Langit Menolak Jelita

Temu Sunyi
Chapter #17

Demam yang Membakar Langit


Pagi belum juga datang, tapi tangisan Jelita sudah menjadi alarm yang menggantikan kokok ayam dan suara azan.

Emperan toko itu dingin, lebih dingin dari pelukan siapa pun yang pernah menyayangiku.

Dan aku terbangun dengan perasaan yang tak utuh, seperti bangkai harapan yang tak selesai dikuburkan.

Tadi malam, dalam tidur yang pendek dan tak nyenyak, aku bermimpi tentang sebuah keluarga.

Keluarga kecil yang aku impikan sejak menikahi Ratih. Kami duduk bersama, di atas tikar anyaman,

Ratih tertawa sambil menyuapi Jelita, sedangkan aku memeluk mereka berdua dengan tangan yang tak lagi gemetar karena takut.

Namun seperti biasa, mimpi hanya datang untuk menertawakan nasibku.

Dan kenyataan kembali membangunkan, menyeringai dari balik pagi yang belum sempat mekar.

Lihat selengkapnya