LANGIT MERAH MUDA

Najma Gita
Chapter #20

20

“Dasar sinting,” Jessica mengacungkan telunjuknya tepat di depan hidungku. “Lo emang udah nggak waras. Astaga, Kenzie.” Dia menggeleng-geleng. Setelah itu menarik napas panjang-panjang sebelum menatapku lagi. “Kepala lo isinya apaan, sih? Ya ampun! Otak itu dipakai mikir, Kenzie. Bukan cuman buat pajangan. Astaga!”

Aku nyengir. “Gue nggak tahu lagi harus ngomong apa, Jess.”

Jessica melotot. “Lo tinggal bilang kalau lo menolak. Tinggal nolak doang nggak susah, kan?”

“Justru susahnya disitu, Jess,” sahutku spontan membuat Jessica kembali melotot. 

“Kalau lo nggak bisa ngomong lo bisa langsung pergi, Kenzie,” katanya geram. “Lagi pula Rakha nggak bakal bisa menemukan Jessie lagi meskipun dia cari sampai ke kolong jembatan. Karena Jessie itu fiktif.”

“Iya juga, ya?” aku mengangguk-angguk yang justru membuat Jessica semakin geram. “Kenapa gue mikirnya nggak sampai situ?”

Jessica memutar bola mata bosan. “Lo ingat waktu itu gue bilang apa?”

Aku mengangguk lagi. Aku masih ingat betul sebelum pergi menemui Rakha, Jessica sudah mewanti-wanti aku harus menolak Rakha dan berhenti berperan sebagai Jessie. Aku tidak lupa dengan misiku. Tapi kenyataannya tidak sesuai harapan, bahkan melenceng jauh. Bukan tidak berusaha, aku sudah sangat berusaha malah. Segala cara sudah kugunakan untuk menolak Rakha. Tapi apa yang terjadi? Seperti memasang jebakan tikus, malah aku sendiri yang terperangkap. Menyebalkan.

“Gue ingat, kok. Tapi Jess...”

Tapi apa?” Dia mendelik.

“Kenyataannya nggak semudah yang gue pikir. Si curut itu nggak mempan ditolak,” aku memberi alasan.

Alasanku membuatnya melotot sekali lagi. “Itu bukan alasan, Kenzie.”

“Beneran, Jess. Aku sampai bingung mau kasih alasan apalagi.” Aku menarik napas panjang. “Tapi si curut itu punya seribu satu kalimat buat matahin argumen gue. Gue nggak nyangka dia selihai itu. Kalau tahu begini kan...”

“Sebenarnya dari awal lo udah tahu bakalan kayak gini, Kenzie,” sambarnya cepat. “Dari awal lo tahu adik tiri lo bukan tipe cowok yang mudah dihadapi. Dan parahnya lo dengan sengaja dan sadar diri masukin diri lo sendiri ke lubang buaya. Astaga, gue nggak habis pikir gimana cara kerja otak lo. Ya Tuhan.” 

Aku meneguk es kopi dengan satu kali tegukan besar. Aku tahu Jessica sangat kesal dan aku tidak punya kata-kata lagi untuk membela diri. Aku sadar sesadar-sadarnya kalau aku salah. Seandainya sejak awal aku menuruti kata-kata Jessica untuk menghentikan aksi konyolku, aku tidak akan sepusing ini sekarang. Tapi dengan bodohnya aku terlalu percaya diri kalau semua akan berakhir sesuai rencanaku tanpa mempertimbangkan kekuatan musuh yang sebenarnya. Ya, nasi sudah menjadi bubur, susu juga sudah basi. Tapi bukannya bubur lebih mahal daripada nasi dan susu basi yang dinamai yoghurt itu lebih mahal dari susu segar? Tapi aku tidak berani mengeluarkan kata-kata itu di depan Jessica untuk membela diri. Bisa-bisa dia tambah kesal dan tidak mau membantuku lagi. Siapa yang rugi? Tentu saja aku. 

Jessica terlihat menghela napas. “Apa rencana lo sekarang?”

Dengan polosnya aku menggeleng. Aku tidak sedang berpura-pura, aku memang tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Otakku macet dan entah kapan akan kembali normal lagi. Kebohongan ini ternyata sangat melelahkan. Sangat menguras energi. Aku akan konsisten mengingatkan diriku sendiri untuk tidak mengulanginya lagi dikemudian hari. Kapok, tentu saja. 


“Astaga, Kenzie,” Jessica menggeleng-geleng. “Gue nggak tahu harus ngomong apa dan gimana lagi. Gue beneran ikutan nggak waras gara-gara elo. Dasar sinting.”

Aku nyengir mendengar omelannya. “Gue beneran nggak tahu mesti gimana, Jess. Waktu gue bilang gue nggak mau lihat dia dekat sama cewek manapun sebagai syarat, gue udah percaya diri kalau si berengsek itu nggak bakalan mau. Gue udah yakin seratus persen kalau dia nggak bakalan mau berkorban sejauh itu cuman buat seorang cewek ingusan yang baru dikenalnya. Tapi perhitungan gue meleset. Ternyata semuanya nggak sesederhana yang gue pikir.”

 “Dari awal memang nggak sederhana, Kenzie,” sambutnya kesal. “Lo sendiri yang dengan percaya diri bilang ini bakalan mudah. Bakalan berhasil. Tapi buktinya?” Dia lantas mencebik.

Aku tidak membantah. Mengeluarkan bantahan hanya akan membuatnya semakin kesal. Aku lantas menceritakan insiden bekas tamparan itu pada Jessica. Aku kira kejadian itu hanya terjadi satu kali. Keesokan malamnya Rakha kembali pulang tengah malam dengan pipi memerah bekas tamparan. Kejadian itu berulang keesokan malamnya lagi. Dan masih berulang sampai dua hari kemudian. Aku jadi bertanya-tanya berapa perempuan yang dekat dengannya dalam sekali waktu. Dia benar-benar player. Red flag kalau mengadopsi istilah abg jaman sekarang. Dan tentu saja aku yang menjadi sasaran untuk merawat lukanya. Bahkan dia berani mengetuk pintu kamar membangunkanku kalau kebetulan kami tidak bertemu di dapur atau ruang tengah. 

Jessica memutar bola mata. “Memang lo sukanya cari penyakit. Yang lo cari apaan sih, bisa-bisa bikin kekonyolan kayak gini?”

“Awalnya gue...”

Tangan Jessica mengibas. “Udah, nggak usah diterusin,” potongnya cepat. “Alasan-alasan nggak masuk akal elo tambah bikin gue pusing.” Dia lantas memijat kepalanya.

Lihat selengkapnya