“Aku ingin bikin acara tribute to Langit Biru”
Berbarengan dengan minggu lalu ketika aku mendengar lagi lagu langit, aku membawa kembali seluruh kenanganku ke hari ini. Sesuatu yang belum tuntas memaksa aku untuk menyelesaikannya dulu. Semua butuh kepastian dan aku bisa mati penasaran kalau tetap dibiarkan.
“ngapain sih Ra?” Selly sangat kesal. Dia bahkan memalingkan wajahnya seolah tak mau menanggapi lagi apa yang ada difikiranku sekarang. Selly bukan hanya seorang vocalist di band indie nya. Disamping Risa yang juga berperan sebagai Project Manager, Selly juga punya peranan penting dalam EO yang kubuat ini, bahkan dari awal pembentukan. Sudah seharusnya aku sampaikan ide gilaku kepadanya.
“ini kesempatan kita Sel, lagunya sedang banyak sekali di putar di media. Penikmatnya juga sangat massive. Kita bisa memanfaatkan momen ini dan jangan sampe di sia-siakan. Untuk kepentingan EO dalam bikin event menarik juga kan?”
“kesempatan buat bisa ketemu Langit lagi kan? Dan itu 100% atas kepentinganmu sendiri Ra” Selly sepertinya sudah menempatkan Langit di dalam buku hitamnya.
Aku terdiam dengan pernyataan itu. Selly tidak salah, subjektifitasku berperan sangat besar dalam ide tersebut. Tapi ini memang menjadi kesempatan terakhirku. aku dan Langit harus selesai, jangan dibiarkan menggantung.
Bukan hanya dimalam ketika aku, Selly dan Risa pergi ke konser, tapi juga di hari-hari setelah itu. Semua karya yang sebelumnya aku kubur dalam-dalam secara perlahan mulai berhamburan lagi. Musik-musiknya, lagu-lagunya bahkan hingga lukisannya ternyata tanpa kusadari sudah berkembang sendiri dan mulai membesar secara mandiri.
Saat itu, aku berhenti mencarinya di bulan ke 7. Aku sudah mulai lupa, sengaja melupakannya. Bahkan mungkin kalau difikir-fikir lagi, aku memaksa diriku menghilangkannya. Dia seperti sebuah warna yang begitu cerah dan enak di pandang, indah serta menenangkan. Tapi pada akhirnya aku memilih untuk buta warna. Biarkan saja menjadi monokrom, fikirku
Aneh bagi aku yang bekerja di bidang Event Organizer acara-acara musik untuk sama sekali tak pernah tau pergerakan karya musiknya Langit. Aku sangat tau bagaimana sebuah lagu ‘Akad’ dari Payung Teduh begitu booming sepanjang tahun 2017 dan menjadi lagu yang banyak didengar di berbagai platform. Bagaimana mulusnya Fourtwenty sebagai pendatang baru, Adrian Khalif yang sukses Bersama Dipha Barus hingga seorang Via Vallen yang melejit di dangdut. Aku butuh tau itu semua untuk menunjang karirku. Tapi Langit. Aku benar-benar membuatnya hilang.
Datang dan menghilang sesuka hati. Kejadian dimalam konser itu malah membuat langit menjadi muncul lagi di kamus hidupku. Namanya mendadak memenuhi lagi search history di semua gawai miliku. Aku tak tau kalau albumnya sudah rilis, aku tak tau kalau dia memiliki fanbase, aku tak tau kalau lukisannya sudah sering diliput dan terpajang diberbagai galeri seni. Aku tak tau dan apa saja yang sebenarnya aku tau tentang Langit?
“Apakah melupakan jadi begitu sulit buatmu Ra?, belum cukup ya sebagian besar hidupmu direnggut cuman buat mikirin Langit?” Selly mulai angkat bicara lagi setelah sebelumnya kita saling diam dengan waktu yang tak sebentar. Kali ini suaranya agak lebih rendah.
“Aku janji ini yang terakhir” mataku tajam menatap layar laptopku. Rencana kegiatan tribute to Langit sudah aku cantumkan dalam list event EO kami, sudah kuputuskan. Aku punya kuasa sepenuhnya atas apa saja event yang mau kita buat. Aku sudah meminta ijin juga pada Selly, selebihnya semoga dia mengerti.
“Kita akan bahas langsung perihal ini ke tim di meeting nanti” ucapanku menebal, Selly tak bisa menghentikanku. Dia sangat tau kalau aku sudah tampak serius, semua usaha untuk menghentikan akan jadi percuma saja.
…
Sebuah agenda yang memang rutin kita lakukan dengan seluruh tim inti di EO akan segera dimulai. Didalam pertemuan itu kita akan melakukan brainstorm untuk bertukar ide kreatif, setiap orang boleh untuk mengemukakan idenya.
Aku bersiap dengan semua konsep di kepala dan berbagai riset yang sudah tercatat dalam laptop. Secara tegas aku berjalan ke ruang pertemuan, aku sedang ada pada mode professional, sebagian besar tim sudah didalam ruangan dan aku akan siap untuk memulainya. Tempat pertemuan kami hanyalah sebuah ruangan kecil dengan kursi yang bertingkat ke atas, seperti sebuah ruang teater kecil. Aku duduk di paling bawah dan menatap ke rekan tim lain yang duduk tersebar di atas. Waktu itu ada sekitar 7 orang sudah termasuk aku. Risa dan Selly terlihat duduk tak jauh dari aku. Sebelum masuk ruangan, aku melihat mereka berdua berbincang-bincang dulu. Aku kira Selly sudah menceritakannya terlebih dahulu ke Risa tentang ide gilaku sebelum aku sendiri yang bilang.
“jadi ada ide apa saja nih yang bisa kita kemas jadi event seru untuk tahun ini?” aku memulai pertemuan dengan langsung melemparkan pertanyaan pada forum.
“gimana kalau kita main lagi di EDM ka? Beberapa sponsor terdahulu masih bisa kita follow up untuk tetep support” kata Reksa. Salah tim kreatif yang masih baru di tim kami. Selain dia, masih ada Icha, Damar dan juga Rici yang menjadi tim kreatifku di EO. Mereka adalah dreamteam yang ku temukan dimasa-masa bangkitku. Teman lama yang ternyata ketika sering bertukar fikiran bisa jadi partner yang luar biasa.
Ada yang mengusulkan tema-tema seperti Reuni, konsep charity, dan banyak lagi pengajuan lainnya. Seperti biasa pembahasan ini tak pernah sepi. Walaupun tampak jelas ada pembeda karena kali ini Selly dan Risa tampak lebih pendiam. Aku sangat tau alasannya apa.
“Kalian semua tau Langit Biru?” pokok bahasan yang sedari tadi sudah tak kuat ingin ku bahas dalam pertemuan ini.
“Bangeet Ra..” Icha semangat membahas topik itu.
“Dia lagi banyak yang bahas Ra, pendatang baru yang punya taste yang menarik tentang musik. Kalau ga salah dia juga pelukis yang berbakat” Rici menambahkan.
“Apalagi yang kalian tau tentang dia?” aku coba elaborasi lagi, berharap menemukan celah agar mereka semua bisa menyetujui rencanaku.
“kalau kita bikin event yang centernya di dia bakal keren juga sih kata gua” Damar angkat bicara.
“Tapi belum segede itu lah si Langit itu” Selly mulai berupaya lagi supaya upayaku menemukan Langit tidak pernah terjadi.
“kita perlu cek pasarnya juga ga sih? Sasarannya harus pas, emang bakalan bisa ya Langit ini bawa masa yang banyak buat event kita?” Selly menatapku, mempertanyakan.
“mungkin kita bisa bikin jadi side event aja. Jadi event kecil yang sasarannya juga ga usah gede-gede banget, tapi itu bisa jadi bridging kita ke event-event gede selanjutnya. Lagiannya Langit ini menarik banget sih, selain cakep, lagunya bagus, dia juga misterius banget, bikin greget. Hehe” icha kesenengan kalau sampai jadi buat acara tentang Langit.
“Aku juga sepakat sih sama Icha” Reksa menyepakati. “Gimana yang lain?”
“yaps, bakal jadi modal gede sih buat kita juga. Mantaaap” Rici mengacungkan jempolnya.
“Aku ga setuju sih, ini terlalu beresiko. Harus dipertimbangin mateng-mateng pokonya” Selly tetap berusaha. Aku tau dia begitu sayang padaku. Dia tak mau aku masuk lagi ke masa-masa larut dan menghilangkan Satira yang sebenarnya. Tapi aku ingin menghadapinya.
“aku punya pemikiran yang sama juga sih perihal Langit Biru ini. Juju raku baru banget sih ngikutin karyanya dia, dan ternyata emang menarik, makanya aku coba tawarin ke kalian buat dijadiin sebuah event” aku ambil suara lagi.
“dan semua pertimbangan yang disampein Selly juga perlu kita perhatiin mateng-mateng. Tapi ini bisa jadi kesempatan besar. Aku juga sepakat kalau ini bisa dijadiin event sampingan aja. Mungkin bisa Reksa yang pegang sebagai pemanasan bikin event”
“Aku ga setuju sih Ra” Risa memulai dengan argumennya. Selly menunjukan muka lega karna akhirnya ada yang mendukung argumentnya. Mendukung agar event ini tak pernah terjadi.
“ Aku ga setuju kalau event Langit biru ini cuman dijadiin event sampingan aja. Justru menurutku ini harus jadi salah satu event besar kita” Risa tanpa ragu menyampaikan pendapatnya. Aku sangat kaget dengan kata-katanya itu, kukira dia ada di pihak Selly. Selly apalagi, dia langsung memelototi Risa sambil memegang lengan Risa dengan kuat.
“Kalau kita liat track recordnya, Langit biru ini punya pencapaian yang cepet banget. Proses liris albumnya ga butuh waktu yang lama, masyarakat juga langsung bisa nerima dengan cepat. Dia juga muncul lewat karya, bukan lewat sensasi. Ini jadi awal yang baik dan aku rasa gebrakan lewat event gede juga masih worth it banget sih”
Risa berdiri. Dia menuju whiteboard yang terdapat di depan ruangan. Dia menuliskan konsep acara dan semua rencana didalam kepalanya tentang event ini.
“kita buat event itu jadi sangat Langit. Kita bisa buat galeri seni yang memajang karya-karya lukisnya. Kita bisa undang musisi lain untuk ikut cover atau duet dengannya. Dari yang aku tau, besarnya langit juga tidak luput dan cerita pribadinya dia dan teman-teman dekatnya yang selalu support. Hal itu membuat karyanya dirasakan begitu dekat dengan penikmatnya. Semua konsep bisa kita olah dan ini jadi fresh banget menurutku”
“aku sendiri yang siap untuk turun ngurus acara ini, tentunya dibantu sama Reksa yang tampan dong ya. Haha” Risa menggoda Reksa, suasana pertemuan aku rasakan menjadi hangat lagi.
Aku tersenyum dengan segala peernyataan yang muncul dari Risa. Dia benar-benar tidak terpengaruh dengan cerita-cerita dibalik ini semua.
Konsep Risa membuat kita semua bulat untuk menyepakati. Tribute to Langit akan direalisasikan. Dengan Risa sebagai Project Manager dan Reksa yang menjadi Asisten. Selly masih sangat kesal sampe pertemuannya di tutup. Kali ini bukan hanya kepadaku tapi juga ke Risa. Dia merasa dikhianati.
...
Pertemuan bubar, menyisakan aku, Selly dan Risa.
Risa berdiri dan hendak meninggalkan ruangan, langkahnya terhenti ketika Selly menarik tangannya.
"Lu, ko malah jadi ngedukung acara ini sih Ris? Lu mau munculin lagi Langit dan bikin Satira sedih lagi?" Selly nyolot dengan nada yang tinggi dan raut marah.
Risa belum merespon dan hanya melihat mata Selly saja. Aku pun bingung harus bagaimana.
"gua udah sempet kehilangan temen gua selama beberapa bulan, bukan wujudnya, tapi rasanya. Selama itu Satira ga kaya yang gua kenal"
"dan lu juga jangan aneh-aneh lagi lah Ra" Selly menunjukku dengan sangat tajam.
Aku menunduk, tak mau pertengkaran antar teman ini menjadi lebih besar lagi. Semua keputusan ini harus aku lakukan biar semuanya jelas.selesai.
"aku cuman berusaha buat objektif aja Sel" Risa perlahan berpendapat lagi.
"kita ga bisa pungkiri kan kalau karyanya Langit itu emang perlu dipertimbangkan. Dia punya standar yang tinggi dan aku yakin dia punya potensi dan pasar yang massal juga. Aku gamau cuman gara-gara urusan pribadi Satira sama Langit malah ngerubah penilaian aku sama Karyanya."
"dan lagian. mau sampai kapan juga sih perasaan itu ditahan. dihindari, dikubur dalem-dalem. Satira juga ga akan pernah bisa lupa kalau jalan keluarnya cuman lewat pengabaian aja"