Sesampainya di kaki gunung, aku menghirup wanginya tanah hitam yang kemerahan, tarian angin yang menaburkan kelopak bunga dan suara desiran binatang hutan yang begitu merdu (Poksay Sumatra). Aku menginjak ranting yang menjalar ke permukaan. Berkenalan dengan pohon yang umurnya ratusan tahun. Langkahku begitu tenang, melihat awan yang cerah dan pancaran cahaya matahari yang menusuk sela-sela dedaunan. Pagi yang indah dan menyenangkan. Wahai embun yang menyentuh perasaan.
Harum berlari mengejar kupu-kupu. Satira duduk di tumpukan kayu. Tidak hanya kami bertiga yang ada disana, aku melihat kelompok pendaki dengan ransel besarnya berjalan perlahan sambil menghisap rokok, kira-kira 4-5 orang, 2 laki-laki dan 3 perempuan. Menyusuri jalan menuju puncak gunang.
Di sisi lainnya ...
Aku melihat tenda besar berwarna oranye, lengkap dengan peralatan masak didepannya (trangia), kursi lipat dan gitar accoustic. Mereka (orang-orang yang berkemah) mengelilingi api unggun, terdengar berdiskusi tentang buku, alam dan kehidupan.
“ Baiklah, sekarang giliranmu, Ady “ ku lihat Ady menjelaskan konsep alam yang bergerak mengikuti perilaku manusia. Ia berbicara seperti berfilsafat, memaparkan konsep sebab-akibat dan kepercayaan kepada Tuhan.
“ Kak, kita jadi mendaki ga nih?” Harum menepuk pundaku.
Aku masih mendengarkan mereka berdiskusi.
“ Mau gabung Mas? “ Mereka melihatku dengan mata yang tajam. Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan meminta Harum untuk bersabar sebelum mendaki. Aku mendekati mereka dan berkenalan satu persatu. Jumlah mereka banyak, 11 orang dan salah satu diantaranya adalah pimpinannya, Dimas namanya.
" Siapa namamu Mas? Silahkan duduk, sebentar saja, tak akan lama, percayalah padaku "
" Hallo, namaku Langit ... Langit Biru "
Aku hanya mengangguk dan meminta Lia untuk membawa Harum menuju sebuah warung kecil di sebelah selatan.
" Mba nya, silahkan jika ingin bergabung juga? "
" Oh tidak mas, tidak apa-apa, kami ingin sarapan terlebih dahulu " Lia membalasnya cepat tanpa ragu.
" Iya sih, lapar juga ya aku Kak Satira hehe " Harum tersenyum menyebalkan
Kulihat mereka menatapku kembali, seolah seperti sudah kenal sejak lama sekali
“ Baiklah, Mas Langit, silahkan sekarang giliran Mas untuk bercerita. Bebas, apa saja, silahkan “
Aku menyimpan tasku, duduk di sebuah batu yang tak berbentuk. Nyaman. Mengeluarkan roko miliku. Aku melihat Harum dan Lia berjalan menuju warung yang ku tunjukan tadi.
“ Aku ... Aku mencintai seseorang, yang rumit, namun sulit bagi diriku untuk mengungkapkannya. Cinta yang terungkap tak menjadi indah lagi. Cinta adalah bentuk perilaku, bukan romansa kata-kata cinta milik penyair terkenal “
Aku diam, mengatur nafas dan menghisap roko miliku.
Seseorang mengambil roko dan membakarnya. yang lain meminum kopi dan sebagiannya menunggu diriku melanjutkan cerita. Dari kejauhan, Satira memberikan cokelat panas kepada Harum, roti dan wajahnya, senang. Baguslah.
“ Jingga namanya, dia indah, dan kini aku sadar, aku bukan siapa-siapa, ia memiliki semuanya, keluarga yang utuh, ekonomi yang memadai dan otak yang cemerlang, parasnya manis … “
“ Sepertiku Mas? “ Seorang perempuan menunjukan jarinya
“ Huss, diam kamu Laila, dasar genit “
Aku hanya tersenyum kecil dan Pram memberikan kopi panasnya kepada diriku.
“ Terimakasih “ Sambil sedikit ku angkat gelas milik mereka.
Api unggun terus terbakar, mengeluarkan rasa hangat di pagi yang dingin dan asap perlahan menempel pada bajuku
“ Aku tidak mengungkap perasaan ku padanya, karena buat apa, cinta yang terungkap, tak lagi menjadi indah, se-iyanya iya tau perasaanku, aku tidak peduli apa hasilnya nanti, karena bagiku mencintainya secara sembunyi adalah cinta yang abadi, tidak membutuhkan balasan apapun ... tanpa pamrih “
Dimas hanya diam dan berkata “ Sudah? “
“ Sudah Mas? “
Mereka semua memeluku, satu persatu. Berdiri dari dudukunya.
Entah apa yang ada di pikiranku, mengapa aku menjadi begitu berani, mengepa mereka memeluku? tidak seperti biasanya aku seberani ini. Begitu lepas dan apa adanya. Angin menjadi begitu akrab, kulitku hangat dan mataku kosong. Mereka memutarkan gelas yang tak pernah ku kenal isinya apa. Memberikannya padaku dan ku minum tanpa ragu.
Seseorang mengambil harmonika, gitar dan jimbe.
(106)
" Mari kita merayakan kehadiran, Mas Langit " Pramudya menunjuku dan mereka mulai memainkan sebuah lagu :
Wahai engkau yang menemukan cintanya
Kini bingung harus bagaimana
Tak perlu khawatir
Cinta tak akan kemana
Wahai engkau yang menemukan jiwanya
Yang terbagi di dua jiwa
Antara kau dan dia
Cinta tak akan kemana
..
Reff :
Marilah merayakan perasaan
Menikmati minuman dengan dedaunan
Yang memabukan ... yang menghidupkan
Cinta tak akan kemana
..
Wahai engkau yang di iringi burung Poksay
Suara kicauan dan rayuan
Hidup di telinga
Cinta tak akan kemana
Wahai engkau, sang peramu hati
Menemukan diriku yang bingung