Langit Kelima: Kunci Etheria

Muhammad Algis algifachri
Chapter #9

Bab 9: Bayang Dalam Api


Langit semakin gelap, mendung pekat menutupi sinar matahari yang mulai terbenam. Suara gemuruh jauh terdengar, pertanda badai akan datang, namun kami tak punya waktu untuk berlindung. Api dalam jiwa kami justru semakin membara.


Kael menatap ke arah horizon, wajahnya dipenuhi tekad dan keraguan yang bertarung dalam diam. “Aku harus tahu lebih banyak tentang Umbra... dan tentang diriku sendiri,” katanya pelan.


Lyra mengangguk. “Aku akan membantumu. Tapi untuk itu, kita harus masuk ke Kota Merah — markas besar Klan Api. Di sana, ada seseorang yang tahu tentang ayahku dan tentang Umbra.”


Zarek mengerutkan dahi. “Kota Merah sudah lama dikuasai Umbra. Kita harus berhati-hati. Mereka tidak hanya mengendalikan kota, tapi juga banyak jiwa di dalamnya.”


Kami melangkah ke jalan setapak yang menuju ke jantung wilayah Api. Semakin dekat, bau asap dan besi panas semakin kuat. Di kejauhan, menara-menara tinggi menjulang, dindingnya berwarna merah tua, tertutup simbol-simbol kuno yang berkilauan saat tersentuh cahaya api.


Saat kami mendekat, sosok berjubah hitam muncul di tengah jalan. “Kalian tidak diizinkan masuk,” suara beratnya menggema. “Kota Merah bukan untuk kalian.”


Kael mengangkat tangan. “Kami bukan musuh, tapi kami datang mencari kebenaran.”


Jubah hitam itu tertawa sinis. “Kebenaran? Kebenaran sudah lama mati di sini. Hanya kekuasaan yang berkuasa.”


Pertarungan kecil meletus. Kami bertiga berusaha melewati penjaga Umbra itu, tapi ternyata ada banyak yang menunggu di balik gerbang.


Dalam bentrokan itu, Kael merasakan sesuatu aneh di dalam dirinya. Sebuah bisikan lembut, namun penuh ancaman. Itu bukan suara siapa pun di dunia nyata. Itu suara kegelapan yang bersemayam dalam Ether-nya. Ia mencoba mengusirnya, tapi semakin kuat.

Lihat selengkapnya