Langit Kelima: Kunci Etheria

Muhammad Algis algifachri
Chapter #5

Bab 5 - Retakan di Dalam Gelombang

Langit di atas Kuil Air bergemuruh, dan danau yang biasanya tenang mulai beriak tak wajar. Air mengangkat dirinya seperti tembok transparan yang bergerak, menciptakan bentuk seperti tombak raksasa yang siap menyerang dari segala arah.


Di kejauhan, kapal-kapal hitam itu muncul satu per satu dari dalam kabut, tak mengganggu permukaan air, seolah mereka bagian dari kedalaman itu sendiri. Tak ada layar. Tak ada suara. Tapi di atas setiap kapal berdiri pasukan berpakaian gelap, wajah tertutup topeng berkilat perak.


Kael menatap mereka dari teras kuil, tubuhnya masih lemah setelah menyatu dengan Pilar Air. Tapi dalam dadanya, kekuatan Etheria terus berdenyut, seperti lautan yang menolak surut.


Zarek menggenggam gagang pedangnya erat. “Mereka tahu kita di sini. Dan mereka tak datang untuk bernegosiasi.”


Lyra berdiri di antara mereka berdua, tatapannya tajam. “Mereka tidak boleh menyentuh Pilar.”


Kael mengangguk. “Kalau mereka berhasil mengambil aliran air... keseimbangan Etheria akan goyah. Dunia kita akan mulai kehilangan bentuknya.”



---


Dari kapal utama, satu sosok melompat tinggi, mendarat ringan di permukaan air tanpa membuat percikan. Tubuhnya diselubungi jubah biru gelap, dan topengnya menutupi seluruh wajah. Hanya matanya yang terlihat—mata pucat seperti air mati.


Kael menelan ludah. “Siapa dia?”


Zarek menjawab cepat. “Salah satu Tiga Arus—pembantai tak bersuara dari Umbra.”


Lyra mencabut pedang Ether miliknya, cahaya putih berpendar lembut dari bilahnya. “Kita tak akan bisa menang jika bertarung frontal.”


Kael menarik napas. “Tapi kita bisa menahan.”



---


Pertempuran dimulai seperti badai yang tumbuh dari dalam air. Tiga kapal pertama pecah sebelum sempat mendekat—dibalikkan oleh pusaran air yang diciptakan Kael dengan Etheria-nya. Namun setiap kapal yang tenggelam digantikan oleh dua kapal lainnya.


Zarek menyerang lebih dulu, tubuhnya bagai nyala merah di tengah birunya langit. Pedangnya beradu dengan tombak salah satu prajurit Umbra. Dentingan Etheria melengking, menggetarkan seluruh kuil.

Lihat selengkapnya