Sekuat apa pun langkah ini, sebanyak apa pun aku bilang pada diri sendiri:
aku kuat...
nyatanya kalah juga, oleh rasa letih yang menggigil dan lapar yang merobek lambung.
Kadang aku pungut remah makanan yang terbuang,
kadang aku menunduk dan mengetuk belas kasihan orang-orang—
yang langkahnya tergesa, dan matanya tajam seperti vonis dari langit.
Aku rendahkan harga diriku, aku tundukkan kepala,
mengais sepercik empati yang rasanya kini lebih langka dari bintang di siang hari.
Tapi semua itu kulakukan hanya untuk Jelita.
Untuk tubuh mungil yang belum paham dunia ini tak ramah,