Awalnya, semua terasa hangat.
Makan seadanya, tidur di kasur tipis, tapi tawa Ratih mampu menutup segala kekurangan.
Tapi manusia memang mudah lelah saat mimpi tak juga jadi nyata.
Ratih mulai berubah.
Keluhan demi keluhan muncul:
tentang uang belanja yang selalu kurang, tentang tetangga yang punya TV baru, tentang sepatu yang tak bisa dibeli.
Aku mencoba bertahan.