Langit Menolak Jelita

Temu Sunyi
Chapter #19

Minggu Tanpa Arah Mata Angin


Sudah hampir seminggu Jelita terbaring seperti bunga layu yang tak lagi memohon hujan.

Tanpa senyum, tanpa tawa, bahkan air mata pun enggan tinggal di matanya.

Ia hanya diam, panas tubuhnya tak juga reda, seolah api takdir menyala di dalam darahnya.

Segala yang kumampu—air hangat dari tungku yang nyaris mati, obat warung dengan harga serendah harapanku,

hingga doa-doa lirih yang terucap sambil mengelus keningnya—semuanya tak membuahkan apa-apa.

Setiap malam, kupeluk ia erat-erat seperti ingin menahannya tetap hidup.

Tapi tubuhnya semakin ringan, Bahkan detak jantungnya mulai terdengar seperti bisikan—pelan, ragu,

seolah tubuhnya sedang menimbang:

hidup atau menyerah.


Malam yang Menolak Keajaiban


Malam itu, tubuh Jelita tampak lebih pucat dari biasanya.

Wajahnya tak lagi seperti anak kecil—melainkan seperti kertas putih yang tak ingin ditulisi penderitaan lagi.

Lihat selengkapnya