Langit Biru

Faldhy Dwi B.
Chapter #17

#17

Kita bertengkar hebat, hanya soal keputusanku, yang tidak masuk akal baginya. Wajahnya memerah. Nada bicaranya tinggi sekali, emosinya meluap meledakan isi kepalaku.

Tidak tersentuh sedikitpun makanan yang di pesan oleh satira. Spageti dengan saus merah yang panas, juga snack potato yang sama sekali tidak bergerak dari mangkok.

Ia hanya diam dan melihatku … benci. Matanya membakar semua isi hatinya. Badannya kaku. Aku merasakan perasaan itu. kali ini, ia benar-benar membenciku.

“ Aku tidak setuju dengan semua keputusan bodohmu itu! “

Aku hanya diam, sambil menghisap sebuah rokok. Menatapnya dan berusaha untuk tenang dengan meminum kopi panas robusta. Jendela memberikan kesempatan pada angin yang masuk melalui celah kecil kain gorden dan ini … membuat badanku tak karuan.

“ Harum tidak hanya membutuhkan pendidikan dan uang, ia membutuhkan kakaknya. Sosok seorang kakak, aku ulangi, SOSOK SEORANG KAKAK! yang hadir di dalam hidupnya. Apakah kamu sudah gila? “

Aku hanya diam, sambil menghisap sebuah rokok. Melihat matanya yang menusuk mataku. Suaranya masuk melalui gendang telinga, bising dan begitu menghujam, seperti music rock dan kericuhan penonton di depannya.

“ kamu pikir, di sekolahkan di Ibnu Sina Ganesha dapat menjamin bahwa Harum akan bahagia? Tidak Langit! “

Aku hanya diam, sambil menghisap sebuah rokok. Rasanya ingin melemparkan gelas kopi ini ke mukaku!

Kini tidak hanya nada bicaranya saja yang tinggi, Suara Satira terdengar keras dan lantang, hingga pengunjung yang di sebalah utara melihat ke arah kami. Laki-laki bodoh itu, nyawanya akan mati sebentar lagi.

“ Apa kamu lihat-lihat, ngerasa keganggu dengan suara saya “ Satira membalas pengunjung yang menggunakan kaca mata hitam.

“ Duduk Satira! “

Aku membentaknya dengan sangat keras.

Aku hanya diam, sambil mematikan rokok yang sudah habis di ujung kapas. Kini giliranku menjelaskan kopi pahit yang tak karuan ini. Tak sengaja kopi tersebut terjatuh, tumpah, karena tersentuh tanganku. (Langit Biru – Tumpahan Kopi)

“ Aku sudah menjual rumah, hasil dari penjualan rumah sudah ku bayarkan ke sekolah Ibnu Sina Ganesha, dari mulai SMP hingga SMA, dan Harum, bisa sekolah dengan tenang, tanpa harus memikirkan biaya sekolah, dan sisanya … aku simpan di deposito, yang bisa ia cairkan saat lulus SMA. Aku harap ia di terima di fakultas kedokteran, karena itu cita-citanya. Apa yang aku lakukan …. “

Aku terdiam sebentar, Pramusaji melihatku ….

Satira pun kini melihatku, ia seperti mati rasa, asap rokok dalam asbak membuatnya muak ….

Pelayan restauran mengantarkan kopi yang satira pesan. Ia cukup ketakutan dan ingin resign hari itu juga.

Lihat selengkapnya