Langit Biru

Faldhy Dwi B.
Chapter #14

#14

    Tiga hari setelah malam menyenangkan itu. Aneh sekali Langit dan Harum sama sekali tidak mengabari. Hingga detik ini Tetap tidak ada kabar. Ini mulai menyebalkan dan sudah keterlaluan. Semua hal yang sudah kita lakukan Bersama jadi terasa hambar. Sudah ada begitu klimaks pada saat itu tapi tiba-tiba saja jadi begini. Apa dia sengaja? Atau jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi padanya?. Aku kesal sekaligus khawatir. Semua ini membuatku tak tenang.

    “jadi hari ini kita pergi ke rumahnya?” Selly akan menemaniku hari ini.

    Aku mulai banyak bercerita kepada Selly semenjak kedekatan aku dan Langit mulai lebih intens. Bercerita tentang kegelisahanku atas apa yang selama ini aku rasakan, dari yang seperti senang, seperti nyaman bahkan seperti cinta. Masih serba ambigu dan belum begitu aku mengerti walaupun Selly merasa begitu yakin arahnya akan kemana dan hati kecilkupun sebenarnya menyetujui itu. Terbukti dengan apa yang sudah terjadi di malam itu.

    “iyah. Temani aku ya sel. Tapi sebelum itu kita mampir dulu ke sekolah Harum, barangkali bisa bertemu dia di sana”

    Sepanjang perjalan aku tidak banyak berbicara. Aku hanya fokus pada kemudi mobil dan jalanan. Selly juga seakan enggan membuka pembicaraan, mungkin dia juga tidak mau mengganggu ke-khusyu-anku. Aku tidak pernah merasa segamang ini. Semua prosesnya terlalu cepat dan jujur aku tidak siap.

    Kita sampai di sekolah Harum. Anak-anak sekolah mulai berhamburan keluar. Jalanan jadi agak macet karena kendaraan-kendaraan yang menjemput anak-anak sekolah itu. Motor tua Langit belum tampak diantara ramainya kendaraan-kendaraan lain. Seorang kakak yang sigap seperti Langit seharusnya tidak akan tega membiarkan adiknya terlalu lama menunggu. Harusnya dia sudah datang.

Harum juga tak terlihat. Kasus Harum di sekolah tampaknya memang masih belum bisa membuatnya masuk sekolah lagi. Sekolah sudah mulai sepi tinggal sisa beberapa anak saja, dan tidak satupun diantara mereka yang merupakan seorang Harum.

    “aku coba cari tau dulu ya.. aku coba tanya-tanya ke anak-anak itu” aku bergegas keluar mobil dan bertanya untuk sekedar memastikan lagi.

    “hari ini dia tidak masuk sekolah” ada anak yang mengenalnya dan memberikan informasi itu.

   Tidak berbuah hasil. Kita memang harus menghampiri rumahnya. Mau kemana lagi dia bersembunyi. Sudah pasti ada dirumahnya fikirku.

     Aku merasakan kalau Selly tampaknya begitu khawatir padaku. Aku tak enak padanya, tapi aku sendiri tak bisa mengontrol diri, yang kutau sekarang hanya lah berusaha untuk menemukan langit.

Kita sampai dirumahnya.

     Gerbang rumah tertutup rapat dengan gembok yang mengantung dan terkunci. Aku mondar-mandir didepan rumah sambil berusaha mengintip ke dalamnya. Tidak tampak ada kehidupan. Begitu gelap. Terlihat dari sela-sela jendela motor tua Langit ada di ruang tamu.

     “kemana mereka pergi tanpa menggunakan motornya?” aku makin tak karuan.

    “ayo kita tanya ke tetangga sebelah ya, barangkali mereka tau” Selly sedari tadi menenangkanku.  Dia tampak kebingungan karena barangkali baru melihat aku seperti ini.

    Beberapa ibu sedang berkumpul sambil mengasuh anak-anaknya. Selly langsung menghampiri mereka dan bertanya tentang keberadaan Langit.

     “Permisi bu, mau numpang tanya”

     “Oh iyah. Ada apa ya?”

    “Kalau yang punya rumah ini pada kemana ya bu? Namanya Langit” Selly dengan sangat sopan bertanya sambil menunjuk kearah rumah Langit.

     “Oh Langit ya? Sebentar yang neng.. Bu Giva, ini ada yang nanyain Langit” ibu itu memanggil ibu yang lain untuk ditanyai juga.

      “gimana neng?” ibu yang bernama Giva itu bertanya lagi.

      “iyah bu. Yang punya rumah ini pada kemana ya?” aku bertanya lagi.

     “hm langit. Udah semingguan teh rumah itu kosong. Pada pergi waktu itu mah. Pake mobil. Tapi gatau kemana”

       Ibu yang lain tiba-tiba menambahkan, “iyah pada pergi neng, cuman ya sehari sebelumnya teh ibu mah sempet liat Langit pulang bareng sama Harum, cuman Harum nya teh nangis gitu. Mukanya merah, matanya sembap pisan”

      “Oh iyah bener. Jarang-jarang padahal mah Harum nangis kaya gitu. Anaknya teh da lucu dia mah” ibu-ibu itu saling menambahkan informasi satu sama lain.

        Informasi itu tidak terlalu membantu, aku masih tau secara detail tentang apa yang dibilang ibu itu, tapi bagaimana setelahnya, keberadaan Langit masih belum diketahui. Pencarian kita tak berbuahkan hasil sama sekali. Aku semakin diam diperjalanan pulang, logikaku makin kencang, terus saja berfikir, aku hanya akan semakin bingung dan terpuruk jika terlalu merasa.

      Ini bukan pertama kalinya aku berusaha mencari Langit. Setalah dia hilang waktu itu aku langsung bertanya kepada semua orang. Tapi semuanya nihil. Sandy dan teman-temannya di Seni Rupa juga tidak ada yang tau Langit kemana. Mereka juga tidak bisa mengontak langit. Aku malah mendapat banyak informasi dari mereka tentang masalah Langit di kampus. Tentang kesulitan bayar dan terancam tak bisa meneruskan kuliah. Suatu fakta yang tidak pernah Langit bahas. Fakta-fakta menyakitkan yang akhirnya aku tau justru dari mulut orang lain.

     Semenjak langit Hilang aku justru mendapatkan banyak hal tentang dirinya. Pertanyaan-pertanyaanku mulai terjawab, keraguanku mulai teryakinkan. Tapi bukan Langit Namanya kalau tidak menghasilkan pertanyaan-pertanyaan baru, Lantas kamu dimana, langit?

      Aku berusaha positif. Mungkin dia sedang mengurus masalah Harum, mungkin handphonenya rusak, mungkin Langit mengajak lagi Harum ke suatu tempat. Dia pasti akan muncul lagi. Hanya perlu menyendiri saja mungkin, toh setiap orang memang punya semacam ‘Gua’ untuk bersembunyikan? Jauh dari hiruk pikuk. Membiarkan diri tenggelam pada sebuah pemikiran dan muncul lagi ke permukaan dengan jati diri yang lebih matang dan lebih bijak. Aku akan menghormatimu, bersabar untuk bertahan hingga waktu nya itu tiba.

     Aku harap kau baik-baik saja. Apa yang sudah kita alami bersama selama ini tidak akan ternoda hanya karna kamu menghilang sebentar kan. Tapi tolong jangan terlalu lama, aku takut mulai melemah. Aku yakin Langit tau tempatnya ‘pulang’.

***

“ Langit, menurutmu … jika waktu berhenti … dan kamu bisa kembali ke masa lalu, apa yang akan kamu lakukan? “

Ia meminum sebuah anggur keluaran tahun 1979 Vintage Port, yang mengkilap, berwarna hitam pekat dan membuatnya mabuk secara perlahan.

Bar. Hari ini sepi, hanya ada Bimo, dan beberapa orang yang bersembunyi di balik hitamnya ruangan, dengan sedikit cahaya, dan lampu ruangan tetap begitu, biasa saja. tidak menarik dan membosankan

“ Aku ingin mengatakan pada dunia, bahwa dunia perlu tertawa pada beberapa hal “

Aku agak mabuk pada saat itu, sedikit-banyak alkohol masuk pada otak-ku. Entah apa yang di tanyakan Bimo, aku menjawab sesuka-hatiku. Tak peduli seorang bartender yang melihatku heran, tak peduli empat wanita yang sedang berbisik tentang warisan dan juga polisi yang ada di sebrangku. Pendengaranku saat itu tajam, entahlah …

“ Pertama, terhadap uang, uang yang kita pegang sejatinya, ini bukan milik kita, saat hidup, kita mencarinya setengah mati, saat mati, tidak di bawa sama sekali, ya tapi, berhubung kita masih hidup, kita perlu Bim, untuk membeli anggur ini “

Bimo tertawa bodoh “ ha ha ha “

Kali ini Bar hanya di isi dengan musik blues classic, aku lupa pada saat itu playlist di Bar itu apa saja.

“ Lalu? “

“ Kedua, terhadap perasaan, aku tidak tahu, apa alasan Tuhan memberikannya kepada kita, perasaan membuat kita dapat menyentuh sesuatu lebih dalam, jika akal menciptakan logika, maka perasaan menghidupkannya. Namun, jika saja kita salah, lengah pada arah perasaan, kita akan terseret dan tenggelam. “

“ Ko jadi puitis gini Lang? mabuk ya “ Bimo terlihat tampan dengan jaket kulit hitam pemberian Selly.

Kita semua tertawa, suara gelas yang bersulang terdengar dari arah belakang kami, empat wanita tersebut begitu bahagia. Dari kejauhan, dua wanita tersebut berambut pendek sebahu, berwarna hitam menggoda dan dua nya lagi terurai panjang. Usianya aku lupa, samar pada saat itu, dan aku tidak peduli juga. Yang aku tau, mereka menggunakan baju atau apa ya, pokonya berwarna hitam dan celana jeans yang mahal, sepertinya, tidak jelas saat itu, lupakan saja.

“ Ketiga, Ibu, tanpa mereka, kita tak pernah ada, tanpa ibumu Bim? kamu ga akan pernah ada, mereka berharga. Seluruh Ibu di dunia ini adalah jantung kehidupan “

“ Boleh pinjam korek? “ Satu wanita berambut pendek sebahu menghampiri kami

“ Jika ingin bergabung dengan kami, bergabung saja ya, kita di belakang “

Wanita tersebut mabuk berat, sempoyongan dan Bimo wajahnya merah sekali, bingung harus berkata apa. Ia mengambil korek yang di berikan Bimo. Bimo melihat ke sekeliling Bar. Begitu banyak hiasan tahun 80’an dan poster juga kata-kata motivasi, yang seperti apa, ia juga tidak tahu.

“ Namaku, … perkenalkan … Namaku, Namaku siapa ya? “

Wanita tersebut berbicara terbata-bata, sambil menghisap roko yang perlahan terbakar. Menyelinap masuk pada paru-parunya. Menyimpan api kecil milik Bimo.

Aku menghisap rokoku. Wanita itu pergi dari hadapan kami berdua. Punggungnya terlihat dari belakang, hak tinggi pada sepatunya membuat ia cukup tinggi, dan mungkin sexy bagi Bimo. Arah matanya begitu liar

“ Bim … mata … Bim “

“ Oh ya, maaf, minum lagi, minum lagi Lang “

Ia menuangkan anggurnya pada gelas kaca miliku. Aku meminumnya dengan cepat sembari memegang pundak Bimo.

“ Lang, wanita tadi .. “ Aku memotongnya.

“ Bim, Laki-laki itu bodoh, mereka mengejar harta yang tak abadi, tahta yang akan berganti dan wanta yang di cintai, yang hilang di kemudian hari. “

Aku menegaskan, dan …. kali ini aku memandang mata Bimo … Seolah-olah aku sedang masuk pada pusat otaknya. Aku melihat Bimo dengan mata yang tajam.

“ Aku mencintai Satira, dan itu kesalahanku, mau kau dengar beberapa laguku untuk dirinya? ini ku kirimkan lagunya nya kepadamu “

Aku mengirimkan hasil rekamanku melalui pesan seluler. Layar kaca pada iPhone 6 pada saat itu runyam sekali. Telepon ku terjatuh, aku membawanya dan melihat wanita tadi memandang ke arahku.

“ Bim, diam dengar, saya mau naik kesana “ aku menunjuk panggung di Bar tersebut.

Secara mendadak, aku naik ke atas panggung, kebetulan disana ada gitar dan aku pun duduk di kursi besi yang bisa aku atur tinggi dan rendahnya. Aku terjatuh dari kursi. Bimo hanya tertawa. Dari atas sini, aku melihat wanita tadi menghampir Bimo dan duduk di kursi miliku. Entah apa yang mereka bicarakan. Sekali lagi aku tidak peduli. Suhu Bar dingin sekali, ku buka kemeja flannel kotak-kotak miliku, mengikat rambut belakangku yang Panjang … dan, apalagi … aku lupa

Aku … Mulai menyanyikan lagu cinta yang sendu dan bodoh. Bimo merekamnya.

Dan, dari sinilah, Bimo memberikan hasil MP3. juga rekaman live kepada panitia festival musik kampus sialan itu.

***

   Aku hanya sanggup membiarkannya hilang dalam waktu 3 minggu saja. Itu pun sudah terlalu lama. Aku kembali berencana menghampiri rumahnya lagi.

    Aku pergi sendiri ke rumah Langit. Aku tak mau merepotkan banyak orang dan membuat mereka menjadi ikut-ikutan khawatir juga. Selly sudah banyak membantu sejauh ini.

    Aku sampai di depan rumahnya.

  Suatu hal cukup mengagetkanku. Di depan pagar rumahnya sudah terpampang sebuah papan bertuliskan ‘Rumah ini Dijual’ dan sebuah nomor telefon yang juga tertulis di sana. Sambil berusaha menenangkan diri. Aku langsung menelfon nomor telefon tersebut.

   Cukup lama telefon tidak di angkat. Aku juga mencoba beberapa kali menelefon hingga akhirnya ada yang mengangkat. Ada perasaan lega, akhirnya ada juga yang bisa aku hubungi. Aku hendak langsung memaki di dalam telefon itu tapi langsung ku batalkan niat itu ketika yang terdengar ternyata bukanlah suara Langit.

   Itu adalah pamannya. Itu yang kudapatkan ketika berbincang di telefon. Pamannya itu dimintai tolong oleh Langit untuk menjual rumahnya. Aku bertanya tentang alasan Langit menjual rumahnya itu kepada pamannya namun dia tidak bercerita banyak karena mengaku tidak tahu dan hanya dimintai tolong saja. Aku juga seketika langsung meminta kontak Langit yang bisa dihubungi serta dimana posisi dia berada sekarang.

   Tapi lagi-lagi nihil.

   “Langit ga ngasih kontaknya. Dia bilang dia sedang tidak ada handphone katanya, makanya minta tolong kalau ada yang beli rumah kontak langsung ke saya saja. Nanti dia akan kembali tapi ga tau kapan. Saya juga gatau dia sekarang dimana. Saya cuman dititipin itu aja neng” Paman itu menjelaskan semuanya, terdengar sangat begitu meyakinkan.

    Badanku semakin melemas. Ku tengok juga ke sisi-sisi jendela rumah Langit. Motornya tidak ada. Barang-barang lain juga tampak tidak ada dan rumah mulai terlihat sangat kosong.

    Ada bu Giva lagi di dekat situ. Tetangganya Langit

   “bu, langit sempet pulang ya?”

  “oh iyah neng.. seminggu yang lalu lah dia pulang bawa motornya. Dia pulang sendirian. Kalau Harumnya mah belum keliatan sama sekali. Terus sampai sekarang belum pulang lagi sih”

  “hm. Makasih bu. Kalau tidak merepotkan saya mau minta tolong ya bu. Tolong hubungi saya kalau langit pulang lagi ke rumah”

  “oh iyah boleh neng. Nanti saya kabari ya”

 Aku tinggalkan kontakku pada bu Giva. Aku juga menyampaikan pesan yang sama kepada pamannya Langit.

  Aku merasa sakit dan patah hati. Apapun yang sekarang dialami oleh Langit membuatku sangat kecewa karena tidak ada aku didalamnya. Bersamanya. Perjalananku pulang dari rumah Langit menjadi perjalanan paling tak ingin ku ingat dan kualami lagi. Aku olehnya seperti bermain di sebuah roller coaster, naik, turun, berputar, terbalik dan seperti dijatuhkan. Aku masih merasakan manisnya sebuah perjalanan bersama, masih sangat terasa di dalam dada namun perlahan hilang dengan segala pemikiran acak dalam otak ini.

  Sudah lebih dari 2 bulan. Aku tak mendapatkan kabar apapun. Setiap minggu aku datang ke rumahnya tapi tak ada yang berubah. Aku sudah mulai akan menyerah.

***

Aku benar-benar hilang kesadaran pada hari itu, vinatage port membuatku menjadi john lennon. Ha ha ha

Mukaku merah, rambutku berantakan, jalanku sempoyongan dan … Bimo adalah sahabat terbaik …

Aku di pangku keluar Bar, perlahan setapak-demi setapak, lambat .. dan wanita tersebut kembali mendatangi kami

“ Perkenalkan Namaku … Givania, ini temanku, Lia, Dian dan Stephani “ Ia memberikan tangannya untuk bersalaman.

Kasir membukakan pintu bar, memberikan senyuman manis dan tatapan yang ramah.

“ Terimakasih, Semoga hari anda menyenangkan “

Bimo tidak tau harus merespon siapa lebih dulu, Givania atau wanita di kasir tadi. Ia memilih diam dan membawa Langit keluar. Angin malam saat itu dingin sekali, menusuk jaket kulit hitam miliknya.

“ Maaf, Bisa kah, kita bicara sebentar ? Aku mendengar Lagu temanmu, berbakat sekali “

Lihat selengkapnya