Hutan berganti bukit, bukit berganti lembah. Langkah kami terus maju tanpa kepastian, hanya ditemani desir angin yang tak lagi ramah. Jalan menuju wilayah Klan Tanah bukan hanya berat secara fisik, tapi juga menyesakkan secara batin. Kami seperti memasuki tubuh bumi itu sendiri—semakin dalam, semakin sunyi.
Kael berjalan paling depan, matanya tajam tapi wajahnya lelah. Luka-luka dari pertempuran sebelumnya sudah mulai mengering, namun bayang-bayang Darien dan peringatan Umbra masih menggantung di pikirannya.
Zarek, yang seharusnya merasa seperti pulang—karena darah Tanah mengalir kuat di tubuhnya—justru tampak paling gelisah. Ia berjalan lebih lambat dari biasanya. Kadang, ia berhenti menatap reruntuhan akar, atau mengelus dinding batu yang ditumbuhi lumut.
Lyra menyadari perubahan itu dan mendekatinya. “Kau diam sejak tadi.”
Zarek mengangguk, tapi tidak menjawab segera. Ia menyentuh tanah dengan telapak tangannya yang kasar. “Tempat ini... tidak seperti dulu. Seolah bumi menutup dirinya. Seolah dia tak mau kami kembali.”
Kami melewati celah sempit di antara dua tebing batu yang menjulang. Cahaya matahari hanya masuk sedikit, membuat jalanan terasa seperti gua terbuka. Suara langkah kami terpantul, seolah ada yang mengikuti di belakang, padahal kami tahu kami hanya bertiga.
Kael menoleh sesekali, berjaga-jaga.
“Tempat ini aneh,” katanya pelan, “Terlalu hening.”
“Ini bukan keheningan biasa,” gumam Zarek. “Ini... keheningan yang memendam marah. Seperti luka lama yang tak sembuh.”
Tak lama, kami tiba di desa tua Klan Tanah—atau yang tersisa darinya.
Tanah retak dan kering. Rumah-rumah dari batu besar telah roboh, ditelan akar-akar raksasa yang mencengkeram seperti tangan kematian. Pilar-pilar batu yang dulu berdiri megah kini patah, berserakan seperti tulang-tulang yang dilupakan.
Di tengah reruntuhan itu, berdiri satu sosok tua berjubah coklat tanah. Ia tak bergerak saat kami datang, tapi jelas ia tahu kami di sana.
Zarek maju perlahan. “Paman Meroth?”
Sosok itu menoleh. Wajahnya dipenuhi keriput dan bekas luka perang lama. Tapi sorot matanya tajam, seperti batu permata yang tersembunyi dalam lumpur.
“Zarek putra Eron,” katanya, suaranya berat seperti gemuruh jauh di bawah tanah. “Kau kembali membawa yang tak bisa diselamatkan.”
Zarek terdiam. Kael dan Lyra bertukar pandang.
“Apa maksudmu?” tanya Kael.
Meroth menatap Kael lama. “Darahmu... bercampur. Angin, Api, Air, bahkan Cahaya. Tapi Tanah tidak melupakan. Tanah tahu siapa yang akan menghidupkan... atau menghancurkan segalanya.”
Kami bermalam di reruntuhan rumah pertemuan, bangunan batu setengah runtuh yang masih menyisakan ruang untuk berlindung dari hujan malam yang deras. Petir menyambar langit, tapi suara guntur terasa jauh, seperti berasal dari dalam bumi, bukan dari langit.
Zarek duduk sendirian, menghadap altar batu yang rusak. Lyra tidur dengan nyenyak, tubuhnya lelah, tapi jiwanya tampak damai. Kael masih terjaga, memperhatikan Zarek dari jauh.
Akhirnya ia mendekat, duduk di sampingnya. “Kau sudah berubah sejak kita masuk wilayah ini.”
Zarek tidak menoleh. “Tempat ini adalah kuburan semua harapanku. Ayahku dibunuh oleh bangsanya sendiri karena menolak tunduk pada Umbra. Ibuku... hilang dalam tanah ini. Aku tidak pernah benar-benar kembali.”
Kael mendengarkan, tak memotong.
“Aku takut, Kael,” lanjut Zarek, suaranya nyaris tak terdengar. “Takut jika aku masuk ke Pilar Tanah, aku akan kehilangan semuanya. Termasuk kendali diriku.”
Kael menatap ke altar. “Kita semua berjalan di atas luka yang belum sembuh. Tapi mungkin... itu satu-satunya jalan untuk menyembuhkan dunia.”
Zarek akhirnya menoleh. “Jika aku berubah... jika aku menjadi seperti Darien... kau harus menghentikanku.”
Kael menatapnya dalam. “Kalau kau berubah... aku tidak akan menghentikanmu. Aku akan mengingatkanmu siapa dirimu.”
Keesokan harinya, kami dibawa oleh Meroth ke bawah tanah, ke tempat di mana Pilar Tanah tersembunyi: sebuah gua besar yang dipenuhi kristal hitam dan akar-akar tua yang berdenyut seolah hidup.
Pilar Tanah berdiri di tengah ruangan, menjulang seperti taring raksasa dari bumi. Ia dikelilingi oleh lingkaran batu yang ditulisi simbol-simbol kuno, yang berkedip perlahan seperti napas.
Saat Zarek melangkah mendekat, tanah di bawah kakinya bergetar. Pilar itu menyambutnya... atau mengujinya.
Lyra dan Kael mundur ke pinggiran, bersiap jika sesuatu salah. Meroth berdiri diam, mengamati.
Zarek menyentuh Pilar.
Seketika, tubuhnya terpental ke belakang—terhisap oleh kekuatan yang membuat tanah seolah mencengkeramnya. Matanya mendadak putih. Tanah naik, melingkupi tubuhnya seperti baju zirah.
Kael melangkah maju. “Zarek?!”
Tapi Zarek sudah tidak menjawab. Ia berdiri dalam diam, tubuhnya membatu—secara harfiah. Batu dan tanah menyelimuti dirinya, menjadikannya semacam penjaga kuno. Pilar bersinar lebih terang. Simbol-simbol kuno mulai bersuara.
Lyra menjerit. “Dia akan terperangkap selamanya!”
Kael maju, menerobos lapisan tanah yang mulai bergetar hebat. Ia menyentuh bahu Zarek, dan untuk sesaat, dunia hening.
Dalam keheningan itu, Kael mendengar suara Zarek—tapi bukan dari mulutnya, melainkan dari dalam Pilar.
"Aku ingat... rumahku. Ibuku menyanyi saat malam datang. Aku ingat... tangannya yang membelai rambutku. Aku... bukan alat. Aku... Zarek."
Kael menggenggam lebih erat. “Kembalilah. Jangan tenggelam.”
Tiba-tiba batu-batu di tubuh Zarek mulai pecah, terlepas satu per satu. Pilar meredup. Tubuh Zarek jatuh ke tanah—pingsan, tapi hidup.
Lyra menangis lega. Kael menghela napas berat.
Saat kami meninggalkan gua itu, Meroth menghampiri Kael. “Dia lulus ujian Tanah. Tapi ujian kalian belum selesai.”
Kael mengangguk. “Berikutnya Pilar Cahaya?”
Meroth menggeleng. “Berikutnya adalah diri kalian sendiri. Sebelum kalian mencapai Cahaya, kalian akan melewati bayangan.”
Langit sore berubah merah gelap saat kami kembali ke reruntuhan desa. Petir menyambar jauh di kejauhan. Tapi kali ini, bumi tidak bergeming.
Zarek membuka matanya perlahan, menatap Kael dan Lyra. Ia tersenyum kecil. “Aku kembali.”
Lyra memeluknya, dan Kael menepuk bahunya. Kami tahu: Pilar Tanah telah bangkit. Tapi harga yang dibayar adalah sebagian jiwa yang hilang... dan mungkin, sebagian rahasia yang baru saja
---
Langit malam menurunkan gerimis halus saat kami kembali ke reruntuhan desa. Batu-batu tua yang retak kini memantulkan cahaya api unggun kecil yang kami buat di tengah pelataran bundar, tempat ritual tanah biasanya dilangsungkan.
Zarek masih berbaring bersandar di dinding batu, tubuhnya lelah seperti habis mengangkat seluruh dunia. Tapi matanya mulai jernih. Pandangannya tidak kosong seperti sebelumnya.