Langit Tanpa Atap

G Wira Negara
Chapter #1

Chapter 1: Ruang Tamu yang Dingin

Bab 1: Ruang Tamu yang Dingin


​Lantai marmer di kediaman Wiryadinata tidak pernah benar-benar ramah pada kulit manusia. Ia selalu terasa lima derajat lebih dingin daripada suhu udara di luar, seolah-olah pori-pori batunya sengaja dirancang untuk membekukan waktu dan mengusir segala bentuk kehangatan yang dianggap tidak perlu. Bagi Arga, marmer pucat dengan urat-urat abu-abu yang saling berkelindan itu bukan sekadar lantai; ia adalah saksi bisu dari setiap langkah yang harus diukur, setiap tumit yang tidak boleh berdentum, dan setiap sujud yang harus presisi.


​Arga berdiri di ambang pintu ruang tamu, jemari kakinya sedikit mengerut saat bersentuhan dengan permukaan yang licin itu. Di rumah ini, keheningan bukan sekadar absennya suara. Keheningan di sini adalah sebuah entitas yang bernapas, sebuah bentuk "adab" yang telah dikristalisasi menjadi aturan. Setiap sudut ruangan ini seolah memiliki mata yang mengawasi, memastikan bahwa tidak ada satu pun debu atau pikiran kotor yang berani hinggap di atas kemegahan yang steril ini.


​Ruang tamu itu adalah sebuah monumen kesalehan yang dipamerkan. Cahaya matahari sore yang mulai miring menyusup melalui celah gorden beledu hijau tua yang berat dan masif. Garis-garis cahaya itu jatuh dengan presisi matematis di atas karpet Persia yang motifnya sudah Arga hafal di luar kepala—setiap lengkungan sulur, setiap gradasi warna merah bata, hingga ke rumbai-rumbainya yang harus selalu disisir lurus. Tidak boleh ada lipatan pada ujung karpet itu. Tidak boleh ada remah biskuit yang tersesat di sela-sela sofa jati yang ukirannya menyerupai jalinan tanaman surga. Segalanya harus terlihat thayyib—baik, murni, dan tanpa celah sedikit pun.


​"Arga, duduklah dengan benar. Punggungmu adalah cermin dari keteguhan niatmu," suara Ayah membelah kesunyian tanpa perlu meninggi.


​Ayah duduk di kursi tunggal yang paling besar, sebuah kursi jati dengan sandaran tinggi yang membuatnya tampak lebih megah dari ukuran aslinya. Posisi duduk Ayah selalu membelakangi jendela, sehingga setiap kali Arga menatapnya, wajah pria itu sering kali hanya terlihat sebagai siluet yang tegas dan gelap, dengan garis rahang yang kaku seperti dipahat dari batu gunung. Di depannya, sebuah meja kopi kayu jati berkilat tertimpa cahaya, menampung sebuah kitab besar dengan sampul kulit berwarna cokelat tua yang sudah menipis di bagian ujungnya.


​Ayah tidak sedang membaca; ia sedang mengobservasi. Bagi Ayah, rumah ini adalah sebuah mikrokosmos dari hukum alam yang lebih besar. Jika di dalam rumah ini ada satu saja letak barang yang menyimpang, maka ia percaya ada sesuatu yang goyah dalam spiritualitas penghuninya.


​Arga menurunkan pantatnya ke kursi kayu dengan gerakan yang sangat berhati-hati, memastikan tidak ada bunyi gesekan kain atau derit kayu yang tidak sopan. Ia melipat tangannya di atas pangkuan, meniru posisi duduk yang telah diajarkan sejak ia bisa merangkak. Dingin dari lantai marmer itu kini mulai menjalar, naik melalui tulang betisnya, menyusup ke sumsum, dan berakhir sebagai rasa sesak di ulu hati yang sudah ia pelihara sejak usia tujuh tahun. Kini, di usianya yang menginjak dua puluh, rasa itu tidak lagi berupa ketakutan yang tajam yang membuatnya ingin menangis, melainkan sebuah kehampaan yang tumpul, kronis, dan melelahkan.


​Dinding ruang tamu itu tidak dibiarkan kosong, namun juga tidak dibiarkan berbicara terlalu banyak. Di sana tergantung kaligrafi berlapis emas yang membingkai ayat-ayat tentang kepatuhan, kebersihan jiwa, dan ganjaran bagi mereka yang sabar. Setiap kali mata Arga menyapu tulisan itu, ia merasa seperti sedang diadili oleh huruf-huruf Arab yang meliuk indah namun terasa sangat kaku tersebut. Segala sesuatu di sini memiliki "adab"-nya sendiri, sebuah protokol tak tertulis yang mengatur bagaimana udara harus bergerak.


​Gelas teh harus diletakkan kembali ke atas tatakan porselen dengan bunyi denting yang seminimal mungkin—sebuah seni yang membutuhkan kontrol otot tangan yang luar biasa. Napas tidak boleh terdengar memburu, seolah-olah paru-paru pun harus tunduk pada etika kesopanan. Bahkan cara seseorang menatap lawan bicara telah diatur sedemikian rupa; tidak boleh terlalu menunduk hingga terlihat lemah, namun haram untuk menatap langsung ke mata Ayah karena itu dianggap sebagai benih keangkuhan. Bagi Arga, aturan-aturan ini terasa seperti rantai yang dibungkus kain sutra yang sangat halus; indah dipandang, namun tetap saja berfungsi untuk membelenggu.


​"Kau terlihat melamun, Nak," lanjut Ayah. Matanya yang tajam, yang selalu tampak seperti sedang memindai ketidakjujuran hingga ke sel-sel terdalam, tertuju tepat ke manik mata Arga. "Apakah bacaanmu hari ini sudah tuntas? Ingat, pikiran yang kosong adalah taman bermain yang paling disukai oleh keraguan dan bisikan-bisikan yang tidak perlu."


​"Sudah, Yah. Kitab Adab al-Mufrad bagian kewajiban anak terhadap orang tua sudah saya selesaikan babnya sore tadi," jawab Arga datar.


​Kalimat itu meluncur dari mulutnya secara otomatis, seperti sebuah rekaman kaset yang sudah aus karena diputar ulang ribuan kali selama bertahun-tahun. Ia tahu persis jawaban apa yang diinginkan Ayah. Ia tahu nada suara mana yang paling aman untuk digunakan—tidak terlalu bersemangat agar tidak disangka pamer, namun tidak terlalu rendah agar tidak disangka malas.


Lihat selengkapnya