Langit Tanpa Atap

G Wira Negara
Chapter #2

Chapter 2: Mimbar Ketakutan

Bab 2: Mimbar Ketakutan


Udara di dalam aula lantai dua masjid yayasan keluarga Wiryadinata itu terasa berbeda dengan dinginnya marmer ruang tamu. Di sini, udaranya padat, pengap oleh napas ratusan jemaah yang duduk berimpitan di atas karpet hijau tebal, dan jenuh oleh aroma parfum searah—campuran kuat antara oud, misik, dan sisa-sisa aroma wangi-wangian yang biasa digunakan untuk memandikan jenazah. Aroma itu, alih-alih menenangkan, justru selalu berhasil mengaktifkan alarm kewaspadaan di otak Arga. Baginya, itu adalah bau persiapan untuk sebuah penghakiman massal.


​Ini adalah kajian mingguan wajib. Sebuah ritual yang tidak hanya berfungsi sebagai transfer ilmu, tetapi lebih sebagai mekanisme kontrol sosial dan spiritual bagi keluarga besar dan para pegawai yayasan. Tidak ada alasan absen yang bisa diterima selain sakit keras yang membuatnya tak bisa beranjak dari tempat tidur. Ayah, sebagai ketua yayasan, duduk di barisan paling depan, di kursi khusus di samping mimbar jati yang ukirannya rumit namun terasa mengancam. Posisi Ayah memungkinkannya memindai seluruh ruangan dengan satu sapuan mata, memastikan tidak ada yang tertidur, tidak ada yang berbisik-bisik, dan semua pandangan tertuju ke satu titik, yaitu penceramah.


​Arga duduk di barisan tengah, terjepit di antara paman-pamannya yang berbadan tambun. Punggungnya masih ia pertahankan lurus, sebuah sisa "adab" yang sudah mendarah daging, namun batinnya sedang sibuk menciptakan dinding pertahanan. Ia mencoba mengingat kembali kehangatan kertas tua dari buku terlarang kakeknya yang ia temukan kemarin, mencoba menggunakan kalimat-kalimat puisi itu sebagai perisai dari apa yang sebentar lagi akan membombardir pendengarannya.


​Sore ini, penceramah yang diundang adalah Ustaz Ghafur, seorang pria bertubuh kurus dengan sorot mata yang selalu tampak seperti sedang melihat api neraka yang berkobar di balik punggung para jemaah. Suaranya tidak pernah datar; ia adalah seorang ahli retorika yang tahu kapan harus berbisik lirih untuk menciptakan kengerian, dan kapan harus meledak dengan teriakan yang membuat jantung serasa copot.


​Kajian dimulai tanpa basa-basi yang menyegarkan. Setelah hamdalah yang diucapkan dengan nada berat, Ustaz Ghafur langsung melompat ke inti masalah tentang kengerian alam kubur.


​"Hadirin sekalian, janganlah kalian tertipu oleh indahnya dunia yang fana ini!" teriak Ustaz Ghafur. Tangannya menunjuk-nunjuk ke langit-langit aula, urat lehernya menegang parah. "Di luar sana, dosa-dosa sedang bersolek, menunggu kalian tergelincir! Dan ketahuilah, saat napas kalian sampai di tenggorokan, tidak ada lagi tobat yang diterima!"


​Arga menelan ludah. Ia sudah mendengar ceramah tema ini ratusan kali, namun setiap kali, penceramah di lingkungan ayahnya selalu berhasil menyajikannya dengan "bumbu" ketegangan yang baru. Narasi yang dibangun bukan tentang kerinduan seorang hamba kepada Sang Pencipta, melainkan tentang ketakutan seorang tahanan yang menunggu dieksekusi oleh hakim yang paling kejam.


​"Bayangkan!" Suara Ustaz Ghafur tiba-tiba merosot menjadi bisikan yang parau, menciptakan keheningan yang menyiksa di aula itu. Bahkan suara AC pun seolah takut untuk berembun. "Saat tubuh kalian sudah terbujur kaku di liang lahat yang sempit dan gelap. Saat keluarga kalian pergi meninggalkan kalian, suara langkah kaki mereka menjauh, dan kalian hanya sendirian. Saat itulah... datang dua malaikat yang tidak kenal belas kasihan!"


​Ustaz Ghafur menjeda kalimatnya untuk memberikan efek dramatis. Arga bisa merasakan paman di sebelahnya mulai gemetar pelan, jari-jarinya sibuk memainkan butiran tasbih dengan kecepatan yang tidak wajar.


Lihat selengkapnya