Lagi. Aku diajak untuk terlibat dalam suatu acara kampus. Diajak olah teman-temanku di fakultas Bisnis. Secara garis besar acaranya lebih seperti kegiatan social, tapi sebagai sebuah identitas, panitia juga mengemasnya menjadi begitu ‘bisnis’. Semacam project yang bisa disebut Sociopreneur, katanya.
Menurutku ada dua jenis kelompok mahasiswa yang mempunyai ciri khas ketika membuat sebuah acara. Yang pertama, mahasiswa yang mampu membuat sebuah konten acara yang secara substansi nya begitu dalam namun kemasannya biasanya saja. Yang kedua, mahasiswa yang secara kemasan acara bisa megah banget tapi substansinya ga ada sama sekali, yang penting keren aja. Tidak banyak yang bisa menyelaraskan keduanya dengan baik. Setidaknya setiap kegiatan aku kira harus memiliki dampak dan terus berkelanjutan efek yang ditimbulkannya juga.
Kali ini aku melibatkan diri. Selain acaranya tampak akan menarik, aku juga sepertinya harus agak menurunkan ego ku. Yang selama ini menjadi alasanku tidak banyak terlibat di kampuskan bukan acaranya. Biar sekalian juga aku tunjukan jati diriku yang sebenarnya. Haha
Aku di bagian acara. Risa ketua pelaksananya. Aku juga hanya menjadi anggota. Para ‘pejabat’ kampus memang sulit untuk di geser, mereka sudah punya panggungnya sendiri. Tapi aku akan berusaha seoptimal mungkin, berusaha jadi terbaik pada tugasku sendiri. Greget sama kerjaan yang lain akan aku hilangkan.
Sedikit bercerita tentang Risa, ia sebenarnya bukan asli Bandung. Iyah lahir di Jakarta dan besar disana, kalau tidak salah, ia baru tinggal di bandung ketika kelas 2 SMA yang berarti baru sekitar 5-6 tahun. Secara pemikiran dan sudut pandang, sesungguhnya aku punya kesamaan dengannya. Dia tidak seperti wanita kebanyakan yang seakan-akan hanya mementingkan penampilan saja. Dia punya prinsip yang dia perjuangkan, hidupnya bertujuan dan memiliki nilai yang kuat. Apa yang dia lakukan juga memiliki landasan yang kuat, dia tipe pemimpin yang keren. Aku jadi lebih banyak tau tentangnya ketika ikut kepanitiaan acara ini. Jujur aku pun salut padanya. Tapi ya bagaimana lagi, kesan awal kita satu sama lain membuat kita mengembangkan asumsi masing-masing.
Aku rapat disuatu sore di kampus selepas kuliah.
“ra, pegang untuk acara penutupannya ya. Jadi PJ untuk performernya” intruksi dari coordinator acara, Willy.
“oke. Ada target pengisi acara yang diincer ga?”
“kamu ngurusin pengisi internal aja. Yang artis-artis sama pihak-pihak luar biar diurus sama yang lain. Biar kamu ga keteteran” Willy memperjelas tugasku. Aku agak tersigung, seperti meremehkan. Tapi baiklah aku menurut saja.
“oke deh. Siaap”
“Aku pengen ada Langit. Si artis baru itu”
Awalnya aku kecewa karna aku seperti tidak dipercaya oleh panitia yang lain. Tapi mendengar nama Langit akan menjadi bagian dari pekerjaanku, mendadak aku jadi masa bodoh dengan kekecewaanku sebelumnya. Aku senang. Aku langsung membayangkan akan banyak momen-momen menarik ke depannya.
Aku langsung mengontak Langit. Setelah kejadian di festival itu, sesekali kita sering berkontak via chat.
“aku ingin ketemu. Kamu dimana?” aku chat Langit via WA. Agak lama kutunggu balasan darinya.
“di rooftop” balasan dari Langit, tanpa berfikir panjang lagi aku langsung menuju tempat itu.
Balasan singkat darinya itu seakan menjadi kode yang hanya aku dan dia saja yang mengerti. Aku merasa dia memperbolehkanku untuk berkunjung ke dirinya. Untuk lebih banyak tau. Seperti dibukakan pintu dan aku akan sangat senang untuk bertamu serta siap untuk disuguhi banyak hal.
Dia ada disana. Dengan kuas ditangan dan cat-cat kering yang menempel diberbagai tempat ditubuhnya. Langit cerah sore itu, mataharinya berwarna jingga dan begitu bulat, agak panas tapi dengan angin yang kencang dan dingin, khas kota bandung ketika kemarau. Langkah kaki ku pelankan, tak mau tiba-tiba mengganggunya yang seperti sedang serius. Perlahan aku mendekat sambil melihat lukisan-lukisan yang bersandar pada tembok-tembok rooftop. Aku juga melihat lukisan yang kulihat pada malam itu. Aku berfikir seketika kenapa semua karyanya itu seolah-olah berbicara, aku tak pernah banyak berbincang dengan Langit tapi aku merasa begitu mengenalnya. Suatu cara penyampaian yang berbeda. Membuatku jadi bisa menerimanya begitu saja tanpa perlu ditimbang dulu. Tidak seperti kalau aku mendengar langsung hanya dari kata-kata. Kata bisa menipu.
“ada apa Satir?” aku fikir Langit tidak sadar aku datang.
“oh hai, Langit. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Mudah-mudahan ga ganggu ya”
“hm. Boleh tunggu sebentar? Biar ku selesaikan dulu ini”
“Oh iyah. Silahkan”
Langit lanjut melukis. Aku duduk disebuah kursi kayu, menunggunya dan memandanginya.
Matanya bukan main. Begitu tajam. Bukan mata yang sering kulihat darinya. Penuh focus dan keseriusan. Dia seperti menuangkan semua rasa kedalam lukisan melalui matanya. Sekelilingnya seakan-akan ia hilangkan, hanya tersisa dia dan lukisannya. Hanya dengan melihatnya dalam diam saja aku seperti berbincang banyak. Aku betah walau hanya seperti ini saja juga.
Sekitar 20 menitan berlalu.
“maaf nunggu lama ya” Langit mulai memalingkan wajahnya ke padaku.
Aku deg-degan lagi. Kenapa sih sebenarnya aku ini.
“Jadi apa yang bisa aku bantu?” Langit mulai membuka pertanyaan padaku sambil membersihkan tangan-tangannya dari cat.
Aku langsung menjelaskan semua maksudku ke sana. Aku bercerita tentang kegiatan yang akan aku dan temen-teman difakultasku lakukan. Semua konsep acaranya aku jelaskan. Sampai akhirnya aku meminta Langit untuk menjadi salah satu pengisi acaranya, untuk bisa menyanyikan lagi lagu-lagunya itu.
“aku gabisa. Maafkan aku ya”
Itu cukup menohok sih. Mulutku sudah sangat berbusa menjelaskan semua maksudku mulai dari konsep hingga Teknis kegiatan. Aku juga sudah begitu banyak menyanjungnya dan memuji semua karya-karyanya juga. Dan dia langsung menolakku dengan tegas begitu saja.
“hm, boleh tau kenapa?”
“acara kemarin sudah cukup bagi ku, aku tak mau terlena lagi dengan kegiatan-kegiatan seperti itu. Aku hanya harus segera lulus kuliah dan bekerja mencari uang”
“tapi kamu kan berbakat banget dibidang itu, kenapa ga bener-bener ditekuni aja?”
“tolong jangan libatkan lagi aku di kegiatan seperti itu yaa. Tapi terimakasih sudah mau percaya sebelumnya.”