Senja tidak pernah mencintai Langit.
Kalimat itu terdengar kejam, bahkan mungkin terlalu kejam untuk diucapkan kepada seseorang yang setiap harinya berusaha memberikan seluruh kasih sayangnya kepada sang istri.
Namun, itulah kenyataan yang selama ini disembunyikan Senja di balik cincin pernikahan yang terpaksa melingkar di jari manisnya.
Sudah hampir enam bulan mereka menikah. Hampir enam bulan pula Senja menjalani kehidupan sebagai seorang istri tanpa pernah benar-benar merasa menjadi seorang istri. Pernikahan itu terjadi bukan karena cinta.
Tidak ada perasaan yang tumbuh perlahan hingga akhirnya membawa mereka ke pelaminan. Tidak ada pula momen ketika Senja menyadari bahwa Langit adalah lelaki yang ingin ia habiskan sisa hidup bersamanya.
Hanya ada sebuah perjodohan yang menjadi keputusan kedua belah keluarga, yang pada akhirnya harus diterima Senja meskipun hatinya berkali-kali menolak.
Langit, di sisi lain, sangat bersyukur memiliki Senja sebagai istrinya. Lelaki itu tidak pernah memaksa Senja untuk mencintai dirinya. Ia tidak pernah menuntut perhatian darinya. Ia juga tidak pernah marah ketika Senja pulang larut malam. Ia bahkan tidak pernah mempermasalahkan sikap dinginnya.
Pun ketika Senja hanya memberikan jawaban seperlunya, Langit tetap bisa tersenyum seolah-olah percakapan singkat itu merupakan sesuatu yang sangat berharga baginya.
Ia bahkan masih tetap mencintai Senja meskipun selama enam bulan pernikahan ini Senja tidak pernah mau bersentuhan dengannya. Langit berusaha menghormati keinginan istrinya itu.
Mungkin karena bagi Langit, memiliki Senja saja sudah cukup, dan justru itulah yang membuat Senja semakin merasa tidak nyaman.
---
Suara pintu rumah terbuka menjelang pukul tujuh malam. Senja masuk dengan langkah lelah setelah seharian berkutat dengan naskah-naskah novel yang harus ia sunting di kantor penerbit tempatnya bekerja.
Tas kerja diletakkan begitu saja di atas meja dekat pintu, sementara blazer yang sejak pagi dikenakannya dilepas dan digantung seadanya.
Rambut panjangnya sedikit berantakan, matanya pun terlihat lelah. Hari itu ia harus menyelesaikan penyuntingan tiga bab terakhir sebuah novel sebelum tenggat waktu keesokan pagi.
Seharusnya ia pulang lebih larut, tetapi rasa lapar memaksanya meninggalkan kantor lebih cepat.
Begitu memasuki ruang tengah, langkahnya berhenti. Langit berdiri tidak jauh dari sofa. Tangannya menggenggam tongkat putih yang selama ini menjadi bagian dari kesehariannya.
Meskipun sudah hampir enam bulan tinggal bersama, Senja tetap belum terbiasa melihat tongkat itu berada di dalam rumah. Benda tersebut selalu mengingatkannya pada satu hal yang sebenarnya tidak ia sukai. Suaminya itu tidak bisa melihat.
Langit kehilangan penglihatannya di usia yang masih muda akibat sebuah kecelakaan. Sejak saat itu, dunia yang sebelumnya dipenuhi warna berubah menjadi gelap untuknya.
Namun, anehnya, Langit tidak pernah menjadikan kebutaannya sebagai alasan untuk berhenti menjalani hidup. Ia bekerja sebagai guru di sebuah sekolah luar biasa. Setiap pagi, ia pergi mengajar anak-anak berkebutuhan khusus yang letak sekolahnya tak jauh dari rumah.
Meskipun memiliki keterbatasan, Langit hafal letak setiap benda di dalam rumah. Ia bisa berjalan dari kamar menuju dapur tanpa bantuan. Ia bahkan mampu memasak dan membereskan rumah seorang diri.
Tetapi terkadang ia tetap menggunakan tongkat, terutama ketika benda-benda di rumah bergeser dari tempat semestinya.
Senja membenci hal itu. Bukan karena tongkat itu mengganggu. Bukan pula karena tongkat tersebut membuat Langit terlihat berbeda. Senja hanya merasa risih.
Entah mengapa, melihat tongkat itu di dalam rumah membuatnya terus mengingat bahwa lelaki yang kini menyandang status sebagai suaminya bukanlah lelaki sempurna.
"Sudah pulang, Senja?" Suara Langit terdengar lembut.
Senja tidak menjawab. Ia berjalan melewati lelaki itu begitu saja.
Langit tersenyum kecil, lalu memiringkan wajahnya mengikuti arah langkah Senja.
"Aku sudah membuat makan malam." Ucapnya lagi.