Langit Biru

Faldhy Dwi B.
Chapter #18

#18 ending 1

Kemarin adalah pertemuan pertama kami setelah episode menghilang itu Semua kenyataan itu menjadi serangan yang paling menyakitkan buatku, lebih buruk dibandingkan selama momen-momen larut. Kenyataan bahwa semua perjuangan yang di lakukan langit sama sekali tidak melibatkanku. Aku selalu mencoba untuk tak lupa, karena bagaimanapun juga itu adalah suatu kenangan.

Pintu masuk menuju larut sudah ada didepan muka ku lagi. Aku berdiri diambang pintu dengan rayuan untuk membukanya dan mengajak masuk . Ruang realita ini membuatku sesak dengan segala kenyataannya, aku diperbolehkan untuk tetap tinggal atau masuk kembali pada ruang yang lain. Terpuruk lagi. 

Kurasa malam itu menjadi sebuah pembuktian dan pelepasan rasa yang sudah lama aku pendam. Aku hanya berharap bertemu lagi. Walaupun berakhir dengan tidak menyenangkan tapi aku mampu untuk berjalan lagi kiranya.

Dan pertunjukan tetap harus berjalan.

Pagi ini semua tim sedang bersiap. Aku hanya terdiam disebuah kursi dipojokan venue. Semua teknis acara sudah ku serahkan sepenuhnya kepada Risa. Aku terlalu campur aduk, khawatir jika terlalu terlibat ke acara malah bisa menimbulkan masalah. 

Hari ini aku hanya melihatnya. Dia begitu tenang menunjukan semua keahliannya. Di rautnya tak ada sedikitpun keraguan yang terganggu dengan kejadian semalam. Membawakan lagu secara langsung untuk semua penggemar dan acara ini menjadi serba langit, Lagunya, liriknya, lukisan-lukisannya dan dirinya sendiri tentu saja. Acara masih sangat begitu ramai, tapi aku terpaku tak bisa bergerak dan berkata apa-apa. Ada lagi perasaan yang tak biasa, tapi bukan luka yang seperti itu. Kalau saja rasanya sama aku pasti langsung paham, aku sudah akrab dengan rasa luka itu, tapi sekarang asing lagi.

Selly melihatnya juga. Dia langsung memegang tanganku.

Takdirnya memang harus mempertemukan lagi aku dan dia. Aku melihat lagi Langit. Tidak hanya biru, tapi bercahaya. Lebih terlihat seperti pagi hari, mentari, bukan lagi senja. Aku sangat sadar menatapnya, tapi tetap membisu, beku. Sampai akhirnya mata kita tidak pernah bertemu lagi.

Aku mulai menyuguhkan senyumku. Entah kau melihatnya atau tidak. Aku lebih tenang, genggaman selly ku lepaskan. Aku meyakinkan Selly bahwa semuanya akan baik-baik saja, sebentar lagi Selly harus naik ke panggung. Tak lama Risa juga menghampiri dan acara sudah akan mendekati puncak dan akhirnya. Aku berimajinasi tentang sebuah percakapan singkat yang berharap bisa terjadi antara aku dan Langit, pembahasan yang isinya lebih banyak saling mendoakan. Cukup tak usah ada konflik lagi.

Aku dan Langit sudah berbeda. Aku dan Langit sudah Selesai.

***

Aku berjalan dari belakang. Berjalan dengan kaki yang tenang, lalu menunggu di belakang panggung yang megah, dengan tinggi dua meter, dengan hiasan lukisan miliku di belakangnya. Alien. Aku selalu mengingatnya. Kilauan lampu sorot berawarni warni memutari seluruh area panggung. Seluruh orang berteriak memanggil namaku, hanya ada kursi dan guitar accoustic disana. Angin malam menyempurnakannya dengan tambahai dekorasi cahaya lampu kuning yang mengitari seluruh area penonton. Luas sekali.

Lihat selengkapnya