Bab 3: Ritual Tanpa Makna
Lampu-lampu gantung kristal di ruang tengah kediaman Wiryadinata telah menyala, memantulkan cahaya kuning keemasan yang pecah seribu di atas permukaan furnitur yang dipoles minyak kayu cendana. Magrib baru saja lewat, namun ritual di rumah ini belum benar-benar usai. Bagi Arga, beribadah di bawah atap ini bukan sekadar urusan hamba dengan Penciptanya; itu adalah sebuah koreografi militer yang dibalut jubah kesalehan. Segala sesuatu—mulai dari posisi jempol kaki saat sujud hingga sudut kemiringan kepala saat salam—memiliki standar operasional prosedur yang tidak boleh diganggu gugat.
Malam itu, setelah salat jemaah keluarga di musala pribadi mereka, Ayah memanggil Arga ke ruang kerja. Ruangan itu adalah "takhta" kedua Ayah setelah mimbar yayasan. Di sana, deretan kitab-kitab bersampul tebal berbaris seperti tentara yang siap menghakimi siapa saja yang lewat. Ayah duduk di balik meja mahogani besarnya, sementara Arga duduk di kursi kayu tanpa sandaran di depannya—sebuah posisi yang secara psikologis memang dirancang agar si lawan bicara merasa tidak stabil.
"Aku perhatikan saat salat tadi, Arga," Ayah memulai pembicaraan tanpa basa-basi, suaranya berat dan berwibawa, seolah gema dari teriakan Ustaz Ghafur di masjid tadi sore masih menempel di pita suaranya. "Gerakan takbiratulihram-mu sedikit terlalu rendah. Jari-jarimu tidak sejajar dengan telinga. Kau tahu apa artinya itu?"
Arga menarik napas pendek, mencoba menahan rasa panas yang merayap di tengkuknya. "Hanya selisih beberapa sentimeter, Yah. Saya merasa itu posisi yang paling nyaman bagi bahu saya."
Ayah menggebrak meja, tidak keras, namun cukup untuk membuat pulpen emas di atasnya bergetar. "Nyaman? Sejak kapan ibadah mengikuti apa yang menurutmu nyaman? Ibadah itu tentang kepatuhan total pada bentuk! Jika bentuknya cacat, maka esensinya runtuh. Bagaimana Tuhan bisa menerima salatmu jika kau bahkan tidak bisa mengatur letak tanganmu sendiri sesuai tuntunan yang benar?"
Arga menatap ujung kakinya yang dirapatkan. Pertanyaan yang sejak sore tadi mengendap di dasar kepalanya mulai meluap. Ia merasa lelah menjadi robot yang hanya mengejar kesempurnaan fisik tanpa pernah tahu mengapa ia harus melakukannya.
"Yah, saya hanya ingin memahami sesuatu," suara Arga terdengar sedikit lebih tinggi dari biasanya, sebuah keberanian yang jarang ia tunjukkan. "Mengapa kita menghabiskan waktu berjam-jam membahas panjang pendeknya kain sarung di atas mata kaki, atau berapa derajat jempol kaki harus ditekuk, tapi kita jarang sekali bicara tentang apa yang seharusnya dirasakan oleh jiwa saat semua itu dilakukan? Apakah Tuhan benar-benar hanya melihat ukuran di tubuh kita, bukan getaran di hati kita?"
Suasana ruangan itu mendadak menjadi sangat dingin. Udara seolah membeku di antara mereka berdua. Ayah menatap Arga dengan sorot mata yang sulit diartikan—antara terkejut dan marah yang tertahan.