Langit Kelima: Kunci Etheria

Muhammad Algis algifachri
Chapter #2

Bab 2 - Jejak di Balik Angin

Mereka berlari menembus hutan dalam diam. Langkah kaki Kael beradu dengan tanah basah dan akar-akar pepohonan yang menjulur, tapi ia tak peduli. Di belakangnya, Lyra bernapas cepat, sesekali menoleh ke arah desa yang perlahan dilahap api dan kabut hitam.


Suara teriakan dan ledakan masih terdengar jauh, tetapi samar. Dunia yang mereka kenal telah berubah dalam semalam.


Kael tidak tahu ke mana ia menuju. Tapi satu hal yang ia yakini: jika ia tetap diam, maka segalanya akan hancur—dan itu dimulai dari dirinya sendiri.



---


Kabut pagi menggantung rendah saat mereka sampai di sebuah padang berumput yang tersembunyi di balik dua tebing batu. Udara dingin, tapi tidak menusuk. Tempat itu terasa seperti perbatasan antara dua dunia: satu dunia yang baru saja mereka tinggalkan dalam kobaran api, dan dunia lain yang masih menyembunyikan rahasianya.


Kael duduk di bawah pohon pinus tua. Bahunya naik-turun, napasnya belum stabil. Lyra duduk di dekatnya, diam-diam mengamati wajahnya.


“Sudah kuduga,” gumamnya. “Kael Ardyn ternyata memang bukan anak desa biasa.”


Kael menoleh, wajahnya lelah namun tenang. “Aku tak tahu apa maksud mereka... Raegor, Master Elion... semuanya bicara seolah aku menyimpan sesuatu yang besar. Tapi aku... aku tidak tahu apa-apa.”


Lyra membuka gulungan kecil dari dalam jubahnya—peta tua. “Kita tidak bisa kembali ke Windara. Tapi kita bisa menuju utara. Jika benar apa yang Elion katakan tentang darahmu, maka satu-satunya tempat yang bisa menjelaskannya adalah... Menara Angin Purba.”


Kael menatap peta itu lama, lalu mengangguk pelan. “Kalau itu bisa menjawab... kenapa angin selalu bicara padaku, aku akan ke sana.”



---


Perjalanan mereka pun dimulai. Melewati celah-celah pegunungan, sungai beku, dan ladang tak bertuan, Kael dan Lyra menuju utara, mengikuti jalur Etheria yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memilikinya.


Hari pertama mereka bertemu kawanan pemburu dari Klan Tanah yang tampak mencurigakan, tapi berhasil menghindar. Hari kedua mereka menyeberangi jembatan kayu rapuh yang hampir roboh oleh badai. Hari ketiga mereka sampai di kaki Gunung Varest, wilayah yang terkenal dengan angin tak menentu dan medan curam.


Malam ketiga, mereka berkemah di celah lembah. Api kecil menyala redup di antara bebatuan, cukup untuk menghangatkan tangan namun tidak cukup untuk membuat mereka lupa akan bahaya yang mengintai.


Kael termenung, menatap nyala api.


“Lyra,” bisiknya, “kenapa kau tetap ikut denganku? Kau bisa saja pergi sendiri.”


Lyra diam sejenak sebelum menjawab. “Karena aku tahu rasa tersesat itu. Dan karena... kau bukan satu-satunya yang menyimpan rahasia.”


Lihat selengkapnya