Langit Kelima: Kunci Etheria

Muhammad Algis algifachri
Chapter #12

Bab 12 - Gelombang Pengkhianatan


Setelah semalam beristirahat di dekat Pilar Api, kami melanjutkan perjalanan menuju wilayah Klan Air, tempat Pilar berikutnya berada. Udara pagi yang segar berbaur dengan aroma laut yang tajam, memberi kesan damai namun menyembunyikan rahasia gelap yang siap menguji kami.

Kael menatap cakrawala luas, bayangan ombak biru berkilauan di bawah sinar matahari. “Pilar Air,” gumamnya. “Tempat yang tak kalah berbahaya.”

Lyra memeriksa peta usang yang tersobek di beberapa bagian. “Klan Air memang terkenal akan ketangguhan dan kesetiaan, tapi juga penuh intrik dan rahasia.”

Zarek menambahkan, “Kita harus hati-hati. Umbra pasti sudah menunggu, bahkan mungkin ada pengkhianat di dalam klan itu sendiri.”

Setibanya di perbatasan wilayah Klan Air, kami disambut oleh suasana berbeda. Kota-kota kecil yang dulu ramai kini terlihat suram dan hampa. Warga tampak waspada dan penuh curiga terhadap orang asing.

Seorang pemuda bertubuh tegap dan berambut putih panjang menghampiri kami. “Kalian bukan dari sini, bukan?” katanya dengan suara dingin. “Apa urusan kalian di wilayah kami?”

Kael melangkah maju, berusaha menampilkan sikap tenang. “Kami datang untuk menjaga keseimbangan dunia. Pilar Air sedang dalam bahaya.”

Pemuda itu menatap tajam, lalu memandang Lyra dengan sesuatu yang sulit dijelaskan. “Namaku Darien. Aku penjaga Pilar Air. Tapi kau, Lyra Elune, darahmu menyimpan rahasia yang tak bisa kau sembunyikan.”

Ketegangan mulai terasa. Lyra menelan ludah, tahu bahwa rahasianya mulai terungkap. “Apa maksudmu?” tanyanya pelan.

Darien tersenyum sinis. “Ayahmu bukan hanya pengkhianat. Dia membantu Umbra menguasai Pilar-pilar. Kau harus memilih sisi, Lyra. Atau kau akan dianggap musuh.”

Zarek mengepalkan tangan, siap turun tangan, tapi Kael mengangkat tangan memberi isyarat untuk menahan diri. “Kami di sini bukan untuk bertengkar, tapi untuk menyelamatkan dunia.”

Hari-hari berikutnya di wilayah Klan Air dipenuhi dengan kecurigaan dan pengawasan ketat. Kami terus mencoba mencari cara untuk mendekati Pilar Air dan menguatkan penjagaannya.

Namun, di balik semua itu, konflik internal mulai muncul. Lyra berjuang dengan bayang-bayang masa lalunya, rasa bersalah dan dendam yang menyesakkan dada. Kael berusaha memberikan dukungan, tapi terkadang terasa terlalu jauh untuk dijangkau.

Suatu malam, ketika Kael sedang berjaga di tepi danau yang tenang, suara langkah mendekat. Lyra muncul, wajahnya basah oleh air mata yang tak tertahan.

“Aku takut, Kael,” bisiknya. “Takut aku akan mengulang kesalahan ayahku.”

Kael memeluknya erat. “Kau bukan dia. Kau punya kekuatan dan hati yang berbeda. Bersama kita bisa mengubah takdir itu.”

Namun, tidak semua berjalan mulus. Dari bayang-bayang muncul pengkhianatan yang tak terduga. Darien, yang awalnya menjadi penghalang, diam-diam melaporkan posisi kami ke Umbra.

Serangan mendadak terjadi di malam hari. Pasukan Umbra menyerbu dengan brutal, mengobrak-abrik desa dan mengepung kami di sekitar Pilar Air.

Pertempuran sengit kembali pecah, kali ini kami harus bertarung bukan hanya melawan musuh luar, tapi juga rasa sakit akibat pengkhianatan dari orang yang sempat kami percayai.

Kael menatap Darien yang kini berubah menjadi musuh. “Mengapa kau lakukan ini?” tanyanya penuh kecewa.

Darien tersenyum pahit. “Kekuatan adalah segalanya. Aku memilih sisi yang menjanjikan kekuasaan.”

Lyra menatap Kael dengan air mata dan keberanian. “Ini ujian kita. Jika kita bisa melewati ini, tidak ada yang bisa menghentikan kita.”

Pertarungan mencapai puncaknya saat Kael menggunakan seluruh kekuatannya, menyatukan energi angin dan api, menciptakan badai dahsyat yang menghalau pasukan Umbra. Namun, luka dan kelelahan mulai menghampiri.

Kami bertahan, tapi sadar bahwa jalan kami masih panjang dan penuh liku.


---


Malam itu, setelah pertempuran yang menguras tenaga dan jiwa, kami berkumpul di pinggir danau yang tenang. Airnya berkilau redup di bawah cahaya bulan, seperti cermin yang memantulkan ketegangan dan kelelahan yang menghimpit hati kami.


Kael duduk terpaku, memandangi riak air yang terbentuk dari hembusan angin lembut. Pikiran dan perasaannya bercampur menjadi satu—rasa lega karena selamat, sekaligus rasa takut akan ancaman yang belum berakhir.


Lyra duduk di sebelahnya, masih mengenakan pakaian basah akibat hujan deras yang turun sebelum matahari terbenam. Matanya merah karena menahan air mata sepanjang malam.


“Kita berhasil mempertahankan Pilar,” bisiknya pelan, “Tapi di balik kemenangan ini, aku merasa seperti kehilangan sesuatu yang lebih besar.”


Kael menatapnya, hatinya ikut sesak. “Apa maksudmu?”


Lyra menghela napas panjang. “Pengkhianatan Darien... Itu membuatku mempertanyakan segala hal. Tentang keluargaku, tentang ayahku... Dan tentang diriku sendiri.”



---


Sejenak, keheningan menyelimuti kami. Suara gemericik air dan desir angin di pepohonan menjadi latar yang mengiringi pikiran kami.


Kael mengumpulkan keberanian untuk membuka hati, mencoba menguatkan Lyra dan juga dirinya sendiri.


“Aku tahu betapa sulitnya kau menghadapi masa lalu itu,” ucap Kael dengan suara rendah. “Tapi kau bukan bayangan ayahmu. Kau adalah dirimu sendiri, dengan pilihan dan kekuatan yang berbeda.”


Lihat selengkapnya