“ Kakanya harum ya? “ Seorang guru mendekatiku. Dia mengajaku ke ruangannya. Catnya putih, di belakangnya terdapat tumpukan buku. Bimbingan Konseling, papan penanda di mejanya. Kami berbicara. Seolah-olah ada kabar yang harus di bicarakan secara sembunyi-sembunyi.
“ Iya bu, ada yang bisa di bantu? “ Aku melihat namanya, Ibu Narnia.
“ Perkenalkan saya, Ibu Narnia, Guru BK di sekolah ini “ Kami bersalaman.
“ Ya begini nak Langit, saya rasa, Harum harus berhenti jualan di sekolah “ Ibu Narnia menjelaskanku dengan raut wajah yang sedih. Aku pun kaget mendengarnya. Baru tau kalo Harum berjualan di sekolah. Mengapa Harum tak pernah cerita. Aku menunduk dan memikirkan apa yang terjadi.
“ Maaf bu, emang Harum jualan apa ya? “ Mataku menunjukan ketidaktahuan dengan semua yang yang terjadi dan Ibu Narnia mempercayai itu.
“ Lah? Emangnya Kakaknya sendiri ga tau? “ Ia berhenti sebentar, melihatku dengan pilu. kemudian melanjutkan kembali kata-katanya.
“ Ia berjualan Kue Basah di sekolah, dan tadi ia berkelahi dengan teman sekelasnya. Mulanya, seorang anak bernama Disha membeli kue milik Harum, Namun tak lama berseling, ia tiba-tiba muntah dan minta di bawa ke UKS. Kini orang tua Disha sedang ada di UKS, sedang berkumpul disana. Mereka meminta saya untuk memberi tahu orang tuanya Harum. Kami tau, Harum hanya tinggal dengan Nak Langit. Mohon jika tak keberatan, Nak Langit bertemu dengan kedua orang tuanya Disha dan meminta maaf “
“ Saya salah apa Bu? “ Agak kesal aku mendengarnya.
“ Nak Langit, maksudnya… “ Ia bingung dengan apa yang di katakan Langit.
“ Dimana Harum? saya ingin bertemu dengannya lebih dulu “ Tegas diriku.
Harum datang dan dia menceritakan yang sebenarnya, sambil memeluku, dengan rambutnya yang acak-acakan, dengan bajunya yang kotor karena terjatuh saat perkelahian tadi dengan rekan-rekannya Disha. Wajahnya murung. Air matanya tak berhenti berlinang dan gugur seperti Bunga Sakura. Sebagai anak kecil di sekolah, ia di bilang seorang anak tukang kue, juga yang paling parah lagi, “Si Tukang Racun”.
Ia meminta maaf padaku karena tak pernah bilang kalau ia berjualan Kue Basah di sekolah. Ia hanya ingin membantuku dan membeli barang kesukaanya tanpa merepotkanku.
Soal Disha …
“ Ia berpura-pura kak, ia berpura-pura sakit, pergi ke UKS untuk membuat fitnah padaku. Hampir setiap hari ia mengejeku “ Si Tukang Kue Basah, bahkan pernah mendorongku hingga Kue ku jatuh.
Aku lalu menamparnya karena kalo dia sudah kelewat batas gini. Jika Disha benar sakit, harusnya kawanku yang lain juga sakit perut dong kak, bahkan, aku tau kualitas kuenya bagus kok. Selalu tertutup dan aku memperhatikan tanggal kadaluarsa “
Ia hanya menangis. Aku memluknya kencang, bicaranya terbata-bata, cegukan dan sangat ketakutan dengan keluarganya Disha. “ Tunggu disini ya Harum, kakak mau ke UKS dulu “
Aku datang dengan perlahan, membuka sebuah pintu kayu dan melihat orang tuanya Disha. Wajahnya. Seperti Setan.
“ Oh ini, kakak si tukang kue itu? Kalo kurang uang bilang, bukan meracuni anak orang “
Tanpa basa-basi
Tanpa harus berhitung
Tanpa peduli dengan apa yang terjadi
Aku memukul ayahnya Disha hingga terpental
…
“ Papaaaaah “ Istrinya berteriak dan ketakutan melihatku.
Pak Rudi pingsan, Seluruh siswa di UKS melihatku. Pak Dedi, menghadangku. Menahanku dengan tangannya yang kuat.
“ Dengarkan saya nak, saya tidak ingin ada keributan disini “ Tegas Pak Dedi.
Dua sekuriti sekolah datang dan melihatku. Ia ingin menangkapku, namun takut.
“ Kalian semua diam di tempatnya masing-masing “ teriaku keras. Aku melihat wajah semua orang yang ada disana.
“ Aku bahkan bisa membunuh kalian semua. Siapapun yang mengganggu adiku, apalagi memfitnahnya, kuperingatkan kalian untuk segera membuat kuburan pribadi “ Jarum jam seperti berhenti, hening dan menegangkan saat itu. Aku melihat darah keluar dari hidungnya Pak Nanang.
“ Sudah-sudah Nak. Mari kita selesaikan baik-baik “ balas Pak Dedi yang berusaha menenangkanku.
Aku tak peduli, aku pergi keluar dari ruangan UKS dan menjemput Harum dari di ruang BK.
Aku pergi meninggalkan ruangan itu, meninggalkan luka untuk keluarga badjingan.
“ Dan, kau, jadilah seseorang yang berakal sehat, tidakkah kau bisa membuktikannya lebih dulu bahwa anak perempuan itu sakit karena keracunan? bukan langsung menuduh Adiku “ Dengan keras aku membanting pintu BK, itu sudah cukup untuk memberitahunya.
Beberapa siswa keluar melihatku, mereka seperti sedang mencari tahu apa yang terjadi dan aku tak peduli.
“ Harum, bawa tas mu dan kita pulang sekarang “
Seorang guru matematika datang menghampiriku membawakan sebuah tas milik harum. Ia honorer disitu. tak banyak bicara. Jelas, dia tak mau melihatku. Namanya. Ibu Raya. Usia nya tak jauh berbeda. Rambutnya Hitam pekat. Dan, dari matanya, aku melihat ia guru yang jujur.
“ Maafkan kami, Harum anak yang baik “
(91)
…
Harum memegang tanganku dengan erat. Kami keluar dari sekolah itu, dua sekuriti kini siaga, mungkin di pikirannya aku akan memukul Pak Rudi atau hal lainnya yang bersifat kekerasan. Dan, Pak Dedi membukan gerbang pagar sekolah “ Mungkin nanti kita harus bicara, nak “
Aku melihat wajah Pak Dedi, 5 detik. Tanpa berkata apapun…
kemudian pergi.
Kami pergi dengan angkutan umum. Harum matanya lebam, ia tidak tahu harus bersikap apa lagi padaku. Ia hanya seperti serba salah.
“ Maafkan aku ya kak, maaf kalo aku tidak banyak cerita ke kakak “
“ Tidak apa-apa dek, sekarang pas sampe rumah, Harum mandi ya, ganti baju dan akan ku buatkan Es kelapa kesukaanmu. Mungkin kita perlu menggagendakan untuk naik gunung bersama. kali-kali bolos ga apa-apa lah. Aku juga dulu sesekali bolos, tapi Bapak gak pernah tahu hehe “
Kulihat senyumnya kembali. Ia menengoku dengan senang. ia memelukku.
“ Tapi kak … pengen sih, tapi naik apa kesana? Motorkan sudah gak ada “
“ Keterbatasan bukanlah penghalang Harum, kakak punya banyak teman, nanti kakak pinjam mobil ke mereka, ya sekitar 2–3 hari lah ya “
Saat itu juga, aku menelfon Bimo.
“ Bim, aku pinjem mobil ya besok “
“ Cie, mau jalan sama Satira ya? Sudah kuduga “
Aku menceritakan tentang kejadian di sekolah Harum. Ia mengerti dan mengizinkanku untuk membawa mobilnya hari ini.
“ Aku pinjamkan, asal …. “
“ Asal apa? “
“ Asal kau naik panggung nanti di acara agenda sosial kampus kita “
Aku diam dan ….
“ Oke, kapan bisa aku bawa mobilnya? “
“ Tak usah, nanti aku antarkan kerumahmu ya Lang “
Aku melihat Harum, apapun akan ku lakukan untuknya. Hanya dia satu-satunya keluargaku.
(92)
…
Kami berdua turun dari Bus. Berjalan dengan langkah yang tenang ke rumah. Angin seperti menyapa dengan sengaja. Sore sudah tiba, ku rindu rumah. Aku hanya ingin kasur, hanya itu. Ku lihat Harum sudah baikan. Syukurlah.
“ Mobil sudah ku simpan depan rumahmu ya Bimo “ Notif HP ku berbunyi.
“ Makasih Bim “
Mobil Nissan Serena Highway Star sudah ada di depan rumahku. Warnanya hitam dan di dalamnya di isu penuh dengan foto teman-temaku semua. Bertuliskan “ Kami ikut ya, walau cuma di wakilin sama foto “
Bimo merubahnya menjadi Campervan. Di dalamnya ada kasur lipat, kulkas dan dapur. Oh Sungguh, aku ingin memilikinya. Menjelajah ke setiap sudut daerah, membawa cat, kanvas dan kuas. Menggambar alam semesta.
Di kaca depan sudah ada kertas bertuliskan “ Bahagia selalu untuk adik kakak faforit kami semua, Langit dan Harum. Selamat menikmati alam yang syahdu “
“ Mobil siapa ini kak? “
“ Mobilnya Kak Bimo, dia pinjamkan beberapa hari kepada kita “
“ Kereeeeeen sekali ya “
“ Iya ya, eh, Harum cepat mandi dan tidur ya. Bersiaplah, Besok kakak akan tunjukan tempat spesial untukmu, ga bisa kakak kasih tau sekarang, biar surprise “
“ Siaaaaaaaaaaaaaap kak! “ Ia hormat seperti TNI. Rasanya, kejadian siang tadi hilang dari kepalaku. Melihat Harum menjukan keceriannya kembali, bagiku itu sudah cukup dari rasa cukup itu sendiri.
Hari itu sudah gelap. Harum pergi dengan gembira ke kamar mandi dan aku duduk didepan rumah. Di teras, di dua kursi dan meja kayu milik Bapak. Kali ini bulan terasa begitu hangat. Dingin begitu merdu. Aku tenang bersamanya. Mudah-mudahan besok menjadi hari yang menyenangkan buat Harum. Lalu, sebuah sms masuk ke handphone ku.
“ Malam Langit, maaf mengganggu, sedang ? Aku kok tegang banget ya nyiapin acara buat nanti “
***
Hari acara fakultasku pun tiba, semua rencana sudah disiapkan secara matang. Kita akan sangat sukses mengadakan acara ini. Sebulan sebelum acara, coordinator acara tiba-tiba saja mengundurkan diri, alasannya tidak jelas. Tapi karenanya itu aku ditunjuk untuk menggantikan posisinya. Beberapa hari yang lalu juga aku mendapatkan sebuah apresiasi dari orang yang paling tidak ku suka. Risa, dia memuji hasil kerjaku. Aku sangat puas. Usahaku tidak sia-sia. Tapi dia juga memimpin dengan luar biasa.
Sebenarnya masih ada sih yang meleset. Langit tetap tidak mau untuk bernyanyi di acaraku ini. Dasar dia keras kepala. Padahal aku sudah membujuknya dengan sangat susah payah. Tapi dia berjanji akan standby di galeri seni nya, di setiap lukisan sudah dituliskan ringkasan dari maksud setiap lukisan itu, tapi Langit akan ada di situ siap-siap jika saja ada yang ingin bertanya langsung tentang lukisannya.
Acara sudah dimulai. Langit masih belum datang juga. Mungkin dia sedang mengantar Harum dulu.
Tujuan utama dari acara adalah untuk penggalangan dana. Ada banyak titik yang kita buat untuk mengumpulkan dana sebanyak mungkin yang nantinya akan didonasikan. Ada pojok musik, tenant wirausaha, pojok edukasi hinga galeri seni tentunya. Galeri makin ramai. Karena acara ini untuk umum dan banyak pihak-pihak penting yang kita undang juga, galeri lukisan Langit banyak yang menggemarinya. Beberapa lukisan juga sudah ada yang menawarnya. Langit mempersilahkan untuk sharing profit, 20% keuntungan dari lukisannya akan disumbangkan ke orang-orang yang membutuhkan. Lukisan nya pasti akan laku keras.
Ada ka Gino, aku berusaha untuk tidak terlihat olehnya.
“sombong nih Satira, susah banget sekarang dihubunginya” tiba-tiba dia mendekati dan langsung mencolekku.
“oh ka Gino. Iyh ka. Aku sibuk persiapan acara” aku berharap Langit segera ada di sini. Ka Gino harus segera pergi dari sini sebelum moodku hancur.
“aku harus mengurus acara dulu ya ka”
Aku langsung pergi menjauh. Ka Gino tidak mengejarku, tapi mukanya keliatan kesal. Dia langsung bergabung dengan teman-temannya. Untung saja dia tidak berdiam lama. Dia tampaknya membicarakanku, walaupun dari jauh, dia tetap memperhatikanku dengan mata sinis. Aku agak terganggu tapi yasudahlah.
“ada calon pengusaha nih” tiba-tiba ada yang membisiku.