Kael terbangun saat angin berhenti bernapas. Tak ada suara. Bahkan nyanyian malam pun seolah lenyap dari udara. Di dalam Menara Angin Purba yang menjulang bisu, dunia terasa seperti sedang menahan napas.
Ia membuka matanya perlahan. Dinding batu berukir simbol kuno masih berdiri di sekelilingnya. Tapi dadanya terasa berat—bukan oleh mimpi buruk, melainkan oleh sesuatu yang lebih dalam: rasa kehilangan arah.
Sementara itu, Lyra duduk di ambang jendela batu, membiarkan rambut peraknya tergerai diterpa angin pagi. Ia tidak menoleh saat Kael bangun, tapi suaranya terdengar tenang.
“Kita harus pergi.”
Kael bangkit pelan. “Ke mana?”
“Wilayah Klan Api,” jawab Lyra tanpa ragu. “Pilar mereka adalah yang pertama dalam daftar Raegor. Dan jika benar dia ingin menghancurkan semua penjaga keseimbangan, kita tak punya waktu banyak.”
Kael mengangguk. Tapi matanya masih menyimpan kekosongan. Ia belum tahu siapa dirinya, tapi dunia sudah memintanya untuk menyelamatkan sesuatu yang bahkan belum ia mengerti sepenuhnya.
---
Perjalanan menuju barat daya bukanlah pilihan mudah. Jalur menuju wilayah Klan Api dikenal paling ganas: gurun tak berujung, tanah retak penuh gas panas, dan lembah api di bawah tanah. Tapi jalur itulah yang harus mereka tempuh, mengikuti aliran Etheria yang kian terasa gelisah setiap harinya.
Kael merasakan perubahan dalam tubuhnya. Setiap langkah, setiap tarikan napas, membuat Etheria dalam darahnya berdenyut tak beraturan. Ia mencoba mengendalikannya, tapi energi itu liar, tidak seperti milik Lyra yang bersinar tenang seperti matahari pagi.
Di tengah perjalanan, mereka melewati reruntuhan kota tua—bekas perkampungan klan yang hancur oleh perang lama. Batu-batu hangus dan patung patah menyisakan cerita kelam. Kael berhenti sejenak, menatap langit yang buram.
“Berapa banyak tempat seperti ini yang sudah hilang karena Etheria?” bisiknya.
“Bukan karena Etheria,” jawab Lyra pelan, “tapi karena mereka yang ingin memonopoli kekuatannya.”
Kael terdiam. Hatinya mencatat satu lagi beban.
---
Dua hari kemudian, udara mulai terasa lebih panas. Tanah yang mereka injak berubah menjadi debu merah, kering dan menyakitkan di telapak kaki. Angin sudah tidak lagi sejuk—ia panas, membawa aroma belerang dan logam terbakar.
Di kejauhan, bayangan pegunungan hitam muncul, mengepulkan asap dari kawahnya. Di sanalah benteng utama Klan Api berdiri: Kawah Abadi, markas dari penjaga Pilar Api.
Mereka tiba saat malam hampir turun, menyelinap ke antara bebatuan dan bayangan. Dari kejauhan, mereka melihat penjaga dengan zirah merah menyala, mata tajam, dan senjata yang tampak seperti menyatu dengan tubuh.
Lyra menggenggam lengan Kael. “Mereka tidak akan membiarkan kita masuk. Bahkan jika kita menyebut nama Master Elion.”
Kael menunduk. “Lalu bagaimana?”
Lyra menunjukkan simbol perak kecil yang tergantung di lehernya. “Ayahku dulu adalah bagian dari Dewan Elemen. Ini masih bisa membukakan satu jalur rahasia.”
---