Langit Biru

Faldhy Dwi B.
Chapter #19

#19 ending 2

Dengan sekejap.

Semuanya hilang. berkeping-keping dan runtuh satu persatu, terhempas tertiup angin malam dan berterbangan ke awan-awan, semua bayang tersebut menjadi fatamorgana yang sangat gelap dan pekat. Menyempurnakan ingatan dengan duka, dengan luka, dengan cinta dan air mata. 

Kita semua sedang mengenang, seluruh karya Langit Biru. Termasuk Selly.

yang menyanyikan seluruh lagu milik Langit Biru sejak tadi, sendiri. 

Yang mengisi suara di album “Alien” sendiri.

Harum menceritakannya padaku, memeluku dan membawakan buku puisi milik Langit Biru. 

“ Terimakasih Harum “ 

Sembari memeluknya.

Sangat erat, Harum tersendak-sendak, bahkan ia terus menangis, perih, tak peduli dengan air matanya yang sudah habis, mengalir menumbuhkan pedih. Badannya terus gemetar. Tangganya kuat mengikat. 

Tulisan tangannya seolah sedang berbisik padaku di malam ini, perlahan, menyentuh telingaku, memperkosa hatiku, ku raba seluruh huruf demi huruf, seluruh bait demi bait, menikmati setiap kata-katanya yang sempurna, yang keluar dari bibir manisnya, yang tumpah secara halus pada kertas dan membekas di jiwaku, ia mengecupku dengan buku. Karena hanya disitulah aku bisa bertemu.

“khayalanku tentang Langit, untuk berdiri di panggung sana ... hanyalah sebuah delusi” 

Bahkan ... Kemarin.

Tentang pertemuanku dengan Langit, sehari sebelum acara ini berlangsung ...

Bahwa Langit Biru, telah hilang, tanpa pamitan.

Terimakasih. Langit Biruku ..... 

.....

Senin :

Diam ..

Aku merindukanmu dalam diam …

Dari senin hingga jumat, lalu sabtu hingga minggu ini kita tidak banyak bicara. Dan itu, membuatku

Merindukanmu sangat dalam ...

-Langit Biru, Maret 2014

Selasa :

Entah apa ..

Entah apa yang sedang kau hadapi

kau terus menangis tiada henti … sayangku

Entah kenapa engkau enggan berbagi

kau terus sedih setiap hari

setiap pagi, siang dan malam nanti

Aku hanya ingin tahu sedikit

setelah itu, akan aku lupakan, karena enggan untuk ikut campur dalam pikiranmu

Namun, biarkan aku tahu, sebatas itu dan aku tak ingin mengganggumu lagi.

Jika ini berat bagimu, berikan padaku.

Jika aku harus dapat kabar setiap hari tentang air matamu yang jatuh, aku tidak ingin itu

Bagiku, kau adalah harapan

Harapan tak boleh padam

Terus bersinar … kehadiranmu menyemangati diriku

Namun jika engkau terus menangis

Aku terbawa dalam emosimu

Ikut menangis menemanimu

Air matamu jatuh di pipiku

Mengalir perlahan menuju hatiku

Aku adalah bagian darimu

percayalah, suatu saat nanti, seluruh air matamu yang jatuh ke tanah akan menguap, kembali ke atas, berterbangan, menjadi hujan dan menumbuhkan bunga-bunga.

Tetaplah bersamaku.

Aku ada untukmu …

Menjadi awan

Menyimpan semua air matamu, dan datanglah hujan …

-Satira Jingga, Mei 2014

Rabu :

Kamu tidak sendirian …

Jika bagimu hidup ini berat, lupakanlah

Sedih hanya mampir sebentar

Begitupun bahagia.

Dan, rasa takut mulai memudar.

Tidak usah khawatir, apalagi sedih

Kita hanya perlu menikmati semua yang terjadi. sedikit gula dan tersenyum di depan kaca wajahmu manis kembali muda

Kamu tidak sendirian … sayangku …

Tadi kita makan kue, tertawa dan makanan tak kau habiskan, saat itu juga kau sudah ditunggu di rumah dan kini kau cemberut di kasur. berharap akan ada bahagia yang masuk melalui sela-sela mimpi.

Kamu tidak sendirian … sayangku …

Kamu hanya perlu berjalan tenang, menikmati malam dengan dua cahaya. Dan, jika kegelapan itu datang.

Ingatlah, kau tidak sendirian ….

Lihat selengkapnya