Petang makin pekat.
Cahaya matahari terakhir hanya tinggal sisa semburat merah di langit, dan kakiku sudah tak sanggup lagi berdiri.
Aku duduk di trotoar yang kasar,
menopang tubuhku yang payah, sembari menggendong Jelita yang baru saja terlelap, kenyang oleh susu sachet murahan yang tadi kubeli dari warung.
Susu yang entah berapa banyak campuran airnya, tapi cukup membuat perut kecil itu tak lagi menangis.
Tamparan Ratih siang tadi masih terasa membekas, bukan hanya di pipi, tapi di hati yang semakin koyak.
Tamparan itu bukan sekadar pukulan, tapi pernyataan bahwa aku tak lagi punya tempat di hatinya.
Bahwa kami—aku dan anak kami—adalah luka yang ingin ia hapus.
Kota ini memang tidak pernah benar-benar ramah padaku.