hebat dalam bermusik. Si pendiam yang ternyata memiliki banyak bakat. Aku menikmati lagunya sampai ku putar berkali-kali. Aku unduh juga semua lagunya. Anggap saja sebagai bentuk dukunganku. Tampaknya aku akan meresmikan diri untuk menjadi penggemar atas karyamu.

Benar saja, jalanan macet. Tepat sekali ketika bubaran sekolah. Ada satu area yang harus aku lewati ketika hendak pulang. Di area itu berjajar sekolah-sekolah, tak heran jika jam pulang sekolah sudah pasti macet. Tinggal satu belokan lagi dan aku bisa terlepas dari kemacetan ini.

Dibelokan terakhir itu aku melihat seseorang yang tidak asing bagiku sedang berjalan di trotoar jalan.

Itu Harum, adiknya Langit

“Hai Harum, ini aku. Satira. kamu baru pulang sekolah ya?” ku arahkan mobil lebih mendekat ke trotoar. Ku buka jendela dan memanggilnya. Ketika itu dia tampak seperti begitu kelelahan. Dia membawa sebuah kotak yang cukup besar ditangannya.

“loh,, ka satira?? Iyah. Aku baru pulang sekolah” mobil ku parkirkan dulu, dan aku turun dari mobil.

“ga dijemput Ka Langit?” seharusnya langit selalu sigap untuk menjemput Harum pulang dari sekolah.

“ngga ka, ka langit gabisa jemput katanya, ada yang harus dia urus dulu”

“aku antar pulang aja gimana?

“gapapa ka?”

Pintu mobil langsung ku buka saja dan langsung memintanya untuk masuk. Aku merasa semuanya serba kebetulan, niat hati ingin bertemu dengan orang dibalik lagu yang aku suka itu, tak disangka malah bertemu dengan seorang yang aku fikir sudah menjadi separuh dari hidupnya. Aku dan Harum bisa dikatakan cukup dekat, dia anak ceria yang sangat mudah bergaul dengan orang-orang baru. Padahal baru bertemu beberapa kali saja tapi kita bisa seakrab itu. Sangat berbeda dengan kakanya yang cenderung agak kaku dan enggan bersosialisasi dengan banyak orang.

“Ka Satira ko senyum-senyum sendiri begitu?” aku keasikan dengan apa yang ada dipikiran ku sendiri, sampai lupa kalau ada Harum disebelahku. Aku tertarik dengan apa yang dibawa Harum. Untuk apa dia membawa kotak besar itu ke sekolah.

“hehe, gapapa ko Harum. Kamu bawa kotak apa sih itu?”

“oh ini ka, aku jualan kue di sekolah. Masih ada sisa beberapa lagi” cukup mengagumkan anak seumurannya sudah mau berjualan sendiri, walaupun aku cukup penasaran kenapa Harum harus melakukan itu.

“jangan bilang sama kakak ya kalau aku jualan. Pokonya jangan bilang” tangannya mendadak menjadi begitu keras menggenggam kotak kue nya.

Tubuhnya jadi agak membungkuk dan mata yang berair ku rasa. Aku jadi bingung untuk meresponnya. Tatapannya juga jadi dialihkan dari pandanganku. Baru kali ini aku melihat harum tak seceria biasanya. Dia menjadi lebih mirip dengan kakaknya jika sedang seperti itu.

“hm, baiklah. Aku tak akan bilang pada kakakmu. Tapi kalau boleh tau, kenapa aku tak boleh bercerita pada Langit?” Harum tak menjawab sama sekali.

Keadaan di dalam mobil menjadi agak lebih dingin. Tampaknya ini begitu serius, aku rasa aku salah bicara, tak akan ku bahas lagi.

Lihat selengkapnya