Langit Biru

Faldhy Dwi B.
Chapter #15

#15

Aku mengendarai lagi sendiri mobilku. Aku sudah bisa move on. Orang-orang disekitarku juga tampaknya sudah merasakan kembali kehadiranku yang penuh dengan semangat lagi. Selly sudah bisa lagi mengejekku, mentertawaiku bahkan sesekali bercanda sambil memukulku pelan. Tidak seperti beberapa bulan yang lalu, dia sangat berhati-hati padaku karena mungkin dia merasa aku pada saat itu begitu rapuh.

Bahkan kali ini hidupku terasa lebihmenarik lagi. Banyak hal yang baru. Sekarang selain Selly, ada juga seseorang yang tak pernah ku kira akan bisa menjadi sedekat ini.

Risa. Ya Risa. Seorang ambisius seperti aku. Kalau kata orang, kami itu hanya kurang ngobrol aja. Setelah lebih sering bertukar fikiran ternyata kita berdua bisa menjadi partner yang luar biasa. Aku dan Risa ternyata punya beberapa kesamaan terutama dalam hal kesetaraan dan perempuan yang harus mandiri dan tidak tergantung dengan orang lain.

“Ra,, ada salam” Risa mulai lagi menggodaku.

“waalaikumsalam” aku dengan santai meladeni keisengan Risa.

“Mantan Ketua BEM Universitas waktu jaman kuliah RA.. lumayan cakep loh. Pengen kenalan sama kamu katanya. Dari jaman kuliah dia udah ngecengin kamu, eh sekarang tau aku deket sama kamu dia mulai bikin pergerakan lagi”

Belakangan ini Risa begitu rajin menyampaikan salam-salam dari banyak orang. Laki-laki yang menurut dia semuanya menyukaiku. Risa sudah mulai banyak tau tentang hubunganku dengan beberapa pria terdahulu dari Selly.

“kalau berani langsung bilang ke aku aja. Jangan lewat perantara”

“pada ga berani kayanya Ra, kamunya jutek sih. Kaya dulu kamu jutek sama aku. Jadinya pada serem. Cuman si Ka Gino aja kali yang bisa senekad itu sama kamu. Haha”

“Muncul langsung didepanku aja ga berani, apalagi ke depannya harus bareng-bareng terus sama aku. Ga asik ah cowo-cowo kaya gitu”

Aku mencoba untuk tidak banyak bermain-main lagi dengan perasaan. Setidaknya tidak dalam waktu dekat ini. Aku harus membiasakan lagi bergaul dengan segala pemikiran logisku. Sejauh ini cukup berjalan baik ketika aku hanya banyak bergaul dengan Selly dan Risa serta sibuk dengan banyak hal positif lainnya.

“namanya juga usaha Ra. Hehe” Selly mulai ikut obrolan. Aku tau Selly berusaha dengan segala caranya untuk menghiburku. Aku hargai semua usahanya, tapi untuk sekarang memang masih belum dulu.

Kita bertiga sedang di jalan pulang. Selly dan Risa akan tidur di rumahku. Malam ini kita akan menghadiri sebuah konser, niat utamanya sih untuk benchmark tapi sekalian have fun jugalah dan pasti selesainya akan sangat larut. Banyak band jaman dulu yang kita suka didalam konser itu. Pasti akan sangat menyenangkan.

“Ra, aku nyalain radio ya. Siapa tau ada lagu-lagu band yang nanti malem manggung, jadi kita bisa latihan nyanyi dulu sebelum nanti malam” Selly yang duduk dibangku depan menyalakan radio dan berhenti di salah satu saluran radio. Sebuah radio di bandung yang kalau kita lewat jalan Cipaganti pasti kita lihat stasiun radio tersebut. kita benar-benar semangat untuk datang ke acara malam itu.

Sore itu agak mendung, agak macet juga dijalan. Perjalanan tetap menyenangkan karena sepanjang jalan kita terus saja bernyanyi. Risa menyanyikan lagu Risalah Hati dari Dewa 19 yang diputar di radio, begitu percaya diri dan penuh dengan penghayatan walaupun suaranya tak sebagus Selly. Aku tertawa lepas dengan semua ulang kedua temanku ini. Sudah semakin lega rasanya hati ini.

Sebelum ke konser, aku, Risa dan Selly pulang dulu ke rumah untuk bersiap-siap, mandi, ganti baju dan berdandan senyaman mungkin. Aku sudah berniat untuk menikmati acara malam nanti secara total. Melepaskan segala penatku yang sudah kutumpuk berbulan-bulan kemarin.

Aku menggunakan kaos turtleneck belang hitam-putih dengan luaran jaket denim big size dan bawahan celana baggy berwarna kuning mustard. Risa tampil agak tomboy dengan overall denim dan sweatshirt putih. Selly terlihat lebih santai lagi dengan celana denim gombrong dan atasan tanktop crop warna putih. Konser malam ini temanya lagu 90an, kami berusaha menyesuaikan. Kita akan bertemu juga dengan teman-teman yang lain yang sudah janji ketemu di tempat konser. Aku benar-benar semangat malam ini.

Pukul 19.03. Setelah pamit dengan orang rumah, kita siap berangkat.

Aku, Risa dan selly mulai lagi ber-karaoke di mobil dari lagu-lagu yang dimainkan di radio. Nanti malam aka nada Dewa 19, Potret, Warna, Kla Project dan musisi-musisi lain yang ngehits di 90an. Selly dan Risa sudah sangat gila malam itu, padahal belum sampai ke tempat konser, kami sudah begitu banyak menghabiskan energi. Bernyanyi, berjoget, bahkan beracting seolah-olah seperti videoclip lagu tersebut. Sampai sebuah lagu yang dimainkan diradio merusak semua suasananya.

Selly langsung terdiam dan perlahan menyandarkan tubuhnya ke jok mobil.  Aku pun yang agak tersentak membuat laju mobilku menjadi pelan dan mobil-mobil dibelakangku mulai mengeluarkan suara-suara klaksonnya. Risa yang sebelumnya ikut menyannyikan lagu itu juga mulai memelankan suaranya karena sadar bahwa suasana di dalam mobil menjadi begitu tidak nyaman.

 Suara penyanyi diradio itu memang asing, tapi irama dan lirik-lirik didalamnya begitu sangat ku kenal. Sebuah lagu dari seseorang yang membuatku menjadi begitu lemah. Seseorang yang aku harap lebih baik tak muncul lagi saja. Ya, Langit. Itu lagunya dan otakku menjadi kacau lagi.

Aku dan selly hanya bisa berdiam diri, Risa juga ikut diam, aku belum pernah cerita detail padanya tapi kurasa dia juga sudah tau dan peka tentang itu. Bahkan kita bertiga pun tidak ada yang beranjak untuk mematikan radio ataupun memindahkan salurannya. Kita mendengarkan lagu itu sampai habis tanpa berbincang sedikitpun. Pada saat itu aku hanya berusaha mengalihkan fokus ke jalan saja sambil menyetir mobil.

“kamu keingetan dia lagi?” selly bertanya berbarengan dengan habisnya lagu itu. Tapi nada dari pertanyaannya itu begitu meninggi.

Aku tak menjawab dan tetap fokus saja mengendarai mobil.

“aku adalah orang yang begitu respect dengan orang itu. Dia seorang seniman yang berbakat. Karya-karyanya begitu hebat, begitu tulus. Bahkan karyanya tetap saja bisa terus hidup disekitar kita padahal dianya sendiri saja entah dimana sekarang ini. Lagunya dinyanyikan dimana-mana, orang-orang dimedia sosial ramai-ramai mengcover lagu-lagunya. Aku sangat mengaguminya. Tetapi menjadi tidak lagi setelah semua yang sudah dia lakukan padamu” selly begitu kesal padaku.

Aku masih belum bisa meresponnya. Yang kulakukan selama ini masih belum masuk tahap berterima, masih hanya menghindar sehingga jika saja tiba-tiba sesuatu tentangnya muncul lagi, aku akan berada di depan pintu keterpurukan lagi. Tidak mudah memang.

“pokonya aku gamau acara kita malam ini jadi kacau hanya gara-gara kamu ingat dia lagi, kamu ga seharusnya jadi kaya gini ra” Selly tampaknya sadar aku mulai tak karuan lagi. Dia mulai berbicara lagi padaku dengan nada yang lebih tenang. Tangannya mengelus bahuku namun tatapanku tetap saja lurus ke depan.

Kita sampai di tempat acara. Tepatnya baru sampai parkiran mobil. Semenjak lagu Langit dimainkan di radio, aku belum berucap satu katapun. Aku bersandar ke jok mobil setelah mematikan mobil dan melepas sabuk pengaman. Aku menghela nafas begitu panjang, aku merasa lebih tenang setelah kembali memikirkan orang-orang disekitarku yang aku sayangi. Aku tak boleh sedih lagi karena itu akan membuat mereka sedih juga. Aku kuat, aku bisa. Setidaknya itulah kata-kata yang terus-terusan muncul dikepalaku.

“Ayoo kita berpesta” kalimat pertama yang aku lontarkan ke Selly dan Risa.

Selly menyambutku dengan senyuman, Risa ikut memberikanku pelukan hangat dari jok belakang. Kita benar-benar sudah siap untuk berpesta.

***

Kampus penuh teror. Ban terbakar. Kaca beberapa kelas pecah terlempar batu. Pagar gerbang roboh dirusak. Suara pengeras suara menggelegar bagai halilintar, bersahut-sahutan dengan gemuruh teriak mahasiswa lainnya. keringat bercampur satu sama lain. Berdesak-desakan tidak karuan. Itulah pemandangan kampusku hari ini. Benteng pertahanan terakhir adalah penjaga keaman kampus.

“ Semuanya! Ini namanya diskriminasi! hidup mahasiswa! hidup “ seseorang berambut ikal, naik ke atas meja kerumunan dan mengajak seluruh mahasiswa bernyanyi pancasila.

Aku tau. Beberapa mahasiswa kesulitan untuk membayar uang kuliah dan akhirnya terancam tidak bisa mengikuti ujian, atau ujian terpisah, dengan tanpa kartu, tanpa waktu yang jelas. dua-duanya sama buruk.

Atas apa yang terjadi, seharusnya kebijakan rektorat tidak melakukan ini. Dan, mereka, harusnya bisa lebih tenang. Berdiskusi dengan bijak. Namun, dimanapun kampusmu, budaya kampusku, lebih gila dari pada yang kalian bayangkan.

Kampus ini sudah menjadi negara. Semua kelompok sudah membangun wilayah kenegarannya masing-masing. Menciptakan aturannya masing-masing. Jadi, jika ada yang mengusik. Dengan cepat, terjadi hal-hal seperti ini terjadi.

“ Sandy, tapi ini kan urusan mereka ya? Aku tau maksudmu baik, tapi perlukah kita sepeduli itu dengan seluruh mahasiswa disini? “ Angga baru datang dan berbicara dengan tenang kepada Sandy.

Kita hanya melihat panasnya demonstrasi di atap kelas kampus yang sejuk ini. di atap ruang kelas dekave. kelas Daus. Sambil menikmati kekacauan yang terjadi di bawah sini. Sebuah karton dengan tulisan penghinaan terhadap pejabat kampus berserakan di pegang oleh kerumunan demonstran. Sebuah pesan bahwa pendidikan adalah bisnis tua dam paling menjanjikan hingga saat ini.

Sandy menaikan dan melipat kakinya. mengikat rambutnya.

“ Aku tidak peduli dengan mahasiswa disini, aku tidak suka dengan kebijakan tersebut “ sambil menatap kerusuhan yang terjadi, yang kian menjadi-jadi, lalu seseorang melempar bom molotov ukuran kecil masuk melewati gerbang kampus. Duar! Semua orang terdiam. dan kembali berteriak.

Beberap polisi kini datang, pekerja keamanan di kampus tetap bersatu menghadang amukan masa, dan pejabat-pejabat kampus berdiskusi di ruang senat. Dengan kopi panas dan roti bakar yang di beli Mas Rijali. “ Monggo pak, Monggo Bu “

Lihat selengkapnya