Gino kembali lagi kepadaku dengan kepercayaan dirinya. Kali ini dia tampak sudah merencanakan sesuatu. Gelagatnya seperti seorang penjudi yang sudah sangat yakin menang pada permainan kartu di tangannya, yang padahal di belakang semuanya itu sudah dia rencanakan semua tipu muslihatnya. Entah sudah disiapkannya kartu-kartu cadangan, seorang bandar yang sudah disogok atau sudah bersekongkol dengan rekan penjudi lain.
“Hai ra, kangen aku ga? Udah lama banget ya kita ga ketemu, pasti kamu mikirin aku terus” Kita hanya tak bertemu sekitar 2 minggu dan kalau boleh jujur aku tak memikirkannya sama sekali. Banyak hal lain yang lebih menarik dari hanya sebatas memikirkan seorang Gino.
“haha, gitu aja sih” entah harus aku respon seperti apa.
“nanti datang ke festival musik kampus kan? Aku jemput kamu ya..”
Memang tak terasa acara itu sudah semakin dekat tanggal pelaksanaannya. Aku sangat ingin datang ke festival itu. Terlebih lagi aku ingin merayakan kemenangan idolaku yang baru, Langit. Pendengar lagunya di website kampus itu semakin banyak, sejauh ini dia masih unggul dari peserta-peserta yang lain. Sudah sangat banyak orang-orang yang membicarakannya. Mukanya jadi sering muncul di akun-akun sosmed kampus. Langit mendadak menjadi begitu terkenal. Tapi akhir-akhir ini dia malah jarang kelihatan di kampus.
“Gimana?, ko malah diem sih”
Aku skip. Lupa kalau ada ka Gino. Ajakan ka Gino untuk datang Bersama ke acara itu memang serba kebetulan. Aku yang dibilang apatis ini oleh teman-teman kampusku memang selalu kesulitan jika ingin datang ke acara kampus, bukan karna aku tak punya teman, tapi kebanyakan dari mereka pasti akan terlibat sebagai panitia, bukan hanya sebagai penonton sepertiku. Selly yang biasanya aku ajak, untuk acara yang sekarang ini dia tidak bisa karna dia adalah panitianya, ketua pelaksana lebih tepatnya. Jadi mau tidak mau ajakan ka gino ini sangat pas dengan situasi yang ada.
“boleh deh ka”
Muka ka Gino agak menyebalkan sih. Merasa sangat menang. Aku jadi merasa termakan oleh perangkap yang barangkali sudah dibuatnya, aku harus berhati-hati. Aku sempat tertarik pada ka Gino, wajah tampannya, sikap baiknya, tapi entah kenapa sekarang menjadi berkurang rasa tertariknya. Lagipula aku juga malas kalau harus meladeni fans-fans fanatiknya yang selalu saja memberikanku tatapan yang tak mengenakan kalau aku sedang Bersama ka Gino. Mungkin ini juga akan menjadi momen terakhirku untuk sering-sering Bersama ka Gino. Mumpung lah. Itung-itung ada yang menemaniku datang ke festival musik di kampus.
“pokonya nanti kamu dandan yang cantik ya.. biar aku kenalkan kepada teman-temanku, banyak alumni-alumni juga yang akan datang”
“nanti berkabar lagi aja ya ka”
Ka Gino mengajak ku makan siang setelah itu. Biasalah hanya disekitaran kampus sambil menunggu jam kuliah selanjutnya. Ka Gino banyak bercerita pada waktu itu, tapi aku tak begitu tertarik sejujurnya.
Ada yang lebih membuatku tertarik. Tak jauh dari tempat aku dan Ka Gino makan, ada segerombolan mahasiswa, beberapa orang laki-laki dan satu orang perempuan. Mereka begitu riuh sehingga secara tidak sadar seisi tempat makan bisa dipastikan mendengar apa yang mereka bicarakan. Begitu jelas mereka membicarakan tentang festival musik, tentang album digital dan pengunduh yang semakin banyak. Alur pembicaraannya tidak begitu aku pahami karna bercampur dengan segala macam bualan ka Gino, tapi semakin jelas ketika suatu nama keluar. Langit. Ya nama itu disebutkan oleh mereka.
Aku melihat lagi secara langsung ke arah mereka, kalau aku perhatikan, ternyata salah satu diantara mereka aku kenal. Namanya Bimo. Tidak begitu kenal sih, hanya tau saja dari teman-temanku yang pernah membicarakannya, kita tidak pernah berinteraksi sama sekali sebelumya. Dia tidak lebih dari sekedar mahasiswa-mahasiswa yang sering nongkrong dan mabuk-mabuk di sekitaran Benteng (semacam warung dekat kampus yang dinamai begitu), dan dia adalah anak seni rupa, wajar kalau mereka mengenal Langit. Langit yang sering aku fikirkan akhir-akhir ini, efek dari lagu-lagunya aku rasa.
Mereka seperti sedang membahas suatu rencana. Rencana untuk langit tentunya. Obrolannya dipimpin oleh satu-satunya perempuan di kelompok itu, dia begitu menggebu-gebu membahas tentang langit. Seperti yang sudah sangat akrab dengan Langit.
‘Siapa ya dia?’ fikirku dalam hati. Agak aneh kalau ada perempuan yang begitu akrab dengan Langit, harusnya dia akan tertutup juga kan dengan perempuan manapun.
Perempuan itu memegang sebuah CD di tangannya, kalau dari pembicaraan mereka, itu adalah CD lagu-lagunya langit. Album fisiknya. Seperti yang dituliskan di website kampus. Mungkin perempuan itu yang bernama Sandy ya, seperti yang juga tertuliskan di website sebagai contact personnya jika saja ada yang mau album fisiknya itu.
“Hei, lagi ngeliatin apaan sih?” ah ka Gino mengganggu nih. Aku kan sedang melakukan ekspedisi. Aku harus menemui mereka agar bisa membeli album itu.
“ngga ka, lagi ngelamun aja”
“Ka Gino makannya sudah? Aku sudah harus masuk kelas lagi nih”
“bukannya masih sejam lagi ya?”
“iyah. Kata temen-temenku kuliahnya dimajuin. Jadi aku harus buru-buru”
Sandy, Bimo dan teman-temannya yang lain sudah beranjak pergi. Aku harus mengejar mereka. Biar bisa segera dapat albumnya. Biar aku bisa jadi fans seutuhnya. Haha
Secepat kilat aku berusaha mengejar mereka. Ka Gino ku tinggalkan begitu saja, dia sempat memanggilku beberapa kali tapi aku bertingkah masa bodoh. Suaranya sudah tak ku dengar lagi ketika aku melesat menyebrang jalan. Aku kehilangan jejak. Teman-teman Langit itu menghilang entah kemana.
Aku masih ada waktu sebelum masuk kelas. Kulangkahkan kaki menuju fakultas seni rupa, cukup jauh tapi tak apa ku kira selama rasa ingin tahuku bisa terpuaskan. agak membingungkan harus dicari kemana, fakultas seni rupa bukan tempat yang sering aku datangi jika ditelusuri lebih dalam lagi aku bisa tersesat di kampusku sendiri.
Aku ingat, di website kan ada contact personnya, kenapa aku tidak berfikir jernih sih.
'aku mau album fisiknya Langit Biru. bisa ketemu? aku lagi di fakultas seni rupa' ku kirimkan pesan lewat WA dan tak lama dari situ pesan pun dibalas.
'sini aja. ke Benteng'
Aku bergegas. sebentar lagi sudah jam masuk kelas.
Mereka kutemukan.
"Hai, tadi aku yang WA. masih ada CD nya Langit Biru? aku mau satu" Semua mata mereka menatatapku serempak. ada 6 pasang mata kalau tak salah. Mereka semua menerawangku dari atas sampai bawah. berkali-kali. Sandy memicingkan senyumnya dan saling melirik dengan teman-teman lelakinya yang lain. Mereka tampak kaget melihatku.
***
“ Selamat siang, Paket “
“ De, tolong ambilkan paket itu di depan “ Harum keluar dan membawanya. “ Eh, Mas, paket pulsa ada ga? Quota ku habis nih “
“ Harum, masuk! itu bukan tukang pulsa “ Dia memang suka becanda gitu kadang-kadang, entah turun dari siapa. Mungkin Kakeknya.
“ Nih kak “ Memberikannya padaku dan kembali ke kamar, ia kini gemar membersihkan Action Figure, Batman adalah idolanya. Ia pernah bilang padaku, ingin di belikan lemari kaca kalo ulang tahun, katanya agar Action Figurenya tidak berdebu. Sampai-sampai aku pernah melihat ia memegang semua mainannya dengan sarung tangan plastik :(
Ku simpan koran hari ini, capek, semuanya isinya tentang pemilu. Gak beres-beres kayanya nih sampe firaun hidup lagi.