....
Ratih sampai dirumah ketika jam dinding hampir menunjukan pukul dua siang. Ia membuka pintu yang tak terkunci. Ruang tamu menyambutnya dengan sunyi. Matanya mendadak berubah sayu tatkala menemukan tubuh kecil Aruna meringkuk diatas sofa, terlelap dengan kedua tangan memeluk boneka bulan. Ratih berjalan mendekat nyaris tanpa suara. Nafas anak itu naik turun teratur. Mulut mungilnya terbuka sedikit membuat Ratih merasa gemas. Ada rasa lega yang muncul melihat sang anak terlelap begitu damai. Plastik berisi snack bergambar dinosaurus dan satu kotak kue mochi ia taruh dengan hati-hati ke atas meja.
Ratih duduk didekat tubuh Aruna. Tangannya mengelus rambut Aruna. Rambut yang selalu mengembang sempurna jika tidak diikat rapi. Ratih mengelus helaian rambut itu sekali lagi, lebih pelan hingga tanpa sadar sudut bibirnya terangkat. Ada rasa lelah dan cemas dalam pikirnya sejak pagi, tapi melihat wajah polos yang tertidur lelap, membuat rasa lelah dan cemas itu seakan memudar. Ratih tenang jika Aruna baik-baik saja. Itu sudah lebih dari cukup daripada ia menang lotre.
Mata Ratih mengernyit melihat kaki Aruna yang memerah dan melepuh. Tangannya bergerak memastikan. Sepertinya Aruna merasakan perih sebab gadis itu bergerak tak nyaman saat tangan Ratih menyentuh pelan luka itu. Kedua mata Ratih menemukan gelas bening yang meninggalkan noda kehijauan didasar gelas. Ratih menghela napas pelan. Menyadari apa yang mungkin menjadi penyebab kaki Aruna memerah.
Ratih bangkit, mengambil kotak P3K dari laci lemari. Ia mengoleskan pembersih luka, lalu memberikan salep dengan meniup pelan disetiap sentuhan yang ia berikan. Matanya berjaga kalau-kalau ia membangunkan gadis itu.
Aruna mengerang kecil. Alisnya berkerut. Dan matanya mulai terbuka perlahan. Ia melihat sosok Ibunya samar. "Ibu...."
"Kamu jadi bangun, ya, Nak? Maafkan Ibu. Pasti perih, ya? Aruna tahan dulu, ya? Biar Ibu obati supaya tidak sakit lagi," kata Ratih.
Aruna mengangguk kecil. Menunjuk-nunjuk pada kakinya sendiri yang sedang diobati. "Panas....."
"Kenapa bisa seperti ini? Pasti Aruna masak air lagi, ya?"
Aruna berpikir sebentar, seperti sedang menyusun cerita dalam pikirannya. "Aruna buat susu.... matcha... Air panas tumpah... Kena sini," kata Aruna menunjuk kakinya. "Aruna tapi tidak apa-apa. Ibu sudah obati, nanti sembuh. Hehe...."
Ratih menarik napas panjang, mengahalau rasa khawatir kalau-kalau hal seperti terulang lagi dan lagi. "Air panas itu bahaya, Nak. Kalau mau bikin susu, Aruna tunggu Ibu saja, ya?"
"Lama... Ibu lama pergi... Aruna mau matcha... tidak ada Ibu..."
Dada Ratih sedikit sesak. Itu sebabnya terkadang pikirannya penuh hanya karena memikirkan Aruna. Bagaimana nanti kalau Ratih tidak bisa selalu hadir seperti hari ini. Meski Aruna tidak harus selalu mengandalkan orang lain, tapi Ratih tetap saja khawatir.
"Maaf, ya, Nak. Gara-gara Ibu pergi terlalu lama, kamu jadi terluka. Lain kali, Aruna lebih hati-hati boleh?"
Aruna meringis dan mengangguk cepat. "Boleh... Pasti bisa. Aruna hati-hati..."
Setelah selesai, Aruna menarik baju lengan baju panjang Ratih.
"Mochi... Ibu beli?"
Ratih tersenyum. Ia mengambil sekotak mochi yang ia beli. Ia buka da sodorkan pada Aruna. "Iya. Ibu sudah belikan. Lihat. Ada banyak. Aruna mau hitung?"
"Tidak bisa. Aruna hitung..."
"Bisa kalau Aruna mau mencoba. Aruna mau coba?"
Aruna mengangguk ragu.
"Nah, yuk hitung!"
"Satu..."
Ratih mengangguk setiap hitungan Aruna benar.
"Sembilan.... Se.... Se... Tidak bisa... Lupa..."
"Sepu.. ?"
Aruna meragu tapi tetap memberikan jawaban. "Sepu...luh?"
"Iya, benar! Itu Aruna bisa!" kata Ratih dengan semangat.
"Bisa... Aruna bisa..."
"Habis sepuluh lalu sebe...?"
"Sebeluh..."
Raih tertawa pelan. "Sebelas Aruna... Se-be-las."
"Se-be-las?"
"Iya. Lalu Du-a be-las."
"Du-a be-las."
"Yeay! Jadi mochi-nya ada dua belas. Banyak tidak?"
"Mochi bayak? Aruna semua makan?"
"Iya. Buat Aruna semua."
Aruna tersenyum lebar. Aruna mengambil satu mochi dan memasukannya ke dalam mulut. "Enak! Ibu enak! Mochi enak!"
"Kenapa Aruna tidak coba rasa lain? Kan ada rasa coklat. Ada rasa mangga. Stroberi."
"Tidak suka. Aruna suka matcha..."
"Begitu, ya? Sama seperti Ayah kamu. Kalau sudah suka sama satu hal, dia akan selalu suka tanpa merasa bosan," kata Ratih sabil mengenang.
"Ibu dinosaurus? Dino-dino..."
"Ada, dong!" Ratih menyodorkan snack dinosaurus dan kedua mata Aruna kembali berbinar.
"Wah... Dino lucu!"
"Sini Ibu bukakan," kata Ratih.
Snack Dinosaurus itu Ratih buka. Aruna menunggu dengan tak sabar. snack berwarna kuning dengan serbuk keju kini kembali berada di tangan Aruna. Aruna melihat ada sesuatu didalam sana. Aruna goyangkan snack hingga sebuah mainan berbungkus plastik naik ke permukaan. Aruna ambil dan kedua bola mata kembali berbinar.
"Ibu! Ibu! Ibu! Aruna dapat! Dino! Dapat-dapat-dapat!"
Ratih tersenyum sumringah. "Alhamdulillah. Itu berarti rezeki Aruna dapat hadiah dinosaurus lagi."
"Bagus-bagus-dino bagus! Buka Ibu-Ibu buka!"
"Iya-iya. Sabar, ya..."