LANGIT MERAH MUDA

Najma Gita
Chapter #14

14

Sesuatu yang diawali dengan niat tidak benar tidak akan memperoleh hasil yang baik. Percayalah. Itu seperti siklus kehidupan yang nantinya berbalik pada kita sendiri. Contohnya aku sekarang, niat awal hanya iseng mengerjai Rakha, tapi kenyataan yang terjadi malah jauh melenceng dari angan-angan. Kalau sudah begini siapa yang salah, sih? Tentu saja aku sendiri. Astaga! Ini bencana. Aku berharap ada yang membangunkanku dari mimpi buruk ini, tapi sayangnya ini kenyataan. 

Aku menatapnya ngeri. Dia tidak serius, kan? Ini pasti hanya akal-akalan si curut itu untuk balik mengerjaiku. Atau jangan-jangan dia tahu kalau perempuan yang berdandan remaja SMA yang mengaku bernama Jessie dan tengah duduk di depannya itu aku? Tidak mungkin, kan? Kalau dia tahu Jessie itu aku, sikapnya tidak akan seperti ini. Dia pasti langsung membongkar penyamaranku tanpa basa-basi lagi. Ya, pasti begitu. 

“Jangan bercanda, dong!" aku memaksakan diri tertawa. Sebenarnya aku bingung harus memberi respon bagaimana. Kejadian seperti ini tidak ada dalam prediksiku sebelumnya. Jadi aku tidak siap tiba-tiba ditodong dengan pernyataan cinta seperti ini. Saking kagetnya, sampai otakku tidak bisa diajak berpikir lagi. Aku hanya memberi jawaban sekenanya. “Mas Rakha terlalu tua buat bercanda kayak gitu. Masa anak kecil gini mau diikerjai, sih. Malu dong sama umur.”

Rakha meletakkan gelas es kopinya pelan. Menyandarkan punggungnya, lantas menatapku tanpa berkedip disertai senyuman kalem. “Aku serius Jessie. Malu dong sama umur kalau umur segini ngerjai anak kecil.” Jawabannya kalem saja, tapi membuatku mengumpat dalam hati beberapa kali. Sialan.

Ayo berpikir, Kenzie. Skor sekarang 1-0 dengan kemenangan Rakha. Kamu harus membalikkan keadaan. Ya ampun, mimpi apa aku semalam, sih, kenapa bisa ketiban sial seperti ini? Seharusnya aku yang membuat kejutan yang membuat Rakha terkejut. Seharusnya bukan aku yang berada di posisi tidak enak seperti ini. Seharusnya aku yang mengendalikan keadaaan. Seharusnya... Ah, sudahlah! Aku malah terbayang wajah Jessica. Bisa kupastikan dia tidak akan berhenti tertawa kalau melihatku dalam posisi terjepit seperti ini. Dia benar kalau pengalaman asmara Rakha jauh di atasku. Lebih enaknya ngomong Rakha bukan tandingan Kenzie yang minim pengalaman masalah cinta-cintaan. Sialan, sialan, sialan.

“Aku serius, Jessie,” katanya terus menatapku. “Aku bukan remaja lagi yang ngomongin masalah hati sambil bercanda.”

Aku membuang pandangan. Aduh, kenapa dia terus-terusan menatap kayak gitu, sih? Bikin deg-degan saja. 

“Ya, kayak kamu bilang tadi...” dia melanjutkan. “Kalau ngomongin umur, umurku memang jauh di atas kamu. Mungkin menurut kamu aku terlalu tua buat cewek usia belasan kayak kamu. Aku juga ngerti sih, kalau cewek remaja kayak kamu lebih suka pacaran sama cowok yang sepantaran.”

“Nah, itu tahu,” jawabku spontan. “Seharusnya...”

“Dengerin dulu!" Rakha memotong. “Pacaran sama yang sepantaran nggak menjamin kisah cinta kalian bakalan berjalan mulus. Masih muda biasanya tingkat egoismenya juga tinggi. Kemungkinan untuk bertahan lama itu kecil. Nggak enak banget lho, kalau putus pas lagi sayang-sayangnya.”

Yeah, dengan yang lebih pengalaman tidak menjamin hubungan akan langgeng juga, kan? Apalagi dengan player seperti dia. Paling lama hanya bertahan tiga bulan. Aku berani menjamin itu. “Aku baru delapan belas tahun dan...”

“Aku rasa nggak masalah berapa umurmu, Jessie,” Rakha mengedip lantas kembali tersenyum. “Asalkan kita sama-sama suka, merasa enjoy dan cocok, aku rasa nggak ada masalah dengan selisih umur. Lagian tidak terlalu jauh juga, kok.”

Astaga, begini ya rasanya menolak laki-laki yang memiliki banyak pengalaman asmaranya? Harus melalui perdebatan yang alot dulu. Sepertinya Rakha tidak mempan ditolak. Atau karena tidak ada perempuan yang pernah menolak dia sebelumnya? Kalau benar, ini akan jadi pengalaman pertamanya ditolak. Oleh remaja lagi. Harga dirinya pasti terluka. Ho.. ho... ho... aku tidak sabar tertawa keras di belakangnya. 

“Yang dibilang Mas Rakha ada benarnya juga, sih.” Aku mengedik. Aku merasa lebih tenang sekarang. Rasa panik yang tadi menerjang perlahan-lahan surut seiring dengan otakku yang sudah kembali normal. “Jujur, sih. Aku nggak pernah bayangin punya pacar yang jauuuh lebih tua. Dalam mimpi pun nggak pernah.” Aku berhenti sebentar memperhatikan ekspresi Rakha. Dan sialnya, tidak ada yang berubah dari rautnya. Tetap tenang dan kalem. Perlahan hatiku kembali menciut. Pasti sulit beradu argumen dengan orang memiliki kepercayaan diri tinggi seperti Rakha. Aku seperti merasakan angin kekalahan berhembus pelan di depan hidungku. Sialan.

“Bayangan lebih sering nggak sesuai kenyataan, Jessie. Kalau kenyataan sudah di depan mata, ngapain pakai dibayangin segala, kan? Tinggal jalanin aja.”

Astaga, astaga! Enak banget sih ngomong seperti itu. Ya ampun, ini orang kenapa, sih? Orang bilang suka itu resikonya cuma ada dua. Ditolak atau diterima. Dan sudah jelas aku menolaknya. Kenapa dia terus memaksa?

“Kamu ragu hubungan beda usia kayak gini nggak akan berhasil, kan?”

Aku tidak punya pilihan lain selain mengangguk. Alasan-alasan yang sejak tadi berseliweran di benak dan siap aku katakan mendadak hilang entah kemana. Sebelumnya aku tidak membayangkan akan sesulit ini beradu argumen dengan Rakha. Padahal biasanya lebih sering aku yang menang kalau kami berdebat. Sialan, aku tidak tahu sisi Rakha yang ini. Seharusnya aku mengantisipasinya sejak awal mengingat sepak terjangnya di dunia percintaan tidak diragukan lagi. Sayangnya aku terlalu meremehkan. Tentu saja dia tidak akan melepaskan begitu saja. Sebagai player gengsinya tidak akan mengijinkan pernyataan cintanya ditolak gadis ingusan seperti Jessie. Ya Tuhan, ini benar-benar bencana! Dengan penuh kesadaran aku telah menggali lubang untuk aku masuki sendiri. 

“Kamu percaya padaku, kan?” Rakha melebarkan senyumnya.

“Sebenarnya nggak terlalu percaya juga, sih,” jawabku spontan. “Aku yakin Mas Rakha punya banyak pengalaman. Rasanya aneh aja kalau suka sama bocah ingusan kayak aku. Aku yakin dalam pergaulan Mas Rakha banyak cewek cantik dan sexy yang lebih memenuhi ekspektasi Mas untuk dijadikan pacar. Jadi...”

“Memang kamu tahu ekspektasiku kayak gimana?” Rakha memiringkan kepalanya menatapku. 

Tentu saja aku tahu. Memangnya kita kenal baru kemarin sore? Dasar menyebalkan. “Tentu saja yang cantik, sexy dan dewasa.”

Tawa Rakha menghambur. “Cantik itu relatif, Jessie. Sexy dan dewasa itu tergantung dari sudut mana kita memandang dan menilai. Mungkin menurut kamu cewek yang berpakaian kekurangan bahan itu sexy, tapi belum tentu aku akan bilang hal yang sama.”

Lihat selengkapnya