Langit Menolak Jelita

Temu Sunyi
Chapter #21

Tak Ada Lagi yang Bisa Kupeluk


Lama… teramat lama…

Aku duduk di sudut ruangan yang terlalu terang untuk kabar sekelam ini.

Tubuh mungil itu terbaring—bukan tertidur, bukan tertawa…

tapi membatu. Dingin. Kaku.

Seperti Tuhan mencetak kematian dalam bentuk paling kecil dan paling menyakitkan.

Jelita. Namanya kutatap, kuteriakkan dalam hati yang beku.

Kusangka hidup ini hanya mimpi buruk yang bisa kutolak dengan bangun, tapi kenyataannya, hidup adalah kutukan bagi orang miskin yang berani berharap.

Kupeluk tubuhnya, sambil menahan napas, takut ia patah, padahal ia sudah hancur lebih dulu—diambil dari pelukanku saat dunia tak memberiku pilihan lain.


Cincin yang Tak Bisa Membayar Nyawa



Cincin kawin. Barang satu-satunya yang tersisa dari hidup yang dulu kusebut keluarga.

Kutaruh di atas kasur yang kini bukan tempat tidur, tapi panggung terakhir anakku.

Semoga cincin itu cukup untuk membayar rasa bersalahku, karena jelas tak cukup untuk membayar biaya rumah sakit, apalagi harga hidup.

Kalian yang menatapku— jangan tutup mata kalian,

Lihat selengkapnya