Hatiku bergemuruh, antara ingin menjerit, atau sekadar memanggil namanya sekali lagi.
Ratih...
Perempuan yang dulu kucintai dengan sederhana,
kuserahkan semua harapan dan kekuranganku— kini tersenyum untuk dunia yang berbeda.
Mungkin...
memang salahku.
Mungkin aku gagal jadi suami yang baik.
Mungkin aku terlalu miskin dalam kasih, atau terlalu lemah dalam memberi.
Dulu...
hanya karena beras habis, uang belanja yang telat, sapu tangan yang tak terganti...
kami bertengkar.
Lalu kau pergi. Dan tak kembali.
Kini, aku tahu...
kau sedang terjebak dalam perangkap yang bernama kemewahan.