....
Pagi merambat pelan. Di halaman depan rumah, cahaya menampar pelupuk mata, menembus sela daun ketapang yang menua, jatuh di pasir yang kering berwarna coklat dimana sepasang kaki kecil menapak tanpa alas. Ayunan tua menggantung tanpa suara, hanya sesekali berderit kecil saat gadis kecil itu bergerak.
Aruna duduk disana.
Kaki telanjangnya terangkat, lalu menyentuh pasir lagi. Sesekali mendorong agar ayunan bergerak, meski sebenarnya ia tidak benar-benar mengayun. Tubuhnya sedikit membungkuk, rambut ikalnya mengembang liar karena pagi ini belum sempat dirapikan. Biasanya Ratih mengikat rambut itu menjadi ponytail, menjejalkan pita kecil atau jepit rambut warna-warni di sisinya. Pagi ini rambut itu dibiarkan terurai, seperti pikiran Aruna yang sering kali berantakan dan—penuh.
Di pangkuannya tergeletak buku gambar. Crayon biru tua masih tergenggam, meninggalkan pola-pola abstrak yang saling bertabrakan tak beraturan.
Ia menatap gambar itu lama. Sesekali menepuk kedua pipinya pelan. Sesekali mengulang kata, cepat lalu melambat, intonasinya datar, seperti sedang menahan sesuatu. Setiap Aruna bicara, kepalanya ikut bergerak. Kadang ke kanan, kadang ke kiri, kadang ke bawah. Sebuah kebiasaan yang Aruna sendiri tidak pernah sadari kapan tepatnya hal itu terjadi hingga terbawa sampai kini.
"Biru-biru-biru-biru bagus.... bagus.... Aruna suka-biru-Aruna-suka..."
Suara pintu rumah berderit.
Ratih muncul dari balik pintu. Senyumnya hangat, namun tertahan seperti takut mengusik pagi anak bungsunya. Ia sudah hafal kebiasaan itu; jika Aruna tidak berada didalam rumah, ia pasti menuju ayunan walau hanya sekedar duduk tanpa melakukan apapun.
"Aruna... sudah bangun?" suara Ratih pelan, hampir berbisik.
"Ibu.... Ibu..." gumam Aruna, lalu menunjuk buku gambar. "Bagus? Bagus?"
Ratih berjongkok, menopang tubuh di lutut. Gambar itu tidak membentu apapun yang bisa dinamai, namun ia tetap tersenyum.
"Iya. Bagus."
Senyum Aruna merekah, seperti sang surya di pagi hari. Namun itu tak bertahan lama, wajahnya kembali datar, seolah sebuah ingatan kecil baru saja terlintas.
"Pergi? Ibu pergi? Urusan... Ibu?"
"Iya. Nanti Ibu ada urusan. Tapi, Ibu pergi tidak lama, kok. Aruna nanti dirumah sendiri dulu, ya?"
Aruna mengangguk, meski jelas ia seperti tidak mau. Karena kalau Ibu pergi, rumah jadi sunyi. Dan Aruna tidak suka sunyi. Apalagi sendirian. Tanpa Ibu.
"Ikut... Aruna ikut Ibu... Urusan..."
Ratih mengelus pelan rambut ikal warisan sang suami. Ia mengecup lama kening Aruna. "Nanti Ibu bawakan Aruna mochi rasa matcha. Aruna jaga rumah dulu tidak apa-apa, ya? Boleh?"
Mendengar kata matcha, kedua bola mata Aruna berbinar. Senyum cerah kembali merekah disana. Aruna mengangguk mantap.
"Ada yang Aruna mau tidak? Nanti biar Ibu bawakan sekalian," kata Ratih.
Aruna mengetuk-ngetuk kepalanya dengan ujung telapak tangannya beberapa kali agak keras. Hal yang selalu Aruna lakukan ketika ia sedang berpikir.
"Dinosaurus... Aruna-mau-dinosaurus...."
Ratih tertawa pelan. "Boleh. Nanti Ibu bawakan buat Aruna."
....
Ratih benar-benar pergi setelah membuatkan sarapan nasi goreng sayur dengan telur mata sapi yang pinggirannya mengeriting dan kecoklatan, seperti renda tipis yang terbentuk dari panas minyak. Aruna tinggal di sofa dekat jendela, dagunya bertumpu ditelapak tangan, netranya terlempar ke halaman depan rumah yang sebenarnya tidak menawarkan banyak hal selain pagar yang catnya sudah memudar dan berkarat dibeberapa bagian. Sepotong langit berwarna biru cerah, di hiasi dengan awan cirrocumulus yang berpola, berbaris kecil-kecil layaknya sekumpulan ombak. Gang sempit terbentang memanjang, di apit deretan rumah yang masih lengang pagi ini. Hanya sesekali motor melintas yang gema knalpotnya mulai menghilang di tikungan. Suara tukang sayur datang menyusul, lantang dan ritmis, memanggil dengan harapan ada yang menyahut cepat. Suaranya bergulir diantara tembok-tembok, lalu menguap bersama udara pagi. Bayangan daun-daun dari pohon ketapang yang bergoyang di halaman rumah, jatuh mengikuti pergerakan angin.
Bosan.
Saluran televisi berpindah-pindah, sampai gambar dan suara yang disuguhkan terasa sama saja. Boneka bulan yang lusuh menjuntai di tangan Aruna. Boneka yang sudah kehilangan warna aslinya, tapi Aruna enggan untuk mengganti yang baru meski sudah mendapatkan tawaran berulang kali.
Aruna mencoba untuk beralih menyusun mainan kecil di lantai beralas karpet, tapi rasa bosan tetap datang. Boneka bulan tergeletak di karpet, bersama dengan mainan kecil yang sudah ia susun dengan rapi. Langkah kaki Aruna menggema di dapur.
Susu rasa matcha.
Itu yang kini terpatri dalam pikirannya. Aruna tahu polanya. Air dituangkan ke dalam panci, kompor dinyalakan. Sambil menunggu air mendidih, Aruna perlu mengambil satu sachet susu bubuk rasa matcha yang tersimpan di lemari atas dengan bantuan kursi. Meski hampir jatuh, tapi Aruna berhasil mengambilnya. Bungkusan itu berhasil disobek, dituangkan ke gelas dengan hati-hati, tapi tetap tercecer hingga mengotori meja.
Aruna duduk di kursi dengan menumpu dagu. Sesekali menekan kedua pipinya pelan, menahan sabar yang dirasa panjang. Air mendidih, Aruna bangkit. Tujuannya hanya mengisi setengah gelas saja agar rasanya semakin manis, namun air itu justru menetes hingga ke meja, terus mengalir hingga tanpa sadar mengalir ke punggung kaki.