Langit Biru

Faldhy Dwi B.
Chapter #10

#10

Hari Festival telah tiba.

Kampus didekor menjadi begitu meriah. Area parkir yang biasanya dipenuhi oleh mobil-mobil dosen disulap menjadi area panggung utama. Disekelilingnya berjajar booth-booth makanan, lampu-lampu bergantungan terkait dari satu pohon ke pohon lain. Teman-teman kampusku berdandan begitu berbeda dari biasanya. Malam itu begitu heboh, akan sangat seru pikirku.

Acara sudah mulai semenjak siang, tapi acaranya puncaknya baru selepas jam 7 malam. Ka Gino menjemputku jam 4 sore tadi. Kita sudah di kampus sekitar jam 5 sore. Karna aku datang dengan ka Gino, konsekuensi nya aku harus mengikuti kemanapun dia pergi. Bukan tak berani sendiri, tapi setidaknya menghormati saja, dia sudah mau menemani dan menjemputku, ya aku ngikut saja biar impas.

Ka Gino mengajakku bertemu teman-temannya.

“Ginoo,, luar biasa nih udah bawa yang baru lagi aja” Kalau tidak salah Namanya Donny atau siapalah aku tak menganggapnya penting. Hampir menjadi mahasiswa abadi juga seperti ka Gino, hanya berbeda jurusan tapi masih sama di satu tongkrongan. Wajah mereka semua sudah sangat terlihat berumur.

“haha, kenalin Namanya Satira. Calon pacar. Iyah ga?”

‘Oke, ini sudah mulai tidak nyaman’ dalam hati aku mulai ngedumel. Aku cuman bisa tersenyum mendengar pernyataan ka Gino itu. Percaya dirinya sudah terlalu berlebihan.

“mantaap. Kalau sudah resmi bisa dong ya minum-minum. Haha” tangan si Donny itu memegang pundakku. Aroma tubuhnya tidak mengenakkan, seperti minuman keras. Kalau saja situasi kampus tidak seramai sekarang, aku pasti sudah menghajarnya karna bertindak tidak sopan padaku.

“sudah-sudah, jangan ganggu Satira ya. Masih belum jadian nih. Kalau nanti dia kabur bisa gawat. Hahahaha”

Aku sudah sangat ingin kabur ka. Tapi acara nya saja masih belum benar-benar di mulai. Aku harus bertahan.

Aku melihat Selly.

Dia sedang sibuk sih kayanya, tapi aku harus menghampirinya. Biar ada alasan untuk lepas sesaat dari ka Gino.

“ka, aku mau ke Selly dulu ya sebentar. Dia ada di dekat panggung. Nanti berkontak aja ya di WA”

“oh yasudah, jangan lama-lama ya.. nanti aku kangen. Hihi”

Ka Gino semakin aneh dan menyebalkan. Aku menyesal datang ke festival bersamanya. Lama-lama dia semakin berani kepadaku. Sepertinya perasaanku ke dia sudah benar-benar pudar.

“Ciee ketua pelaksana sibuk banget nih” ku tepuk pundak selly. Dia sibuk dengan HT nya.

“Hai ra, makasih ya udah dateng ke acaranya. Emang nih sahabatku ini selalu support kegiatan aku.”

“iyah dong.. walaupun bukan cuman gara-gara kamu aja sih. Hihi”

“ih apaan sih. Haha. Emang gara-gara apa lagi?”

“Rahasia dong. Hehe Eh siapa yang jadi juara festivalnya? Bocorin dong”

“Rahasia. Wlee.. hahaha”

“ih,, langsung balas dendam. Haha. Gimana, semua rencana acara nya berjalan lancar?”

“sejauh ini sih lancar. Semua sesuai dengan rencana. Berkat kamu juga kan sering bantuin aku dan ngasih masukan kalau ada kendala-kendala selama persiapan acara kemarin”

Aku seneng banget bisa ketemu Selly. Tapi sayang dia harus balik lagi ngurusin acara. Sekarang aku sendirian. Beberapa kali ketemu temen-temenku juga sih tapi ya gitu cuman selewat-selewat saja, tapi lumayan fikirku Aku masih enggan kalau harus kembali ke ka Gino dan teman-temannya. Akhirnya aku jalan-jalan saja berkeliling melihat venue acara bersama Restu, serta teman sekelasku yang lain, Ganis dan Vinka..

Ada yang membuatku senang lagi selain tadi bertemu dengan Selly. Aku melihat Sandy, Bimo, Angga, Daus dan Gian. Mereka teman-temannya Langit. Aku mulai mengenal mereka secara langsung karena CD album lagu Langit yang kubeli dari mereka, walaupun pertemuan kami lebih seperti tempat introgasi pada saat itu. Seharusnya langit ada Bersama mereka. Aku harus menghampirinya.

Aku pamit dulu ke REstu dan yang lain. bagaimanapun aku harus menjaga hubungan walaupun dengan hanya basa-basi. Kutinggalkan mereka dan kuhampiri Sandy dan lainnya.

“Hai Sandy”

“oh hai.. Satira nya Langit. Eh… kamu liat Langit ga ya?“

“Loh, aku baru aja mau nanya ke kalian.”

“Dia ngilang, gatau kemana” Gian terlihat terus memperhatikan sekeliling.

“Iyah nih padahal ga lama lagi bakal ada pengumuman pemenang kan” daus tampaknya kesal.

“aku bantu cari ya” niatan utamaku datang ke festival kan memang untuk bertemu dengan Langit dan mengucapkan selamat secara langsung.

Aku yakin dia yang akan menang. Tapi bagaimana mungkin aku bisa mewujudkan niatanku itu kalau dia nya saja tidak ada.

‘Dia itu dimana sih sebenarnya’ selalu saja menghilang. Bagaimana caranya aku menemukannya.

Sepanjang pencarianku, lagu-lagu setiap peserta di perdengarkan. Ada yang dimainkan dengan lagu aslinya ada juga yang di cover oleh penyanyi lain. Lagu-lagu Langit juga beberapa kali terdengar. Karna hafal, aku pasti ikut bernyanyi atau hanya sebatas bersenandung dalam hati. Semua liriknya jelas tertanam dalam otakku. Kata per katanya.

Dan saat itu tampaknya aku jadi tau sekarang dia ada dimana. Semua lagunya itu pastilah bercerita tentang dirinya, tentang keresahannya, tentang orang-orang yang dia sayang bahkan memberikan petunjuk dimana dia sekarang.

Keramaian ini memang bukan tempat yang dia sukai aku kira. Hiruk pikuk kampus biarlah hanya menjadi latar belakang bisu yang mengantarkanku ke tempat dimana Langit berada.

Aku melihatnya. Sendirian. Di Ketinggian.

***

Sebuah panggung indie, di tengah taman kampus yang penuh dengan mahasiswa yang bolos. Ketua Festival Musik Kampus yang bodoh ini mengumumkan siapa pemenang program berbakatnya. Sely, dengan rambutnya yang itu-itu aja. Sangat percaya diri dan Bimo suka padanya? hmm…

Aku hanya berdiam diri di atas rooftop, melihat dari jauh ke bawah. Beberapa sms masuk dan aku menghiraukannya. Kadang-kadang panggilan telfon dari Sandy berdering beberapa kali. Aku tak peduli.

“ Assalamualaikum, Salam Sejahtera untuk kita semua. Selamat siang kawan-kawan.

Dengan bodohnya ia bergaya yel-yel ala organisasinya. Sungguh memalukan.

“ Sely, ucapkan selamat datang dulu buat dosen yang ada disini, jangan bodoh kau ini “ Lutfi menegurnya sambil berbisik.

Ups …

“ Sebelumnya, yang terhormat Ibu Dekan, Ibu Suci Permata Sari, Guru besar Seni Musik, Pak Sadiam dan Bapak Seni Budaya Pak Toto, juga organisasi yang saya cintai, Wahai kaumku di FMK. Cayooooo. Dan tak kalah pentingnya, saya ucapkan selamat datang kepada kawan-kawan kampus semuanya. Selamat datang di panggung yang berbahagia ini. Kali ini, sebelum bintang tamu datang, kami akan mengumumkan pemenang Festival Musik Kampus 2014. Sebagai pembuka, agar suasana semakin gila, sangat gila dan lagi-lagi gila …

Lutfi menepuk kepalanya. Malu mungkin ia punya ketua yang tak tau malu. Padahal text depan mimbarnya sudah di siapkan.

“ Setelah sekian lama, hasil seleksi kami, akhirnya kami memutuskan untuk …. Selamat

kepada Laaaaaaangit Birrrrrrrrru “

Semua mahasiswa bersorak riang, mereka seperti terkena hujan es. Lalu tiba-tiba salah satu musik berjudul Berteduhlah, milik Langit Biru di mainkan. Suasana pilu, musik membius dan membawa mereka seperti ikan-ikan lautan yang tenang mendalam.

Lihat selengkapnya